Si Tampan Gunung Es

Si Tampan Gunung Es
38


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, kami bersantai di ruang keluarga Ryan. Ada begitu banyak hal yang mereka bahas.


“Syam Ryan , kami sudah sepakat akan menjodohkan kalian” tutur om Hendra lembut tapi serius. Aku dan Ryan yang sedang asyik makan buah, dibuat keselek dengan perkataan om Hendra.


“UKhhuk”


“Kalian ngga paapa sayang?” Tanya para orang tua khawatir.


“Apa maksud papa? Kenapa ngejodohin aku, tapi ngga bilang-bilang?” marah Ryan. Sedangkan aku hanya memandang ibu dan ayahku, seolah meminta penjelasan dari semua ini. Meskipun aku menyukai Ryan tapi menjodohkan tampa memberi tahu seperti ini rasanya aku juga tidak terima, apalagi Ryan?


“Sayang, selama ini papah ngga penah menyuruh kamu dalam hal buruk kan? Sama halnya dengan perjodohan ini. Syam adalah satu-satunya wanita yang tepat untuk kamu” jelas om Hendra lembut.


“Tapi pah, aku ngga mau” ucap Ryan.


“Deg” mendengar Ryan yang menolak mentah-mentah perjodohan ini membuatku merasa sesak. Bagaimana mungkin dia menolak tampa berpikir dahulu, apa aku seburuk itu? Pikirku. Jika Ryan menolak maka tidak ada alasan untuk aku bertahan.


“Yah, aku juga ngga setuju. Lagian aku juga masih kuliah” jawabku.


“Tidak ada tapi-tapi, minggu depan kalian akan tunangan” jawab om Hendra.


“Apa? Minggu depan? Lusa kan Ryan akan kembali ke inggris pah” elak Ryan lagi.


“Kalau gitu besok saja pertunangannya, kebetulan keluarga Syam ada di sini” jawab om Hendra.


“Bagaimana pak Bradir?” lanjut om Hendra yang bertanya pada ayah.


“Kalau kami, mana baiknya saja pak Hendra” ucap ayah sambil melihatku yang penuh dengan pertanyaan.


“Trus pernikahannya kapan pah?” Tanya tante Rini antusias.


“Tunggu Ryan menyelesaikan studinya, supaya sekalian Syam juga menyelesaikan sarjana kedokterannya” jelas om Hendra lagi.


Aku dan Ryan terpaksa menurut. Meski Ryan begitu marah, tapi Ryan tidak membantah lagi perkataan orang tuanya. Seolah dia tahu betul, bahwa membantah orang tuanya adalah hal yang hanya membuang waktu.


“Kalau gitu kami permisi pulang dulu pak Hendra, ini sudah larut malam” izin ayah pada keluarga Ryan.


“Ah, iya pak Bradir. Jadi kesimpulannya, besok malam akan dilaksanakan pertunangan. Dan yang jadi tamu hanya keluarga besar saja. Juga sahabat dekat Ryan dan Syam” jelas om Hendra.


“Baiklah, jika itu yang terbaik” jawab Ayah.

__ADS_1


Mendengar perkataan om Hendra, membuat ibu dan tante Rini begitu bahagia.


“Selamat yah sayang” ucap tante Rini, dan aku hanya tersenyum kecut lalu melirik Ryan yang sedang memendam kemarahan.


“Biar Ryan yang antar kalian” ucap om Hendra.


“Ryan kamu antar calon istri kamu dan calon mertuamu, ini sudah terlalu malam” perintah om Hendra pada anaknya, yang terpaksa dituruti oleh Ryan.


“Iya pah” ucap Ryan dan berjalan keluar yang diikuti oleh kami.


**


“Nak Ryan masih lama KOAS nya?” Tanya ibu memecah keheningan di dalam mobil mewah yang dikemudikan Ryan. Aku yang penasaran sontak melihat ke arah Ryan yang duduk menyetir di sebelahku.


“Ah, insya Allah satu kali ujian lagi tant” jawab Ryan.


“Waw, cepat juga” gumanku yang masih terdengar oleh Ryan, namun dia memilih tidak menanggapi. Mungkin karena suasana hatinya sedang tidak di posisi ingin bertengkar.


