
Sama seperti Ryan, aku langsung bergegas masuk apartemen ketika kami sampai. Namun bedanya, karena Ryan belum pernah masuk ke apartemenku jadi aku harus mempersilahkan dia masuk.
“Oh ya. Lo tunggu di sini dulu. Apa lo mau minum sesuatu?” tanyaku pada Ryan.
“Ngga” jawab Ryan singkat.
“Ya sudah” jawabku dan berlalu pergi. Namun sebelum aku menghilang masuk ke kamar, Ryan segera memanggilku.
“Oi, lo punya bahan makanan ngga?” Tanya Ryan ragu-ragu.
“Iya ada, emang kenapa?” tanyaku bingung. Baru kali ini ada tamu yang menanyakan bahan makanan.
“Boleh gue pinjam dapur lo sebentar?” Tanya Ryan lagi.
“Hum. Booleh” jawabku masih bingun.
“Ya sudah. Kamu siap-siap” perintahnya dan aku hanya mengiyakan. Dan bergegas bersiap-siap.
Tidak butuh waktu lama, Ryan telah menyelesaikan pekerjaanya di dapur kecilku.
Aku yang telah selesai bersiap, segera menyusulnya ke dapur karena aroma harum yang diciptakannya. Sontak aku terkaget melihat dua piring hidangan diatas meja yang begitu menggugah selera. Itu adalah roti tawar yang lengkap dengan telur dan sayurannya, selain roti Ryan juga sedang membuat susu untuk kami berdua. “Wah, benar-benar pria idaman gue” gumanku.
“Lo mau terus-terusan berdiri di situ?” tegur Ryan sambil membawa dua gelas berisi susu dan mendaratkannya diatas meja yang cantik itu.
Karena teguran Ryan, aku langsung menuju ke meja makan. Dan duduk di hadapan Ryan yang masih berdiri.
“Waw. Lo yakin, lo yang buat? Atau lo pesan yah tadi?” selidikku tidak percaya. Bagaimana mungkin pria dingin seperti dia ahli dalam hal masak-memasak. Tapi kalau di pikir lagi mamahnya kan koki.
“Nih, lo mau makan apa tidak sih?” ucapnya sambil menyodorkan piring makanan itu dan bergegas duduk di hadapanku.
“Yah mau lah” ketusku dan segera mengambil makanan itu.
“Tapi lo ngga kasih racun kan?” tanyaku lagi.
“Ting” akhirnya mendarat sebuat jentilan di dahi mulusku.
“Aww. Sakit tau” keluhku.
“Lo **** yah, mana ada orang dibunuh di rumahnya sendiri? Dasar cewek aneh. Entah bagaimana orang tua gue bisa menyukai gadis bodoh sepertimu?” ucap Ryan dengan geleng-geleng kepala.
__ADS_1
“Gue kan cuma mastiin” ucapku lagi.
“Ya sudah. Lo makan skarang. Kalau tidak gue tinggal” jengkel Ryan dan aku segera menghabiskan makananku.
“Waw. Masakan lo cukup enak” pujiku.
“Sangat enak kali. Tuh sampai ngga ada sisa” ucap Ryan yang merasa tidak puas dengan pujianku. Lalu dia bergegas mengambil piring bekas makanku. Sontak aku terkaget.
“Lo mau apa?” tanyaku bingung.
“Mau mecahin piring lo. Yah mau cuci piring lah” ucapnya santai.
“Biar gue aja” tawarku merasa tidak enak.
“Mending lo duduk deh. Cerewet bangat sih” perintah Ryan. Dan aku terpaksa mengikutinya.
Ryan begitu lincah dalam hal apapun, begitupun dengan mencuci piring. Meski baru pertama kali dia masuk ke dalam dapurku, dia seolah sudah dapat mengahafal dimana letak barang-barang dapurku. Aku yang memadanginya hanya terkagum-kagum.
“Lo ngga cape mandangin gue mulu?” ucap Ryan masih dalam keadaan membelakangiku. Seolah dia bisa melihatku sedang memandanginya.
“Jangan-jangan lo naksir lagi sama gue?” tebak Ryan ngasal.
