Si Tampan Gunung Es

Si Tampan Gunung Es
45


__ADS_3

“Ran, mereka terlihat serasi yah?” ucap tante Rini pada ibu saat melihat aku dan Ryan sedang sibuk membakar daging, yah walaupun sebenarnya gue hanya menemani Ryan sih, itupun atas perintah tante Rini. Hari ini kami memang mengadakan acara barbeque untuk perayaan kelulusanku dan kepulangan Ryan.


“Iya Rin. Aku sangat bahagia skarang. Skarang Syam sudah ada yang menjaganya. Dan aku percaya pada anakmu” ucap ibu sambil menyiapkan makanan.


“Syam bantu aku” ucap Lina masih sementara menusuk sayuran di tusuk sate.


“Iya Lin. Gue harus bantu apa?” tanyaku ketika mendekat Lina.


“Tolong bawain ini ke kak Ryan, supaya di bakar” ucap Lina sambil menyodorkan sepiring sayuran siap bakar.


“Ok bos” jawabku berlagak menghormat pada Lina, sedangkan Lina hanya tersenyum melihatnya yang bahagia malam ini. Tentu saja aku bahagia, selain karna wisudah. Yah karna hadirnya Ryan di sini.


“Yan, skalian bakarin ini” ucapku sambil menyodorkan sepiring sayuran dari Lina.


“Enak aja. Bakar aja sendiri. Lagian lo belum ngerjain apa-apa dari tadi” ucap Ryan.


“Hih dasar tidak peka” kesalku dan langsung membakar sayuran itu disamping Ryan.


“AAWW” teriakku ketika tak sengaja salah satu jariku meyentuh alat pembakar yang panas itu.


Sontak Ryan meraih jariku yang terkena alat pembakar itu.


“Lo ceroboh bangat sih. Gini aja ngga bisa” cerewet Rendi saat meraih tanganku lalu mengguyurnya dengan air secara pelan.


“Masih sakit?” Tanya Ryan khawatir.


“Hum” ucapku menganggukan kepala namun dengan ekspresi tersenyum, sontak membuat Ryan heran.


“Dasar bodoh. Sejak kapan orang kesakitan malah senyum-senyum. Lo mikir aneh-aneh ya?” tebak Rendi yang sontak membuatku menggeleng kepala. Sedangkan para orang tua dan Lina yang sejak tadi memperhatikan kami, merasa kagum dengan perhatian Ryan.


“Dasar. Sudah-sudah, lo duduk saja sama papah dan ayah” perintah Ryan sambil menoleh ke arah ayah dan papahnya. Sednagkan aku hanya menurut saja.


“Ciyyeeeh, uhhui. Ada yang bahagia rupanya” goda Lina.


“Ngiri aja lo” ucapku ngasal.


“Iya nih. Mending kamu cari jodoh juga deh Lin” goda tante Rini.


“Iya nih, mending kamu cari jodoh deh sayang. supaya ngga gangguin Syam mulu” ucap ibu.


“Mami, mending mami carikan deh. Yang ganteng kaya kak Ryan. Tapi jangn yang dingin mam. Aku sangat benci pada cowok dingin” ucap Lina manja.


“Jadi lo benci sama gue Lin?” Tanya Ryan yang baru datang dengan nampan yang berisi makanan hail bakarannya tadi.


“Ah, nggak kok kak. Wajah tampan kak Ryan terkecuali untuk hal itu” ucap Lina cengengesan.


“Awas ya loh” kesalku.

__ADS_1


“Uhhui, ada yang cemburu nih” goda Lina lagi yang diikuti oleh senyum semua orang di sini.


“Mending kita makan skarang, keburu dingin nih” ajak Ryan karena melihatku yang diborongi sama yang lain.


“Iya nih. Kasian Syam” ucap ayah dan om Hendra bersamaan.


“Ayo” ajak Ryan dengan menarik tanganku untuk duduk disampinnya.


“Nih makan” ucap Ryan lagi sambil menyodorkan piring. Sedangkan aku masih terpaku dengan perhatiannya, meski ekspresinya begitu datar.


“Oi lo mau makan apa mau ngayal sih?” ketus Ryan lagi.


“Iya iya, gue mau makan. Judes bangat jadi cowok” jawabku tak kalah jutek.


Sedangkan yang lain hanya menggelengkan kepala, melihat kami yang terus-terusan berdebat.


“Kalian ini, baru tadi terlihat akur. Eh skarang sudah berdebat lagi” ucap ayah menengahi.


