Si Tampan Gunung Es

Si Tampan Gunung Es
34


__ADS_3

Hari ini kami tengah sibuk bersiap-siap untuk kepulangan tante Rini. Tante Rini terlihat bersemangat untuk pulang ke rumah. Karena dia betul-betul merasa bosan selama di rumah sakit. Om Hendra dan kami semua juga senang karena tante Rini akan segera keluar dari rumah sakit.


Setelah bersiap-siap kami langsung pulang kerumah, begitupun dengan om Hendra. Om Hendra memilih untuk cuti dulu hari ini agar bisa berkumpul dengan kami semua.


“Oh ya pah, kita singgah ke resto yah. Mama pengen makan sup ayam” ucap tante Rini dalam perjalanan pulang.


“Ngga mah, kita langsung pulang saja. Nanti mama kecapean lagi” jawab om Hendra yang masih khawatir dengan kondisi istrinya itu.


“Tapi pah” sedih tante Rini.


“Biar saya saja yang masak di rumah” jawabku dan Ryan bersamaan. Sontak membuat mereka semua tersenyum meledek. Terutama Lina yang duduk di sebelahku.


“Ok. Kalau gitu Ryan sama Syam yang masak di rumah untuk kita semua” perintah tante Rini masih dengan senyumnya. Aku dan Ryan mendengar perkataan tante Rini, langsung kaget.


“Aku ngga jadi mah. Biar cewek aneh itu saja yang masak untuk mama. Supaya ngga sia-sia mama ngajarin dia masak sampe sakit” tolak Ryan dengan wajah datarnya sambil fokus menyetir. Sedangkan aku hanya diam saja.


“Ngga Ryan, kamu harus mau. Ini perintah mama. Kalau tidak….” Sebelum menyelesaikan ucapannya, Ryan langsung menurut.


“Terserah mama saja” ucap Ryan jengkel.


Sesampainya di rumah, para pelayan sudah bersiap didepan pintu untuk menyambut kepulangan nyonya besar mereka. Mereka dengan dengan sigap mengambil semua barang-barang yang ada di mobil. Sedangkan kami semua langsung masuk ke dalam rumah dan beristrahat beberapa menit. Tidak untuk mengundur waktu, aku langsung menawarkan diri masuk ke dapur. Karena tante Rini sudah ingin makan sup ayam.


“Syam ke dapur dulu yah tant” izinku.


“Ryan, kapan kamu akan memasakan mama” panggil tante Rini pada Ryan yang masih di kamarnya.


“Iya mah” sahut Ryan dan langsung keluar.


“Oh ya bi. Biar Ryan sama Syam yang masak untuk makan siang” ucap tante Rini pada bi Rumi yang di iyakan oleh bi Rumi.


Karena perintah mamahnya, Ryan langsung menyusulku ke dapur. Dan dia merasa heran melihatku masih agak bingung-bingung. Yah walaupun aku sering memasak dengan tante Rini, tapi aku belum terbiasa memasak sendiri. Terlebih lagi itu memasak untuk kelarga Ryan.


“Lo mau masak, atau mau menghayal sih?” ucap Ryan sambil mempersiapkan bahan-bahan makanan.

__ADS_1


“Iya ini mau masak” elakku sambil bergerak mengambil bahan-bahan yang sudah di keluarkan oleh Ryan dari dalam kulkas.


“Ya sudah kamu kerjain tuh wortel sama kentangnnya. Biar aku bersihin dulu ayam dan ikan” perintah Ryan dengan wajah songonnya itu.


“Ok” jawabku antusias.


“Sebelum itu kamu bersihin dulu bumbunya. Aku tadi sudah keluarin juga dari tempatnya” perintah Ryan santai sambil membelakangiku, mebuatku geram dan ingin menikamnya saja.


“Huh dasar. Seenaknya saja dia memerintahku” gumanku.


Lalu kami sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing. Lina yang sedang mengambil buah di atas meja untuk tante Rini, tidak sengaja melihat kami yang sedang fokus memasak. Lina langsung terpikir ide aneh. Dia segera mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto kami. Tak lupa juga dia mengambil video.


Saat aku tengah sibuk memotong wortel, tidak sengaja jari telunjukku juga ikut teriris, aku langsung berteriak.


“Aww” teriakku.


