
Kini terlihat Ryan yang sedang tersenyum manis memandang layar ponselnya. Yah itu adalah fotoku yang sengaja ditangkap layar olehnya ketika VC bersama mamanya beberapa hari yang lalu.
"Ini cewek memang cukup cantik sih, ah tidak dia tidak hanya cukup tapi sangat cantik" gumannya.
"Tapi bagaimana bisa ada cewe yang semenyebalkan dia. Kalau saja dia tidak menyebalkan aku pasti sudah lama akan jatuh cinta padanya"
"Huh, apa sih ini otak" ucap Ryan yang berusaha menyadarkan lamunannya.
**
"Bro, Bro. Tunggu bro!" Teriak rendi di lorong rumah sakit.
Ryan dan Rendi memang sahabat baik. Jadi tidak heran jika Rendi selalu mengekor pada Ryan. Awalnya Ryan tidak setuju jika Rendi selalu mengikutinya apalagi sampai mengikutinya ke luar negri. Namun tetap saja Rendi ngotot. Hingga tibalah dia di Iggris, tempat Ryan saat ini berada.
"Apa sih loh. Ngekor gue mulu. Gue bosan tau liat lo" judes Ryan dan Rendi hanya mengacuhkannya. Dia betul-betul sudah sangat mengerti dengan sifat sahabatnya itu.
"Lo kan tau kalau gue ngga bisa hidup tampa lo" lebay Rendi. Dan Ryan hanya bergidik ngeri.
"Sejak kapan lo disini?" Tanya Ryan.
"Baru dua hari lalu. Gue kesini bukan cuman sendiri loh" ucap Rendi.
"Hah. Emang sama siapa lagi?" Tanya Ryan heran.
"Yah biasa, siapa lagi kalau bukan si penyihir yang gila sama lo" ucap Rendi dengan wajah mengejek.
"Hah, siapa? Dindea?" Tanya Ryan tidak percaya.
"Iya lah. Emang ada selain dia? Ngga kan?" Jelas Rendi.
"Iya sih. Tapi ngapain sih dia harus kesini juga?" Sebal Ryan.
"Lo tanya aja sendiri. Tuh orangnya" ucap Rendi yang menunjuk ke arah Dindea. Dan sontak membuat Ryan bertambah kaget.
"Hy Ryan. Apa kabar? Lo tambah ganteng saja deh" tutur Dindea dengan gaya centilnya.
"Yah, seperti yang kamu lihat. Aku baik. Oh ya gue duluan. Ada pasien gue soalnya" tutur Ryan meninggalkan mereka.
Ryan memang sengaja meninggalkan mereka. Karena Ryan sangat malas jika harus berhadapan dengan Dindea.
"Tapi Ryan, gue masih kangen sama lo" cerewet Dindea.
"Din. Mending lo sama si Rendi aja deh. Dia jomblo tuh" ejek Ryan.
Karena tidak ingin berlama-lama bersama Dindea, Ryan segera menuju ruang operasi. Karena hari ini dia di panggil oleh dokter Grad untuk membantunya saat operasi. Walaupun Ryan masih KOAS, tapi menurut dokter Grad membiasakan diri di ruang operasi sangat berguna untuk dokter baru. Apalagi Ryan memang bercita-cita menjadi seorang dokter spesialis jantung.
Setelah lebih dari 2 jam, akhirnya Ryan membuka ruang operasi. Dia segera menuju ruang ganti untuk bersih-bersih. Lalu kembali keruangannya.
Tok tok tok
__ADS_1
Dari dalam ruangan, Ryan mendengar ada yang mengetuk pintu. Tampa bertanya apapun Ryan langsung menyuruh yang mengetuk pintu itu masuk.
“Hallo Ryan” ucap Dindea sambil berjalan dan memeluk Ryan.
“Ih, apa sih Dind. Kalau ada yang lihat gimana?” ucap Ryan heran dengan tingkah Dindea, sambil berusaha melepaskan tangan Dindea dari tubuhnya.
“Tapi kan gue kangen sama lo Ryan. Kenapa sih lo. Nolak gue mulu?” ucap Dindea sambil melonggarkan pelukannya.
“Kalian ngapain?” Tanya Rendi yang tak sengaja melihat Dindea memeluk Ryan.
“Ngga tau nih Dindea” jawab Ryan. Sedangkan Dindea hanya berdiri dengan wajah jengkel karena kehadiran Rendi.
