Si Tampan Gunung Es

Si Tampan Gunung Es
47


__ADS_3

Di sebuah kamar mewah terlihat Andra yang sedang sibuk mondar-mandir. Hari ini rencananya dia akan mengungkapkan perasaannya padaku, bahkan sebenarnya dia akan melamarku. Namun dia begitu gugup dan bingung bagaimana caranya. Tiba-tiba saja dia terbayang sebuah taman yang sangat indah dan cantik yang tidak jauh dari apartemenku. Dia segera menghubungi para bawahan ayahnya untuk membuat taman itu menjadi suasana romantic, namun tidak begitu mencolok. Hal ini karena Andra tahu betul bahwa aku tidak menyukai hal-hal yang mencolok.


“Tuan muda, tamannya sudah selesai” lapor kepala bawahan ayahnya.


“Baik pak. Terimakasih atas bantuannya” ucap Andra sopan. Walaupun mereka adalah bawahan ayahnya, hanya saja usia mereka jauh lebih tua, itulah sebabnya Andra tetap bersikap sopan.


“Drrttt”.


“Hallo. Assalamualaikum Ndra” ucapku ketika mengangkat telpon Andra.


“Walaikumussalam. Lo sibuk nggak Syam?” tanyanya


“Ngga sibuk-sibuk amat sih. Emang kenapa?” tanyaku bingung.


“Gue mau ngomong sesuatu sama lo” jelas Andra.


“Oh ok. Ngomong aja” ucapku.


“Ngga di sini” ucap Andra.


“Trus dimana?” tanyaku bingung


“Kita keluar sebentar ya, aku jemput” ucap Andra. Akupun mengiyakan tampa berpikir apa maksud Andra.


“Ting tong”


“Andra, lo sudah lama?” tanyaku. Namun Andra masih diam memandangiku.


“Cantik” satu kata dipikiran Andra.


“Hei” ucapku berusaha menyadarkan Andra dari lamunannya.


“Ah, ini baru. Ayok kita jalan skarang” ajak Andra dan aku hanya mengikut.


“Kita mau kemana sih?” tanyaku masih dalam mobil Andra.


“Kita sudah dekat kok” jawab Andra.


“Waw. Gue ngga tau kalau di sini ada taman se cantik ini” pujiku ketika melihat taman penuh dengan lampu-lampu yang cantik.


“Cantikkan lo kok” puji Andra, yang membuatku kaget.


“Emang lo ngga pernah ke sini, inikan dekat dengan apartemen lo?” Tanya Andra.


“Lo kan tau sendiri kita sibuk di kampus” jelasku.


“Iya juga sih. Ayok kita ke sana” ajak Andra.


Kini kami sedang duduk di sebuah kursi taman yang begitu cantik.


“Oh ya Ndra, lo mau ngomong apa sampai ke sini sgala?” tanyaku teringat perkataan Andra di telpon tadi.


“Ah itu”

__ADS_1


“Syam, gue suka sama lo. Lo mau ngga nikah sama gue?” ucap Andra santai. Walaupun mungkin di dalam hatinya dia begitu tegang.


“Hah, maksudnya?” tanyaku kaget.


“Iya Syam. Sebenarnya dari dulu gue sayang sama lo. Tapi gue ngga berani ngungkapin. Gue tau kalau lo ngga mau pacaran. Makanya hari ini gue ngajak lo nikah” jelas Andra mencoba meyakinkanku.


“Maaf Ndra. Gue ngga bisa. Sebenarnya gue sudah tunangan dan satu minggu lagi gue bakal nikah sama tunangan gue” jelasku yang sontak membuat Andra kaget.


“Hah. Lo bercanda kan Syam? Kalau lo ngga mau bilang aja ngga usah berbohong gitu” ucap Andra merasa tidak percaya.


“Maaf Ndra. Mungkin ini salah gue juga. Harusnya gue ngga menutupi pertunangan gue” ucapku mencoba meyakinkan Andra.


“Kalau lo ngga percaya, ini cincin tunangan gue” ucapku sambil merogoh cincin tunanganku yang memang sengaja gue bawa-bawa dalam tas.


“Lo serius Syam?” Tanya Andra lagi sambil menatap cincin itu.


“Iya gue serius” jawabku.


“Trus calon lo siapa?” Tanya Andra.


“Nanti juga lo tau. Skarang kita pulang aja yah” ucapku lagi.


“Ya udah deh” ucap Andra kecewa.


“Syam, kalau lo ada apa-apa sama dia, gue ada kok” ucap Andra.