“Jadi rencanya mau tetap di inggris atau balik ke sini?” Tanya ayah.


“Rencananya mau balik ke sini dulu om. Tapi ngga tau nantinya gimana” tutur Ryan. Sambil melirikku dan menepikan mobil ketika kami sampai gedung apartemenku. Aku yang melihatnya lansung tertunduk.


**


“Apa ini yang terbaik yah? Tapi bagaimana dengan Ryan yang belum bisa menerimaku? Bagaimana mungkin aku menikah dengan seseorang yang tidak mencintaku? Jangankan cinta, akur saja tidak. Bertemu dengannya selalu saja kami bertengkar. Oh Tuhaannn. Dia benar-benar membuatku pusing” gumanku saat berputar-putar di atas ranjangku.


**


Segala persiapan sedang berlangsung di kediaman keluarga Ryan, yang memang pertunangan akan di langsungkan di rumah Ryan. Meski pertunangan kami hanya akan dihadiri keluarga dekat saja, tetap saja tante Rini antusias menyiapakan pertungan mewah ini.


“Sayang. Kamu lama banget sih? Kasian nanti Syam menunggu” teriak Tante Rini dari lantai bawah.


Hari ini memang aku dan Ryan akan ke butik langganan tante Rini dan juga kenalan mama sesama desainer, untuk mengambil pesanan baju pertunangan kami. Ternyata, tampa sepengetahuan kami, kedua ibu-ibu itu sudah merencanakan semuanya.


“Iya mah, ini juga sudah selesai” jawab Ryan sembari menuruni anak tangga.


“Ya sudah kamu jalan skarang, kasian tuh menantu mama kelamaan menunggu” Goda tante Rini pada anaknya, sontak membuat Ryan bergidik ngeri.


**

__ADS_1


“Ting tong”


“Bu, tolong bukain dulu pintu! Mungkin itu Ryan” teriakku dari dalam kamar ketika mendengar bunyi bel apartemenku.


“Iya sayang. kamu juga buruan” jawab ibu yang kebetulan saat itu dia sedang bersantai di ruang tengah apartemenku.


“Assalamualaikum tant” ucap Ryan sopan saat ibu membuka pintu.


“Walaikumussalam sayang. ayo masuk, Syam juga bentar lagi selesai” ajak ibu.


“Mah” panggilku saat ibu dan Ryan masih di depan pintu.


“Eh, itu dia orangnya” ucap ibu saat melihatku.


“Kalau gitu, kita langsung jalan saja tant” izin Ryan yang disetujui oleh ibu. Kami pun segera keluar apartemen tampa lupa mencium tangan ibu.


“Pasti skarang lo senang kan?” ucap Ryan dengan ekspresi dinginnya tampa sedikit pun menoleh ke arahku yang duduk disebelahnya.


“Maksud lo apa sih?” ucapku dengan ekspresi bingung smabil mengerutkan kedua keningku.


“Ini pasti rencana lo, pasti lo yang ngehasut keluarga gue supaya ngejodohin gue sama lo” ucap Ryan lagi.


“Deg”


“Apa-apan sih lo. Gue aja baru tau tadi malam, sama kaya lo. Bagaimana ceritanya gue rencanain?” bantahku lagi yang mulai sebal.


“Lo ngga usah ngelak deh” ucap Ryan lagi, dan aku hanya memilih diam saja dengan ekspresi yang begitu jengkel.


..


“Lo mau tinggal di mobil?” jutek Ryan yang saat ini sudah keluar dari mobil. Aku yang sadar akan itu, langsung keluar dari mobil.


“Jutek bangat sih jadi cowok, ngga bisa apa senyum ramah sedikit. Untung ganteng” gerutuku.


“Gue memang ganteng, ngga usah muji mulu. Ntar lo naksir lagi” ucap Ryan yang berjalan disampinku dengan ekspresi datar.


“Bagaima dia bisa mengucapkan hal-hal semacam itu tampa ekspresi? Dasar aneh” pikirku yang memandanginya bingung.


“Sekalipun lo liatin sampai ribuan kali, wajah gue tetap ganteng kali. Ngga usah syok gitu” ucapnya datar sambil berjalan dengan gaya so coolnya.

__ADS_1


__ADS_2