
Kini tersisa aku, Lina dan tante Rini di dalam ruangan, sedangkan om Hendra sedang ke luar mencari makan. Saat kami sedang sibuk berbincang di ruang rawat tante Rini, tiba-tiba Ryan masuk dengan wajah yang marah. Memang seharian ini dia sibuk mencari tahu alasan mamahnya jatuh sakit sampai separah ini. Walau biasanya mamahnya memang sering sakit, tapi ini adalah yang paling parah dari biasanya. Setelah mencari tahu penyebabnya, akhirnya dia mengetahui dari bi Rumi dan pegawai mamanya di resto. Bahwa akhir-akhir ini tante Rini memang sibuk mengajariku memasak. Mengetahui semua itu Ryan terburu-buru ke rumah sakit untuk meminta penjelasan pada mamahnya secara langsung. Namun dia bertmbah marah ketika mendapatiku di dalam ruangan itu.
“Ngapain lo di sini?” marah Ryan sambil melototkan matanya padaku. Aku yang melihat Ryan marah, hanya tertunduk ketakutan.
“Sayang, kamu kenapa sih. Ngga sopan tahu” tegur tante Rini.
“Mama ngga usah belain dia. Sekarang aku sudah tau kenapa mama sampai kecapean. Pasti cewek ini memaksa mama untuk mengajarinya memasak kan?” tambah Ryan yang masih dengan emosinya.
“Ryan, kamu apa-apaan sih. Ini bukan salah Syam. Kamu salah paham” ucap tante Rini lagi.
“Salah paham apa mah? Dari awal aku memang curiga, pasti cewek ini ada maunya dekatin mamah” ucap Ryan lagi. Dan tampa sengaja aku yang tertunduk meneteskan air mata. Sedangkan Lina sibuk menenangkanku.
“Bukankah aku selalu menekankan, kalau mama ngga boleh kecapean? Kenapa juga dia harus minta mama ajarin dia” lanjut Ryan lagi.
Aku yang tak kuasa mendengar penghinaan Ryan langsung berlari keluar, yang di susul oleh Lina.
“Ryan” bentak tante Rini. Yang kini tersisa mereka berdua di dalam ruangan itu.
“Sejak kapan kamu jadi pemarah seperti ini sih? Mama kan sudah bilang kalau kamu salah paham” ucap tante Rini sedih.
“Tapi mah” elak Ryan.
“Bukan Syam kok yang minta diajarin masak. Tapi mama yang maksa dia. Karna mama bosan kalau harus di rumah terus-terusan tampa ada kegiatan” jelas tante Rini.
“Tapi mah, harusnya dia menolak. Aku kan sering bilang kalau mama ngga boleh kecapean. Apa dia bodoh?” jawab Ryan lagi.
“Pokoknya kamu harus minta maaf pada Syam” perintah tante Rini.
“Aku ngga mau mah” jawab Ryan.
“Pokoknya harus” ucap Tantte Rini.
“Ada apa sih ini” Tanya om Hendra saat memasuki ruangan.
“Ini pah. Tadi Ryan marah sama Syam. Sampai Syam menangis dan pergi” jelas tante Ryan.
“Ko bisa? Emang Syam salah apa?” Tanya om Hendra bingung.
__ADS_1
“Ryan mengira kalau Syam yang minta agar mama mengajarinya memasak, sampe mama jadi kecapean gini” jelas tante Rini lagi, sedangkan Ryan hanya diam.
“Trus, kamu kenapa ngga kejar Syam Ryan? Sekarang kamu kejar dia dan minta maaf” perintah om Hendra yang terpaksa dituruti oleh Ryan.
**
Aku dan Lina sedang duduk di taman rumah sakit. Sedari tadi Lina menenangkanku yang masih merasa sedih karena perkataan Ryan. Tiba-tiba saja Ryan mengagetkan kami dari belakang.
“Jangan harap lo bisa gue maafin” ucap Ryan.
“Kak Ryan apa-apaan sih. Itu bukan salah Syam. Tante Rini yng selalu maksa Syam untuk nemanin dia” ucap Lina yang sudah mulai geram dengan Ryan.
“Kalian pikir saya akan percaya omong kosong itu?” bentak Ryan.
“Ya sudah kalau gitu ngapain kak Ryan ke sini. Bikin suasana tambah buruk saja” jawab Lina lagi.
