Si Tampan Gunung Es

Si Tampan Gunung Es
21


__ADS_3

"Drrtttt drrrttt"


Ponselku berbunyi dan ternyata Lina yang menelponku. Aku langsung berdiri dari duduk manisku.


"Syam jadikan hari ini? Jangan bilang gagal lagi aku sudah bosan tau di rumah dan di kampus doang" cerewet Lina.


"Iya iya jadi" jawabku.


"Ok ok. Kamu siap sip yah, stenga jam lagi gue jemput. By"


Tampa menunggu jawabanku Lina langsung mematikan telponnya.


Tidak untuk menunda waktu. Aku memutuskan untuk segera bersiap. Karena aku tahu betul kalau Lina paling benci menunggu lama. Apalagi kemarin kami sempat gagal untuk keluar. Bukan karena aku sengaja, itu semua terjadi karena aku ada jadwal praktikum dadakan.


****Moll


Aku dan Lina begitu sibuk mencari segala kekurangan kami di mol tersebut. Dan Lina begitu banyak yang dibelinya. Mulai dari sepatu, slok, tas, baju dan hal-hal lain yang mungkin menurutku tidak berfaedah. Tapi yah mau bagaimana lagi, aku sudah tau bagaimana dia. Walaupun aku melarangnnya dia akan tetap bersikeras.


"Syam Syam, kita beli itu yuk. Kita kan belum punya barang yang pasangan"


Ajak Lina sambil menunjuk hood yang berwarna hitam pink itu (hood hitam bertuliskan pink dengan tinta pink begitupun sebaliknya) yang memang identik dengan black pink girl band korea kesukaan kami.


Aku hanya menurutinya saja. Dan tanpa menunda waktu kami langsung mengambil barang itu dan memakainya. Aku mengambil hood hitam dan lina pink. Aku dan Lina memang sedikit berbeda dalam penampilan, dia begitu feminim sedangkan aku sedikit tomboi meski berhijab.

__ADS_1


"CANTIK" Puji pelayan tokonya.


"Emang iya mba?" tanya kami serentak.


"Iya kok, cantik" tiba-tiba saja tante Rini ikut memuji. Memang sedari tadi ternyata dia memperhatikan kami.


Sontak aku dan Lina kaget lalu berbalik mencari sumber suara yang memuji kami.


"Oh tante Rini, sejak kapan tante disini?" Tanyaku bingung. Sementara Lina lebih bingung.


"Kamu kenal Syam?" Tanya Lina.


"Mamanya Ryan, maksud Syam kak Ryan" jawabku sambil mencium tangan tante Rini dan diikuti Lina.


"Hehe, kamu bisa aja. Lagian kata orang-orang Ryan mirip papanya kok, siapa namamu tadi" jawab tante Rini ramah.


"Lina tant" jawabku.


"Oh ya tant, tante disini sama siapa?" Lanjutku.


"Tadi tante diantar Ryan, tapi dia langsung buru-buru pergi"


"Emang Ka Ryan kemana tant?" tanya Lina.

__ADS_1


"Kyanya ngampus sih. Soalnya dia lagi ngejar wisuda" jawab tante Rini.


Aku yang mendengarnya hanya mangguk-mangguk tanda mengerti.


"Pantas saja aku jarang liat dia akhir akhir ini" gumanku.


"Oh ya tant. tante sudah selesai blanjanya atau masih mau lanjut?" tanyaku sopan.


"Tante sudah selesai kok Syam" jawab tante Rini.


"Kalau gitu tante mau makan dulu ngga sama kita?" ajak Lina.


"Boleh juga. Lagian di rumah paling blum ada orang" antusias tante Rini.


Lalu kami bergegas menuju salah satu tempat makan dalam mol itu. Tidak menunggu waktu lama pesanan kami segera mendarat di atas meja dengan indah. Sembari menyantap makanan yang enak itu kami sesekali berbincang dan tertawa ringan.


"Calon mertua lo, ramah banget yah Syam" bisik Lina.


"Apa sih Lin. Ngga sopan tau" jawabku mengacuhkan bisikan Lina.


"Tapi Syam. Wajah dingin si gunung es kesayangan lo di dapat dari mana sih. Padahal mamanya ramah bangat gini" bisik Lina lagi.


"Ryan memang dari sononya dingin seperti es gitu. Apalagi kalau sama cewek. Tapi kalau sama orang yang dia sayang tidak seperti itu kok" jelas tante Rini yang tidak semgaja mendengar kata dingin saat Lina membisikku.

__ADS_1


Aku dan Lina langsung tersenyum kikuk. Kami merasa seperti sedang terciduk. lebih tepatnya memang terciduk. Tapi tante Rini dengan cepat dapat mencairkan suasana kembali.


__ADS_2