“Oh ya Rend. Gue butuh bantuan lo tentang ini” ucap Ryan sambil mengankat sebuah map.
“Ok” jawab Rendi dan menuju ke arah meja kerja Ryan. Sedangkan Dindea memilih ke luar ruangan.
“Oh ya Rend, lo shift sampe jam brapa?” Tanya Ryan.
“Jam 5. Emang kenapa?” Tanya Rendi bingung.
“Ok kalau gitu kita kerumah kakek gue dulu” ajak Ryan.
“Lo bawa kendaraan apa Rend?” Tanya Ryan kembali.
“Gue bawa mobil” jawab Rendi santai.
“Kalau gitu, nanti malam baru kerumah kakek. Ok” ucap Ryan.
“Oh ya Rend, lo taukan ruang psikiater pa bu Lidya?” Tanya Ryan dengan wajah serius.
“Iya. Keluar dari sini lurus belok kiri. Emang kenapa?” Tanya Rendi antusias.
“Coba deh lo kesana. Periksakan otak lo, kayanya sudah mulai gesrek” ucap Ryan dan berlalu pergi.
“Sialan kau Ryan” sebal Rendi.
Setelah shift Ryan dan Rendi selesai, mereka langsung pulang karena akan pergi ke rumah kakek Ryan.
“Ryan” panggi Dindea yang menuju arah mereka.
“Gue nebeng lo yah, Ryan” pinta Dindea.
“Tapi Dind, gue buru-buru nih” tolak Ryan.
“Mending lo sama Rendi aja” tambah Ryan.
“Gue duluan bro” ucap Ryan sambil melajukan mobilnya.
“Ok” jawab Rendi.
__ADS_1
“Dind, kamu jadi ngebeng?” Tanya Rendi.
“NGGA” tolak Dindea.
“Ya udah, gue jalan. By” ucap Rendi sambil menyalakan mesin mobilnya. Namun belum sempat dia melajukan mobilnya ternyata Dindea sudah duduk di sampinnya. Sontak membuat Rendi kaget.
“Ya udah jalan sana!” perintah Dindea. Rendi hanya mengerutkan kening pertanda heran dan langsung melajukan mobilnya.
“Alamat lo?” Tanya Rendi.
Dindea langsung menyetel GPS mobil Rendi.
“Lo mau kemana pake alamat ini dind?” Tanya Rendi kaget.
“Yah, ke rumah gue lah. Masa ke rumah lo” jawab Dindea ketus.
“Apa? Rumah lo?” Tanya Rendi masih dengan ekspresi kaget.
“Mending lo fokus nyetir deh. Gue muak dengar lo” ketus Dindea.
“Mungkin dia memang tinggal sekitar situ kali” Guman Rendi.
Beberapa menit kemudian mereka akhirnya sampai pada tujuan GPS mobil Rendi.
Dindea langsung turun dan berlalu masuk dalam gedung apartemen, sementara Rendi langsung memarkirkan mobilnya di garasi gedung apartemen.
Saat lift yang ditempati Dindea akan tertutup, tangan Rendi dengan cepat menghalangi lift tersebut.
“Lo ngapai ngikutin gue?” Tanya Dindea bingung.
“Yeh, siapa juga yang mau ngikutin lo” elak Rendi.
“Trus ngapain lo kesini” bingun Dindea.
“Pulang” santai Rendi.
Setelah beberapa menit mereka di dalam lift, akhirya sampai juga di lantai 8 dimana apartemen Dindea berada. Dindea langsung keluar dari lift, dan diikuti Rendi.
“Lo betul-betul ya Rend” sebal Dindea melihat Rendi masih mengikutinya.
“Sebenarnya siapa yang mengikuti dan siapa yang diikuti sih?” Sebal Rendi menanggapai Dindea.
“Heh, ini apartemen gue. Puas lo?” judes Rendi menunjuk pintu aprtemennya.
“Ini juga apartemen gue” tambah Dindea yang tidak kalah judes ketika menunjuk apartemen tepat disebelah kiri milik Rendi.
“Sejak kapan lo disini, prasaan gue ngga pernah liat lo?” Tanya Rendi.
“Kepo!” judes Dindea dan langsung berjalan masuk apartemennya.
__ADS_1
“Hih, dasar tuh cewe. Sudah aneh, judes lagi. Entah siapa yang akan menjadi suaminya nanti. Tapi siapapun itu, aku akan turut berduka cita atas pernikahannya dengan cewek itu” guman Rendi sambil memasuki apartemennya.