“Apa-apaan sih lo” jengkel Ryan dan langsung menoleh ke arahku.


“Astaga. Gue kan nyuru lo motong wortel, kenapa lo potong dengan tangan lo. Lo sudah bosan pake tangan?” cerewet Ryan lalu mengisap jariku yang berdarah, sontak tindakannya itu membuatku kaget. Dan juga gugup.


Karena khawatir Ryan segera mengambil plester yang ada dalam kotak obat, yang memang sengaja disimpan untuk di dapur. Dengan hati-hati dia membersihkan lukaku dan menutupnya dengan plester. Lina yang menyaksikan itu semua tersenyum penuh kemenangan, belum lagi dengan kamera video yang masih on itu. Setelah puas merekam dia kembali ke ruang tengah sambil membawa nampan buah dan senyum-senyum sendiri. Melihat Lina yang senyum-senyum membuat om Hendra dan tante Rini penasaran.


“Kamu kenapa Lina?” Tanya tante Rini.


“Ini tant” ucap Lina sambil menyerahkan ponselnya yang sudah sengaja diputarnya rekaman tadi. Om Hendra dan Tante Rini langsung tersenyum melihat tingkah Ryan yang begitu menghawatirkanku. Mereka langsung berinisiatif mengecek kami ke dapur.


“Mending lo keluar dari sini. Lagian lo juga ngga guna disini” ucap Ryan sambil berdiri dari duduknya untuk melanjutkan masakannya.


“Tapi, aku ngga enak sama tante Rini. Tadi kan aku sudah bilang mau masak” jawabku sedikit lesu.


“Ya sudah. Lo duduk disitu saja! Biar gue yang masak” ucap Ryan.


“OK” jawabku.

__ADS_1


Tampa menunda waktu Ryan dengan cepat melanjutkan masakannya. Dia terlihat sangat lincah dengan pisau ditangannya. Hingga membuatku terkagum-kagum. Tidak butuh waktu lama, Ryan telah menyulap meja yang tadi kosong, menjadi penuh makanan, yang begitu mengunggah selera.


“WAW, akhirnya selesai juga. Lo betul-betul hebat” pujiku.


“Tentu saja” ucap Ryan berbangga diri.


Melihat kami yang selesai menata makanan diatas meja ( tepatnya hanya Ryan yang melakukannya), mereka yang bersembunyi dibalik tembok itu, segera memunculkan diri seolah baru datang dari ruang keluarga.


“Waw. Kayanya enak nih” ucap tante Rini sambil melihat kami dengan senyumnya. Lalu duduk di salah satu kursi di meja itu.


“Ayo kita makan” ajak om Hendra yang di turuti oleh kami semua.


“Waw, masakan kalian enak bangat Syam” puji tante Rini.


“Iya mah” tambah om Hendra.


“Sup kamu enak sekali Syam” puji tante Rini.


“Ah ngga kok, tant. Ini…” sebelum aku mengelak Ryan telah memotong pembicaraanku.


“Iya mah. Cewek kesayangan mama sekarang sudah sangat ahli memasak” puji Ryan meski masih dengan gaya dinginnya.


“Ini kan dia yang buat, kenapa juga dia bicara begitu. Dasar gunung es ini” gumanku yang masih di dengar oleh Ryan. Karena saat ini dia sedang duduk di sampinku.


“Lo ngga usah kepedean. Gue bilang gitu, karna ngga mau mama kecewa” bisik Ryan padaku yang membuatku mengerutkan dahi tanda tak mengerti.


“Eman siapa juga yang kepedean? Dasar” jengkelku.


“Kalian sedang bisik-bisik apa?” Tanya tante Rini dengan senyum meledeknya.


“Lagi diskusiin tempat ngedet ntar malam kali tant” ceplos Lina yang berhasil membuat om Hendra dan tante Rini tertawa mengejek.


“Lin” teriakku pada Lina dengan ekspresi mematikan.

__ADS_1


“Emang kalian mau kemana Yan?” Tanya om Hendra.


“Huh, kalian ini apa-apan sih. Kita sudah cape-cape masak, malah diledekin. Mending habiskan nih makanan. Aku sudah selesai” jengkel Ryan dan meninggalkan meja makan. Lalu kami melanjutkan makan siang kami.


__ADS_2