
“Hy guys” sapa Lina pada teman-teman di ruangan dengan senyum centilnya.
“Mulai deh” tegurku.
“Hy juga” jawab teman-teman.
“Syam Lin, tugas kalian mana? Bu Susi nyuruh ngumpulin memang sebelum dia masuk” ucap Andra sang ketua angkatan sambil mendekati kami.
“Ok Ndra” ucap kami bersamaan sambil menyerahkan tugas final yang sedari tadi bertengker di tangan manis kami.
“Ok. Oh ya Syam, kamu makin cantik aja” puji Andra.
“Hah, bisa aja lo Ndra. Udah ah aku mau duduk dulu” ucapku mengalihkan pembicaraan Andra dan berlalu pergi menju kursi tempat yang ingin aku duduki.
“Ciyeeeh, uuhhhuii. Oh ya Syam, kamu makin cantik aja” ledek Lina dengan mengulangi ucapan Andra.
“Apa sih lo” judesku.
“Lagian lo sih, semua orang sudah tau kali. Kalau si Andra naksir lo” sebal Lina.
“Huh, uda deh. Mending lo duduk. Keburu bu Susi datang” jawabku.
**
Setelah mata kuliah selesai kami memutuskan keluar ruangan.
“Wah-wah, bu Susi keasikan cerita. Sekarang sudah hampir jam dua belas lagi. Harusnya kan kita cepat keluar tadi. Lagian kan mata kuliah sudah selesai tinggal ngumpulin tugas saja. Trus kenapa coba dia pake ceramah sgala” cerewet Lina.
“Iya sih Lin, harusnya kan kita cepat keluar. Kitakan sisa ngumpulin tugas final. Ujian finalnya juga sudah selesai” jawabku menambahi Lina.
“Tapi daripada kita marah-marah ngga jelas gini, mending kita jalan deh takutnya tante Rini dan om Hendra sudah nungguiin” tambahku.
Tidak berapa lama ponselkupun berbunyi. Dan itu adalah tante Rini, aku langsung memutuskan untuk mengangkatnya.
“Hallo, assalamualaikum tante” ucapku membuka percakapan.
“Walaikumussalam Syam. Kamu dimana sayang?” Tanya tante Rini lembut.
“Ini Syam lagi di kampus tant” jawabku.
“Oh ok Syam. Tante juga lagi di rumah sakit, jadi sekalian ketemu di resto saja yah. Nanti tante berangkat sama om” jelas tante Rini.
“Baik tant. Oh ya tan, tapi aku ajak Lina nih” ucapku.
__ADS_1
“Lina temanmu yang ceplas-ceplos itu kan? Ajak aja sudah lama juga tante ngga ketemu dia, heheh” terang tante Rini.
“Ok tant. Kalau gitu kita akan jalan skarang, assalamualaikum” ucapku menutup percakapan.
Setelah memutus percakapan antara aku dan tante Rini. Aku dan Lina segera menuju ke parkiran tempat kendaraan kami berada.
“Oh ya Lin, sebelum ke resto kita mampir apartemenku dulu yah?” ucapku pada Lina.
“Emang mau ngapain Syam?” Tanya Lina bingung.
“Mau singgahkan motor, supaya ke resto kita barengan aja” tuturku.
“Ya udah deh, lagian kan resto yang kita tuju melewati apartemenmu” jawab Lina.
“Ok deh” setujuku.
Setelah perjalanan yang cukup lama, karena macet akhirnya kami sampai juga di resto. Ini adalah salah satu restoran mewah milik tante Rini.
“Syam, sini sayang” teriak tante Rini dengan melambaikan tangannya yang melihatku dan Lina yang memasuki restoran dengan bingung.
“Syam, itu camer lo” ucap lina sambil menunjuk kearah tante Rini dan om Hendra.
“Ya udah, kita ke sana yuk” ajakku pada Lina dan Lina hanya menurut.
“Walaikumussalam” jawab tante Rini dan om Hendra bersamaan.
“Ayo duduk! Oh ya kalian mau pesan apa? Om sama tante sudah pesan tadi” ucap tante Rini. Dan aku sama Lina langsung duduk.
“Oh ya om, ini teman Syam. Namanya Lina” ucapku memperkenalkan Lina.
“Oh iya, teman kamu cantik juga Syam. Kalian sangat cocok jalan bareng, sama-sama cantik” puji om Hendra.
“Om bisa aja” ucap Lina malu-malu.
