Si Tampan Gunung Es

Si Tampan Gunung Es
41


__ADS_3

“Blom ada kabar lagi?” Tanya Lina yang melihatku terlihat murung.


“Blum Lin” jawabku tidak bersemangat.


“Tuh orang ngapain sih di sana? Sibuk apa juga coba? Masa hanya sekedar ngabarin saja ngga bisa?” cerewet Lina, namun aku memilih mengabaikannya. Percuma membelanya jika memang sifatnya seperti itu.


“Masa semenjak pergi sampai dua bulan gini ngga pernah ngabarin?” tambah Lina lagi.


Yah memang, setelah malam pertunangan yang begitu membahagiakan itu, pagi harinya Ryan langsung berangkan ke Inggris. Sebenarnya bukan masalah jika dia pergi, tapi bukankah seharusnya dia memberi kabar padaku? Apalagi sekarang aku sudah menjadi tunanganya.


“Lebih baik kamu telpon dia saja deh Syam, supaya dia ngga aneh-aneh di sana. Apa jangan-jangan dia sudah lupa lagi sama lo?” ceplos Lina.


“Huh, mulai deh. Ya udah deh, gue duluan yah” ucapku pamit pada Lina. hari ini kami tidak begitu sibuk dikampus, itu sebabnya kami tidak begitu ke sorean saat pulang.


**


Apartemen


“Apa aku telpon dia saja yah? Tapi aku harus ngomong apa?” gumanku sambil memainkan ponsel ditanganku.


“Apa Ryan betulan lupa sama gue yah, tapi masa sih? Mana ada orang yang lupa sama tunangannya?” gumanku lagi.


Untuk menghilangkan semua pikiran negativeku, aku memilih mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat magrib.


“Drtttt” ponselku berbunyi yang ternyata itu adalah ibu.


“Assalamualaikum bu” ucapku membuka percakapan.


“Walaikumussalam. Bagaimana kabarmu nak?” Tanya ibu.


“Alhamdulillah Syam baik bu?” jawabku.


“Nak Ryan blum mengabari?” Tanya ibu hati-hati.


“Belum bu, apa mungkin dia lupa sama Syam yah?” jawabku lesu.


“Astaghfirullah. Mungkin dia sedang sibuk saja sayang” jawab ibu.


“Tapi masa sih sampai ngga ada waktu hanya untuk sekedar memberi kabar. Aku kan juga khawatir” jawabku lagi.


“Sudah-sudah, kamu jangan pikir macam-macam. Mending kamu doain dia, daripada berpikir macam-macam” jelas ibu.


“Iya bu” jawabku.


“Ya sudah ibu tutup yah, Assalamualaikum” ucap ibu.


“Walaikumussalam” jawabku.


**


Kini terlihat Ryan yang sedang sibuk di ruang UGD. Memang akhir-akhir ini Ryan sangat sibuk, belum lagi mengurus ujiannya dan juga masih tetap stay di rumah sakit.


“Yan, mending lo istrahat deh. Kyanya akhir-akhir ini lo sibuk bangat” tegur Rendi.

__ADS_1


“Iya nih, Rend. Gue akhir-akhir ini memang sangat sibuk” jawab Ryan.


“Tapi ngga paapa kok, lagian pergantian shift juga sebentar lagi” tambah Ryan lagi.


“Oh ya, bagaimana kabar Syam?" tanya Rendi santai.


"Gue ngga tau" jawab Ryan santai.


"Masa lo nggak tau? lo belum hubungin dia?” Tanya Rendi yang sontak membuat Ryan kaget.


“Astaga, gue lupa hubungin dia Rend?” jawab Ryan kaget.


“Emang kapan lo terakhir hubungin dia?” Tanya Rendi penasaran.


“Selama di sini gue blum pernah hubungin dia” jawab Ryan.


“APA? Gila lo Yan. Ngga habis pikir gue sama lo” teriak Rendi heran.


“LO ngga usah juga teriak disini kali” jengkel Ryan.


“Mending lo hubungin Syam skarang deh, lo ngga takut di salip orang?” ucap Rendi.


“Tapi gue ngga ada nomornya” jawab Ryan santai.


“APA?” teriak Rendi yang membuat Ryan segera menutup mulut Rendi dengan tangannya.


“Bisa ngga sih lo, kalau ngomong ngga usah teriak-teriak mulu?” jengkel Ryan.