“Lo doain gue Ndra?” tanyaku.


“Ada-ada aja lo. Ayo kita pulang skarang” ajakku sambil berjalan menuju mobil Andra, yang di susul oleh Andra.


Selama perjalanan pulang Andra hanya terdiam. Akupun memilih terdiam.


“Makasih yah Ndra. Sekali lagi maaf yang tadi” ucapku.


“Gue balik yah, dah” ucap Andra kemudian melajukan mobilnya.


“Iya” jawabku pelan melihat mobil Andra yang sudah melaju cepat.


**


Di sisi lain, terlihat Ryan yang sedang marah saat melihat layar ponselnya yang terpampang jelas gambarku dan Andra di taman tadi dengan suasana yang romantic. Bukan hanya gambar, bahkan ada video yang memperlihatkan Andra sedang melamarku.


Gambar itu berasal dari Dindea yang tak sengaja melihat kami di taman. Hal itu pun membuat Dindea seketika berencana licik.


“Sayang, kan gue bilang. Dia perempuan tidak benar. Masa sudah punya tunangan masih keluyuran sama cowok lain. Di tempat romantic lagi” ucap Dindea dari seberang telpon yang sengaja memas-manasi Ryan, tampa menunggu ocehan lainnya Ryan lansung mematikan ponselnya.


“Cih, sial. Awas saja lo Syam” geram Ryan. Dan langsung berlari keluar dari kamarnya.


“Sayang, kamu mau kemana. Ini sudah malam” Tanya mamah Ryan khawatir. Namun Ryan tidak menjawab pertanyaan mamahnya, malah pergi keluar dan membawa motor kebanggaannya.


“Ryan, mau kemana mah?” Tanya papah Ryan yang tidak sengaja melihat Ryan terburu-buru.


“Ngga tau pah. Mama juga bingung” ucap mama Ryan.

__ADS_1


Setelah perjalanan yang cukup singkat, akhirnya Ryan samapai juga di apartemenku.


“Ting tong”


“Ting tong”


“Ting tong”


“Siapa sih yang bertamu malam-malam gini. Mana ngga sabaran lagi” gerutuku sambil menuju pintu apartemenku.


“Ryan”


“Lo ngapain ke sini malam-malam?” tanyaku takut-takut, karena ekspresi Ryan yang sangat mematikan.


Namun Ryan tidak menjawab pertanyaanku, melainkan malah menarik tanganku dan masuk ke apartemenku.


“Apa-apan sih lo. Lepaskan” bentakku.


“Cih. Dasar wanita murahan” bentak Ryan dengan jijik.


“PLak” sebuah tamparan mendarat di pipi Ryan.


“Bisa-bisanya kau mengataiku wanita murahan” bentakku.


“Lo berani nampar gue, HA?” bentak Ryan lagi dan langsung mendorongku.


“AW” rintihku ketika badanku terkena dinding dengan kasar.


“Lo kenapa sih?” tanyaku sambil berkaca-kaca.


“Lo. Ngga usah pura-pura lugu. NIH” ucap Ryan sambil menyodorkan ponselnya yang sudah memperlihatkan foto-foto dari Dindea.


“Dari mana lo dapat ini?” tanyaku yang begitu ketakutan.


“Lo nggak perlu tau” judes Ryan.


“Gue bisa jelasin” ucapku lagi.


“Cih. Lo mau mengarang lagi?” bentak Ryan dan langsung berjalan mendekatiku.


“Lo mau apa?” ucapku yang melihat gelagat Ryan yang mencurigakan.


“Ryan. Jangan. Aku mohon jangan. Hhu huuh” ucapku sambil menutup bibirku ketika melihat Ryan yang mendekatkan wajahnya.


Melihatku yang begitu ketakutan membuat Ryan merasa iba, dan langsung sedikit menjauhkan diri.


“Cih. Apa yang gue lakukan?” umpat Ryan mengutuki dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia berniat melakukan hal yang tak senonoh itu.


“Cih” ucap Ryan dan berlalu pergi. Sedangkan aku masih menangis ketakutan.


“Apa yang sebenarnya yang ingin dia lakukan. Kenapa dia begitu padaku. Hiih huhi” tangisku pecah ketika Ryan berlalu pergi.


“Astaghfirullah. Ya Allah, terimakasih atas perlindungan-Mu. Ampuni aku Tuhan” ucapku lagi masih dengan tangisan yang pecah. Untung saja apartemenku kedap suara, jadi aku tidak perlu khawatir jika ada tetangga yang mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2