“Kalian teman kuliah?” Tanya om Hendra, dan kami mengangguk bersamaan.
“Berarti Lina juga kenal Ryan” Tanya kembali om Hendra.
“Yah kenal lah om, kak Ryan kan senior paling tampan. Syam aja yang hatinya batu gitu bisa klepek-klepek sama kak Ryan” tutur Lina panjang lebar.
“Opssss, sory Syam” kaget Lina ketika tersadar karena aku sudah melototinya. Tapi nasi telah menjadi bubur, mereka sudah mendengar jelas apa yang di ucapkan Lina.
“Emang iya ya Syam, kamu naksir Ryan?” Tanya tante Rini dengan senyum kemenangan yang tak sengaja mendengar percakapan mereka saat dari toilet. Sedangkan om Hendra hanya tersenyum melihatku yang salah tingkah.
__ADS_1
“Ah, ngga kok tant. Akuuu” elakku kaku.
“Hm hm, pantas saja kamu selalu saja semangat kalau tante cerita tentang Ryan” tambah tante Rini lagi. Dan aku hanya tertunduk malu sementara Lina merasa bersalah juga bercampur senang dengan tanggapan orang tua Ryan.
“Ngga papa kok Syam. Om sama tante malah senang kalau yang menyukai Ryan adalah orang seperti kamu” tambah lagi om Hendra masih dengan senyumnya.
“Tapi om, Syam mohon ya. Jangan bilang sama Ryan, aku malu om tant” pintaku masih dengan rona malu di wajahku. Kalau saat itu aku bisa menghilang, mungkin aku akan menghilang sedari tadi.
“Hahahah, ok ok. Kamu tenang aja. Tapi om dan tante akan tetap dukung kamu kok. Semangat Syam” ucap tante Rini masih dengan senyumnya.
“Lagian si Ryan kayanya juga naksir sama kamu Syam” tebak om Hendra.
“Emang iya? Sejak kapan? Kok om tahu?” tanyaku antusias seolah lupa rasa malu baru-baru.
“Ciiiyeeeehhh, ada yang kepo nih” ejek Lina dan tante Rini, yang membuatku kembali menunduk.
“Ngga jadi deh om” ucapku lagi.
“Om juga ngga tau sih Syam. Hanya menebak saja” ucap om Hendra cengegesan sambil melahap makanannya.
“Yahhhh” ucapku kecewa.
Setelah menyelesaikan makan siang kami, om Hendra izin untuk pamit pulang duluan karena ada pasien di rumah sakit. Namun sebelum dia menjauh, tidak lupa berbalik kearah kami bertiga.
“Oh ya Syam, kamu ngga mau nomor Ryan?” ejek om Hendra dan aku hanya menggeleng keras.
“Oh ok, nanti kalau kamu mau tinggal hubungi om atau minta sama calon mama mertuamu” ejek om Hendra penuh kemenangan sambil menunjuk istrinya.
“Mending papah jalan deh. Ngga usah gangguin Syam” bentak mama yang sudah mulai geram dengan sikap suaminya yang terus menggangguku.
“Ya udah deh, papa pergi dulu. Mama jangan terlalu kecapean!” perintah om Hendra pada istrinya.
Setelah om Hendra pergi kami bertiga segera menuju salah satu mol mewah di Jakarta, tempat dimana biasa aku dan tante Rini pergi. Sebenarnya aku dan Lina ingin langsung pulang saja. Tapi tante Rini memaksa. Ya sudah kami menurut saja.
“Ok kita sudah sampai” ucap Lina menghentikan mobilnya dan masih dengan gaya khasnya yang centil. Aku dan tante Rini hanya tersenyum menanggapi.
“Trus kita kebagian mana nih?” Tanya tante Rini ketika memasuki mol.
“Terserah tante saja” jawabku.
“Kita ke toko tas dulu tant, kebetulan aku lihat tas yang cantik kemarin. Hanya saja aku ngga sempat bli karna nyokap lagi buru-buru” ucap Lina dengan bibir manyum mengingat kemarin tidak sempat membeli sebuah tas cantik kesukaanya.
“Ya sudah, kita kesana” ajak tante Rini semangat.
__ADS_1
Tidak butuh beberapa menit kami sudah memegang tas belanjaan masing-masing yang berisi tas cantik. Dan Lina terlihat sangat senang karena tas yang dia inginkan akhirnya dimilikinya. Ditambah lagi hari ini kami kembali dibelanjakan oleh tante Rini.