“Dasar kalian ini. Bagaimana nanti kalau kalian menikah, jika berdebat terus begini” ucap ibu menmbahi.


“Ukhuk” aku dan Ryan sontak keselak mendengan ucapan ibu. Rasanya aneh mendengar kata pernikahan.


“Kalian kenapa?” ucap Lina pura-pura polos.


“Benar-benar kau yah Lin” geramku saat mendengar pertanyaan Lina yang pura-pura lugu.


Sedangkan Ryan malah kembali melahap makanannya tampa menghiraukan ejekkan mereka. Aku juga memilih untuk melanjutkan makananku yang sempat tertunda.


***


Kini aku sedang memandangi kotak kecil yang berbentuk persegi dengan bungkus berwarna pink. Sungguh terlihat sangat cantik. Kotak itu adalah pemberian Ryan kemarin malam yang belum sempat aku buka karna begitu sibuk dengan urusanku sendiri.


Flassback on


“Syam” panggil Ryan ketika aku hendak meninggalkan Ryan untuk mengikuti ayah dan ibu masuk keapartemenku.


“Apa?” jawabku santai.


“Oh ya, lo belum minta maaf ke gue” ucapku menghakimi Ryan.


“Untuk?” ucap Ryan bingun sambil mnegerutkan kedua keningnya.


“Dasar tidak peka. Kemarin lo ngga ngabarin gue seminggu lebih tau. Emang lo pikir itu wajar?” kesalku.


“Ahahhahah. Kenapa, lo kangen sama tunangan tampan lo ini?” ejek Ryan yang tambah membuatku naik darah.


“Tenagn aja, gue bukan tipe orang selingkuh kok. Hahhah” lanjutnya lagi.

__ADS_1


“Lo jadi cowok, narsis bangat sih. Ya udah gue masuk skarang” lanjutku masih dengan wajah kesal.


“Tunggu” ucap Ryan sambil meraih tanganku lalu memberikan sebuah kotak berwarna pink yang begitu cantik.


“Maaf. Kemarin gue sibuk urus segala perlengkapan untuk pindah ke Indo” ucap Ryan yang masih menggenngam tangankku.


“Lo kebiasaan. Selalu ngga ngasi kabar. Gue kan khawatir” ucapku keceplosan.


“Jadi benar, lo khawatir sama gue?” selidik Ryan.


“Ngga, lo salah dengar. Tapi ini apa?” tanyaku melihat kotak kecil itu.


“Bukan apa-apa kok. Hanya barang sampah” ucap Ryan ngasal.


“Trus kalau sampah, ngapain lo ngasih ke gue?” kesalku yang kecewa dengan jawaban Ryan. Bisa-bisanya dia memberiku sampah. Emang dia pikir aku tong sampah.


“Astaga, lo percaya? Mana mungkin gue kasih calon istri gue sampah? Ada-ada aja lo” ucap Ryan sambil mengelus kepalaku yang tertutup kerudung.


“Mending masuk deh, udah larut nih. Nanti di cariin om sama tante lagi. Takutnya mereka pikir gue nyulik lo” ucap Ryan.


“Ok. Gue masuk skarang. Makasih hadiahnya. Good night” ucapku dengan senyum bahagia.


“Good night…. Calon istri” ucap Ryan yang sontak membuatku malu dan kaget, lalu berjalan masuk dengan wajah yang merah merona.


Flassback off


Karena begitu penasaran dengan isi kotaknya, aku memutuskan untuk segera membukanya. Sontak mataku membulat melihat isi dari kotak itu. Sebuah jam tangan berwarna putih yang simpel namun tetap terlihat mewah dan cantik. Benar-benar sesuai dengan seleraku.


“Ohhh, jadi skarang dia sudah tau seleraku. Hebat juga” gumanku memandangi jam tangan cantik itu.


“Ting”


“Lo sudah tidur” tiba-tiba masuk sebuah chat dari Ryan.


"Blum" jawabku singkat.


"Kenapa?" lanjutku.


"Gue hanya memastikan. Kalau gitu lo buruan tidur. Ini sudah larut malam"


perintahnya.


"Ok. Night" balasku lalu berniat membaringkan badanku di kasur kebanggaanku.


"Mimpi indah sayang❤" balas Ryan yang sontak membuatku melongo dengan muka memerah memperhatikan isi chat tersebut.


"Dasar" gumanku yang merentangkan badanku untuk tidur tampa membalas chat Ryan.

__ADS_1


__ADS_2