Si Tampan Gunung Es

Si Tampan Gunung Es
02


__ADS_3

Hari ini aku begitu bersemangat ke kampus, bagaimana tidak? Dosen hari ini adalah satu-satunya dosen favoritku. Yang juga favorit hampir semua mahasiswa kedokteran di univ ini. Ya dia adalah pak juyik.


“La la la li li li la la” gumanku yang dibarengi dengan larian kecil dan tangan lenggak sebelah. Karena sebelahnya lagi sedang sibuk memegang tugas. Dengan asyik bersenandungg tiba-tiba “ BRUK “


“OH MY GOOD” TERIAKKU.


“Shiittt” umpat orang yang menabrakku.


"Itu mata kenapa tidak dipake, atau memang sengaja untuk pajangan?" kesalnya kemudian.


Aku yang tadinya sibuk membereskan tugasku di lantai tiba-tiba mendongak keatas. Sambil memperhatikan orang yang menabrakku sebelumnya.


“KAMU” ucapku dengan nada suara keras dan wajah yang menyeramkan. Seperti singa yang siap menerkam mangsanya. Tanpa berkata apapun dia langsung melangkah pergi dan tak lupa mengerutkan kening seolah tidak tahu apa-apa. Tanpa menunggu waktu lama tiba-tiba saja sebuah buku paket mendarat dipunggung pria itu.


“Aww” gumannya.


“Huh rasain” sebalku.


Sebenarnya aku sedikit merasa ibah sih. Tapi yah mau diapa itu juga sebagai pembalasan dendam kejadian  baru-baru dan juga kejadian 3 hari lalu, saat aku dan Lina memperhatikannya.

__ADS_1


Namun karena merasa iba dengan kesakitannya, aku entah kenapa tiba-tiba mendekati dia.


“Sakit ya? Maaf” lirihku.


Tapi dia sama sekali tidak memberi reaksi apapun terhadap pertannyaanku. Hanya sibuk memegangi punggung yang kulempar buku 700 halaman tadi.


“Oh ya, memangnya lo mau kemana?" Tanyaku.


Dengan mengerutkan kening dia berkata “APA AKU HARUS MELAPORKAN SETIAP KEGIATANKU PADA ORANG ASING?”


Aku yang mendengarnya begitu kesal. Tapi berusaha sabar.


"Kenapa dia jutek sama dingin gini sih. muka aja tampan, tapi sifat huh, tidak tertolong lagi" gerutuku yang masih samar terdengar olehnya.


“Apa lo sedang cari seseorang di fakultasku ini? Tanyaku kemudian.


“Ini juga fakultasku kali” jawabnya dengan wajah yang dingin dan serius. Membuatku ingin menamparnya.


"Opss" Jawabku kaget sambil menutup mulutku dengan tangan.

__ADS_1


Jadi lo kuliah disini, semester berapa? Tanyaku kepo.


“SEMESTER 7” jawabnya singkat dengan wajah dinginnya itu.


Oh jadi dia senior yah, pasti sibuk sekali. Pantas tidak pernah ketemu. Jangankan dengan senior. Teman seangkatan yang beda kelas saja jarang ketemu, karena semua sibuk dengan tugas masing-masing. Gumanku.


Tampa menunggu lama dia berlalu pergi dengan wajah dinginnya itu. Aku juga menyusulnya karena memang dia menuju arah yang sama denganku. Namun aku masih bingung dengan orang ini. Setidaknya menurutku dia harus meminta maaf padaku karena sudah menabrakku sebelumnya. Namun melihat wajahnya yang dingin itu membuatku sedikit mengerti bahwa dia memang seseorang yang jutek.


**Ruang Kuliah


Melihatku dengan wajah ditekuk saat masuk ruangan membuat Lina heran. Tidak biasanya pagi-pagi begini aku terlihat kesal. Apalagi hari ini dosen favorit kami yang akan mengajar.


"Woi, kesambet ape lo pagi-pagi" heran Lina.


"Nukan sesuatu yang penting" jawabku malas.


Mendengar jawabanku baru-baru membuat Lina bertambah bingung. Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak penting bisa membuat ekspresi wajahku kusut, apalagi dipagi hari seperti ini. Melihat ekspresi Lina yang bertambah bingung aku langsung memutuskan menceritakan kejadian baru-baru. Sontak Lina heran dengan orang yang menabrakku. Bagaimana mungkin kami tidak pernah bertemu dengannya. Yah setidaknya harusnya kami melihatnya sekilas atau bagaimana gitu.


"Pa juyik pa juyik" histeris beberapa mahasiswi.

__ADS_1


Mendengar perkataan para mahasiswa itu. Kami memutuskun untuk bersiap menerima materi.


Bersambung___


__ADS_2