“Ngga usah ngelak. Gue liat lo dari pantulan kaca lemari piring” jawabnya santai.
“Oh iya yah, pantas saja” gumanku sambil menepuk jidat. Dan Ryan tersenyum penuh kemenangan, tampa sengaja aku juga melihat senyumannya itu dari kaca lemari piring.
“Lo bisa juga senyum yah? Kirain tidak” ejekku dan dia hanya berjalan keluar meninggalkanku. Aku langsung bergegas menyusulnya.
**Kampus
Pagi ini seluruh fakultas dihebohkan dengan kedatangan Ryan. Karena setau mereka Ryan sedang KOAS di luar negri. Namun, bukan hanya sekedar kedatangan Ryan yang menjadi pusat perhatian, tetapi keberadaanku saat ini cukup menghebohkan. Bagaimana mungkin gadis sederhana seperti diriku bisa bersama Ryan yang di kenal dengan dinginnya dan anti cewek itu. Mereka yang menyaksikan aku yang turun dari mobil yang sama dengan Ryan, sontak terheran-heran. Ada banyak presepsi yang aku dengan sepanjang koridor saat niat memasuki ruang kuliahku. Dan parahnya lagi diantara banyaknya presepsi itu, tidak satupun presepsi positif. Namun aku tidak terlalu kaget dengan semua pandangan mereka, karena semua itu sudah menjadi konsekuensi saat memutuskan untuk mengikut Ryan.
“Oi, Syam. Viral parah lo” ucap Lina ketika menghampiriku yang terduduk di sudut ruang kuliah.
“Apa sih Lin?” tanyaku pura-pura tidak tahu.
“Asal lo tau yah, seluruh fakultas sedang ngomongin lo saat ini” ucap Lina masih semangat.
“Tapi kenapa lo bisa bareng kak Ryan, gue pikir dia lagi di luar negri” Tanya Lina.
__ADS_1
“Oh itu, tante Rini masuk rumah sakit kemarin. Jadi Ryan pulang untuk menjenguk mamahnya” jelasku.
“Emang tante Rini sakit apa?” Tanya Lina lagi.
“Dia kelelahan Lin. Dan kata om Hendra kali ini paling parah dari biasanya” ucapku sedih.
“Huum. Nanti gue ikut yah, kalau lo jenguk” tawar Lina.
“Ok. Kalau gitu setelah kuliah kita ke rumah sakit yah” ajakku pada Lina.
Karena kami sudah berencana ke rumah sakit setelah kuliah, jadi kami langsung ke sana setelah bu Susi menutup pertemuan sore ini. Tak lupa kami singgah ke sebuah tokoh buah, untuk membeli buah tangan.
Sesampainya di rumah sakit kami langsung memberi salam dan masuk kedalam kamar, rupanya hanya ada tante Rini dan om Hendra di ruangan itu.
“Syam, Lina. Kalian sudah selesai kuliah?” Tanya om Hendra.
“Iya om. Tadi saat selesai kuliah kami langsung ke sini” jawabku.
“Oh ya om, kak Ryan dimana?” Tanya Lina yang sejak tadi tidak melihat Ryan.
“Ryan sedang ada urusan. Om juga ngga tau urusan apa” jawab Om Hendra.
“Hummm” ucap Lina dan akupun ikut mangguk-mangguk mendengar jawban dari om Hendra.
“Syam, ayo ke sini sayang” panggil tante Rini yang masih terbaring.
“Iya tant. Oh ya tant maafin Syam yah. Ini pasti gara-gara Syam” ucapku meminta maaf.
“Sudahlah Syam, entah sudah berapa kali kamu minta maaf. Lagian ini bukan salahmu juga” ucap tante Rini.
“Iya tant” jawabku.
“Oh ya, kalian sudah makan blum?” Tanya tante Rini padaku dan Lina.
“Sudah tant, tadi kita makan di kampus” jawab Lina.
“Ya udah, skarang kalian duduk dulu, pasti kalian cape. Skalian tungguin Ryan. Sebentar lagi pasti dia akan tiba” tutur tante Rini lemah lembut.
“Ok tant” ucap Lina dan aku hanya tersenyum lalu duduk di kursi sofa didalam ruangan itu.
__ADS_1