“Kalau bukan karna terpaksa, gue ngga akan kesini juga” ucap Ryan dengan wajah yang menjengkelkan. Aku dan Lina hanya bingung dengan ucapan Ryan itu.
“Awas memang kalau lo ngadu sama mama papah gue” tambah Ryan lalu berlalu pergi.
“Kenapa Ryan ngga percaya banget sih sama gue Lin” ucapku masih dalam keadaan menangis.
“Udah deh Syam. Ngapain sih lo tangisin cowok ngga berperasaan kaya dia. Buang-buang tenaga tau ngga” sebal Lina.
“Tapi Lin, rasanya sakit banget saat Ryan ngatain gue” ucapku lagi.
“Mending kita balik skarang deh Syam. Ngga ada gunanya kita di sini. Mending kita balik trus istrahat” ajak Lina yang aku balas dengan anggukan.
Setelah beberapa menit berkendara akhirnya kami sampai juga di depan gedung apartemenku.
“Oh ya Syam, gue balik dulu yah. Soalnya sudah malam. Nanti gue hubungin lo” ucap Lina saat gue turun dari mobilnya.
“Iya Lin. Makasih ya. Maaf ngerepotin” ucapku.
“Ngga masalah. Oh ya. Lo ngga usah mikirin perkataan Ryan lagi yah” ucap Lina.
“Huum” jawabku singkat.
__ADS_1
“Ya udah. Gue balik sekarang. By” ucap Lina dan melajukan mobil sport miliknya.
Karena Lina sudah berlalu pergi. Aku langung masuk apartemen dengan wajah yang masih sembab. Segera ku bersihkan diriku lalu mengerjakan solat magrib. Setelah selesai solat, aku meraih tasbih pautih yang sama dengan yang keberikan pada Ryan. Sebenarnya saat aku membeli tasbih itu, aku sengaja membeli dua. Kupikir aku akan mengingat dia saat melihat tasbih ini. Tapi saat ini yang ku ingat tentang dia hanyalah kata-katanya yang begitu menyayat hatiku.
Ku ambil tasbih itu dan berzikir mengingat Allah. Aku berharap bisa segera melupakan semua ucapan Ryan tadi. Ku ulang-ulang zikirku sambil meneteskan air mata. Mungkin salahku karena terlalu mencintainya, hingga kata-kata yang tidak seberapa kasar bagi orang lain, terasa seperti pisau yang menyayat bagiku.
Saat aku masih sementara berzikir, kudengar ponselku berbunyi. Dan ternyata itu adalah ayah. Segera ku ankat telpon ayah, karena tidak ingin membuatnya menunggu.
“Hallo, assalamualaikum yah” ucapku membuka percakapan kami.
“Walaikumussalam nak. Kamu sedang apa?” Tanya ayah.
“Aku baru selesai solat yah” jawabku.
“Kamu kenapa nak, suaramu serak begitu. Kamu sakit?” Tanya ayah khawatir.
“Ngga kok yah. Aku baik-baik saja. Ibu mana yah?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Hallo sayang” Tanya ibu.
“Iya bu. Bagaiman kabar ibu?” tanyaku.
“Kami baik sayang” jawab ibu.
“Kamu lagi ada masalah yah sayang? Coba cerita ke ibu!” ucap ibu lemah lembut.
Ibu memang paling mengerti aku. Jadi aku selalu menceritakan apapun padanya. Dan percuma juga aku menyembunyikan sesuatu darinya, pada akhirnya dia juga pasti akan tahu.
“Ibu ingat kan tante Rini sam om Hendra yang sering aku ceritain. Jadi tante Rini masuk rumah sakit beberapa hari lalu” jelasku pada ibu.
“Astaghfirullah. Jadi bagaimana keadaan tante Rini skarang?” Tanya ibu khawatir.
“Dia skarang sudah membaik bu” jawabku.
“Tapi kok kamu masih sedih gitu. Ada apa sebenarnya nak?” Tanya ibu khawatir.
Karena ibu terus bertanya, aku langsung memutuskan menceritakan keadian tadi sore. Dan ibu memberi nasehat dan menyuruhku bersabar saja. Mungkin Ryan butuh waktu untuk mengerti. Itulah pikiran ibu saat ini. Ibu memang orang yang sangat baik.
__ADS_1