“Lagian lo sih, mana ada orang yang tidak punya nomor tunangannya” heran Rendi.


“Banyak bacot lo. Gue balik skarang deh, bosan dengarin ceramah lo” ucap Ryan meninggalkan Rendi.


**


“Benar juga kata Rendi, masa sudah dua bulan di sini gue ngga pernah hubungin dia sih. Tapi bagaimana caranya, gue kan ngga punya nomornya. Atau minta ke mamah aja? Tidak-tidak, bisa–bisa mama ngejekin gue lagi. Mending sama papah saja deh” guman Ryan dan langsung merogoh ponselnya dari dalam kantungnya untuk menghubungi papahnya.


“Drttt”


“Hallo pah” ucap Ryan.


“Iya Yan. Tumben kamu nelpon. Ada apa?” Tanya papah Ryan.


“Ah ngga kok pah, gimana kabar mamah sama papah?” Tanya Ryan basa-basi.


“Kami baik kok. Kalau gitu papah tutup dulu. Papah ada pasien nih” ucap papah.


“Pah, Ryan minta nomornya Syam dong” ucap Ryan.


“Hah? Papa ngga salah dengar Ryan? Masa kamu ngga punya nomor tunangan kamu? Berarti selama ini kamu ngga hubungin dia?” marah papah Ryan.


“Iya maaf. Soalnya akhir-akhir ini Ryan memang sibuk pah” jawab Ryan merasa bersalah.


“Ya sudah, papa kirim skarang juga. Dan ingat kamu langsung hubungi Syam. Dasar kamu ini” kesal papah Ryan dan langsung mematiakan sambungan ponselnya.

__ADS_1


“Aduh, papah pake marah lagi. Apa gue kelewatan yah. Ah sudahlah mending gue hubungin skarang. Tapi harus ngomong apa?” guman Ryan.


**


“Drrttt”


“Aduh, Ryan nelpon nih. Aku harus jawab apa?” gumanku panik saat layar ponselku terpampang nama gunung es. Yah, itu adalah nama Ryan dikontakku yang belum sempat aku rubah.


“Hallo, Assalamualaikum” ucapku merasa canggung.


“Lo lama banget sih ngangkat telpon gue?” ketus Ryan.


“Yah, sorry. Lagian lo tiba-tiba nelpon gue. Gue kan kaget” jawabku membela diri.


“Iya juga sih” guman Ryan.


“Ada apa sampai nelpon?” tanyaku hati-hati.


“Mmmmm, ngga sih. Hanya mau ngabarin. Jangan sampai ada yang ngomongin gue tunangan durhaka” jawab Ryan ngasal.


“Emang ada. Lagian lo juga sih, hilang tampa kabar kaya setan” jawabku.


“Jadi lo nungguin kabar dari gue?” selidik Ryan.


“Ngga juga sih. Gue hanya iseng doang” elakku.


“Ngga usah ngelak kalau sudah ketahuan” jawabnya datar.


“Lo nelpon gue hanya mau berdebat? Kalau iya, gue tutup” ketusku.


“Eh, tunggu-tunggu” ucap Ryan.


“APA?” ketusku.


“Gue nelpon lo karna mau minta maaf?” lanjut Ryan.


“Dalam hal apa?” tanyaku pura-pura.


“Yah, gue minta maaf karna baru sempat ngabarin lo. Soalnya gue sibuk bangat di sini. Belum urusan rumah sakit, belum urusan ujian gue” ucapnya merasa bersalah.


“Lo yakin itu doang kesibukan lo? Lo mencurigakan tau ngga. Massa selama dua bulan ngga ada waktu sedikit pun untuk sekedar memberi kabar” cerewetku.


“Emang lo pikir gue pembohong apa?” jawab Ryan ketus.


“Iya-Iya gue percaya. Tapi kan ngga ada yang tahu lo di sana” ucapku lagi.


“Sudah ah, berdebat sama lo, ngga akan ada ujungnnya. Mending lo tidur” perintah Ryan.


“Assalamualikum” ucapku lalu menutup sambungan ponselku kasar.


“Dasar. Emang ngga bisa apa, minta maaf baik-baik? Bikin darah tinggi saja” gumanku kesal, lalu memilih tidur, se tidaknya dia masih mengingatku.


"Tapi setidaknya dengan dia memberi kabar, berarti dia masih ingat sama gue"

__ADS_1


pikirku sambil tersenyum.


__ADS_2