
Di ruang dapur rumah Ryan terlihat mamah Ryan yang sedang sibuk memasak yang dibantu oleh papa Ryan. Mama sama papa Ryan begitu bersemangat menyambut kedatanganku. Terutama mama Ryan, sejak siang tadi dia sudah sibuk lalu lalang di dapur mempersiapkan segala macam keperluan untuk memasak. Sepasang suami istri ini begitu antusias, seolah yang akan disambut ini adalah calon menantu mereka, hehheh. "semoga ya Allah (dalam hati)" Doain saja yah!!.
***
Ting tong. Ting tong
“Ryan. Ada tamu tuh. Coba kamu cek ke depan” perintah mama pada Ryan yang sedang bersantai di ruang keluarga.
“Iya mah” jawab Ryan singkat
Tanpa berpikir panjang Ryan langsung bergegas membuka pintu, dannnnnnn
"GLEEKKK"
Aku begitu kaget melihat sosok pria yang membuka pintu rumah yang ku ketuk.
“HAH Lo!. Lo Ngapain disini?” Tanyaku kaget.
“Heh. Yang ada lo kali yang ngapain. Ini kan rumah gua" jawabnya ketus dan juga tak kalah kaget.
“Oh jadi ini rumah lo. Gua salah alamat” ketusku lagi.
“Hah. Lo ngikutin gua ya. Ketahuan kan lo” Ryan tersenyum miris.
“Lo ngomong apa sih?” Tanyaku heran.
"Ngapain juga gue ngikutin lo. Kurang kerjaan banget." tambahku lagi.
__ADS_1
Karena Ryan tak kunjung masuk ke dalam rumah, papah Ryan akhirnya memutuskan menyusulnya ke depan pintu.
“Yan". Panggil papah dari dalam rumah.
“Iya pah” jawab Ryan.
“Siapa sih yang datang. Kenapa kamu ribut?” tanya papah Ryan sambil menuju pintu.
“Ngga tau nih pah. Ada cewe aneh” dingin Ryan.
“Syam?"
"Apa-apaan sih kamu Yan? ini kan tamu penting kita. Ayo silahkan masuk Syam” ajak om dengan ramah.
“Iya om” ikut Syam.
“Tamu penting kita, kalian saja kali” guman Ryan.
“Yan ayo masuk” ajak papahnya.
“Pah. Ko papa bisa kenal cewek aneh ini?” Tanya Ryan bingung sambil menyusul kami.
“Emang kamu kenal dia Yan?” timpah mama Ryan.
“Ngga mah. Ngga kenal” jawab Ryan dingin.
“ini gadis yang pernah nolongin papa Yan, yang pernah papa ceritain” tutur om Hendra.
__ADS_1
“Ngga salah pa? yang papa bilang ramah dan baik itu?” Ucap Ryan dengan memandang ngeri ke arahku. Seolah tidak mungkin. Karena Syam yang dia kenal adalah gadis jutek dan menjengkelkan.
“Huh apa sih Yan, ngga sopan tau” jawab mamah Ryan.
Dan aku hanya memperhatikan mereka.
“Ayo Syam, mari kita makan!” ajak om Hendra.
“Oh ya Syam. Ini istri om Rini kamu bisa panggil tante Rini dan ini anak om Adryan. Kamu bisa panggil Ryan. Dan om, Mahendra panggil saja om Hendra” tambah om Hendra sambil tersenyum.
Sedangkan Ryan masih tetap diam dengan wajah dingin menjengkelkannya itu.
“Kamu juga boleh panggil tante dengan sebutan mama kok Syam, kaya si Ryan” goda mama Ryan.
“UKHUKKKK" aku dan Ryan keselek bersamaan.
“HAH !!, mama ngga salah. Apa mama salah minum obat?” ucap Ryan ngeri.
“Emang kenapa Yan, itu bukan masalah besar kok, ya kan pah” ucap mama Ryan sambil melihat papa untuk meminta dukungan.
“Terserah mana nyamannya Syam aja mah, gimana Syam?” Tanya om Hendra.
“Hehhe, kayanya Syam lebih nyaman juga dengan sebutan tante deh” jawabku canggung, apalagi melihat tatapan memangsa dari Ryan.
“Ya sudah terserah Syam saja” jawab tante Rini.
Sedangkan Ryan hanya menghela napas melihat keanehan keluarganya.
__ADS_1