Si Tampan Gunung Es

Si Tampan Gunung Es
35


__ADS_3

“Lama-lama orang dalam Rumah ini pada gila. Yang mereka bahas hanya berputar ke situ-situ saja. Trus sekarang drama apa lagi coba. Siapa juga yang mau ngedet, apalagi sama cewe kaya dia. Ngerepotin saja” guman Ryan sambil berjalan menuju kamarnya.


Ryan begitu jengkel dengan ejekan keluarganya itu. Namun di satu sisi dia juga merasa senang. Meski dia sendiri tidak mengerti kenapa dia harus merasa senang. Saat dia hendak ingin membersihkan diri, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Rupanya itu adalah Rendi yang dijanjinya akan segera memberi kabar saat sampai ke Indonesia. Tapi nyatanya sampai sekarang juga dia belum sempat menelpon Rendi.


“Ddrrtttt drrttt”


Tampa menunggu lama Ryan segera mengangkat ponselnya yang berbunyi itu.


“Hallo Rend” ucapnya membuka percakapan.


“Oi. Lo dari mana aja? Kenapa ngga ngabarin gue?” teriak Rendi.


“Gue sibuk kali” elak Ryan.


“Lo sibuk ngapain. Sibuk kencan?” ledek Rendi.


“Kencan otak lo” bentak Ryan.


“Trus gimana kabar nyokap gue?” ucap Rendi yang menanyakan kabar tante Rini. Rendi memang sudah menganggap tante Rini dan om Hendra sebagai orang tua keduanya.


“Alhamdulillah dia sudah keluar dari rumah sakit” jawab Ryan yang tiba-tiba nada suaranya berubah karena mengingat ledekan orang-orang di meja makan baru-baru.


“Trus lo kenapa, suara lo ko aneh gitu? Lo marah? Plis deh Yan, yang harus marah itu bukan Lo tapi gue” cerewet Rendi.


“Emang siapa juga sih yang marah ke lo” jawab Ryan.


“Trus lo marah sama siapa?” Tanya Rendi penasaran. Dan itu membuat Ryan terpaksa menceritakan kejadian di meja makan tadi.


“Hhhahhaah” tertawa Rendi mendengar penjelasan Ryan.


“Hahah, Jadi kalian memutuskan untuk kencan dimana?” ejek Rendi masih dengan tawanya.


“Oh ya. Dindea nanyain lo mulu nih. Bikin gue pusing saja” tambah Rendi.


“Ngapain sih, nanya-nanyain gue?” Tanya Ryan jengkel.


“Yeeeh, lo kaya ngga tau dia aja” jawab Rendi.


“Ya udah deh. Gue tutup dulu, mau mandi gue” ucap Ryan.


“Ok. Titip salam sama nyokap bokap. Oh ya, semoga lancar kencan lo. hahaha” ucap Rendi masih dengan meledek Ryan. Namun Ryan segera mematikan sambungan telpon mereka.

__ADS_1


“Sekarang tambah Rendi juga yang gila” guman Ryan dan segera berlalu ke kamar mandi.


**


“Oh ya Syam, orang tuamu ngga pernah mengunjungimu?” Tanya tante Rini saat kami sedang bersantai di ruang keluarga, yang kini tersisa kami bertiga. Sedangkan om Hendra yang seharusnya libur hari ini, terpaksa kembali ke rumah sakit karena ada pasian daruratnya. Yah, begitulah seorang dokter. Pasien adalah prioritas.


“Hanya skali-skali tant, karena mereka juga sibuk” jawabku.


“Emang apa kesibukan mereka Syam?” Tanya tante Rini penasaran.


“Ayah punya perusahaan kerajinan tangan dan ibu punya butik tant. Memang sih usaha mereka belum terlalu besar, tapi entah kenapa itu cukup menyita waktu mereka” tuturku.


“Ngga kok tant, usaha orang tua Syam sudah sangat berkembang kok. Apalagi butik ibunya. Mama aku aja langganan tant” tambah Lina.


“Kamu kebiasaan deh Syam. Selalu saja merendah” ucap tante Rini.


“Emang nama butik mama kamu apa Syam?” Tanya tante Rini.


“SYARHA BUTIK tant” jawabku.


“Jadi mama kamu pemilik butik SYAHRA BUTIK? Berarti nama mama kamu RINA SYAHARA?” tanta tante Rini antusias.


“Ya iyalah Syam. Butik itu kan langganan tante. Aku juga kenal baik sama mama kamu” tutur lembut tante Rini.


“Coba deh kamu Tanya mama kamu. Tapi jangan sebut nama Rini, tapi harus Rini Dwi atau nyonya Adwijaya. Pasti dia langsung tau” jelas tante Rini.


“Oh pantas selama ini aku sering ceritain tante sama ibu, dia biasa aja. Mungkin karena aku sebut nama tante Rini saja, bukan tante Rini dwi” jawabku.


“Itukan aku bilang juga apa, usaha orang tua lo itu terkenal Syam” tambah Lina.


“Biasa aja kok Lin” jawabku merendah.


“Oh ya Syam, kalau ibu atau ayahmu datang berkunjung. Ajak ke sini juga yah!” ucap tante Rini.


“Emang kenapa tant?” tanyaku bingung.


“Ngga ada apa-apa sih. Tante cuman mau lamar kamu” ucap tante Rini dengan gaya bercanda.


“Ah, tante bisa aja” jawabku kaku menanggapi candaan tante Rini. Entah mengapa meskipun tante Rini hanya bercanda, mendengar kata-katanya itu membuatku sedikit gugup.


“Ca ellah. Ngga usah gugup gitu kali Syam” ejek Lina yang melihatku gugup, tak lupa dia menyenggolku dengan bahunya yang kebetulan kami sedang berdampingan. Aku hanya melototkan mataku pada Lina.

__ADS_1


“Entah dia ini sahabatku atau bukan, kenapa selalu memojokanku pada saat-saat seperti ini sih?” pikirku.


“Emang mama mau lamar dia untuk siapa? Mang Dio?” Tanya Ryan dengan ekspresi mengejeknya saat melewati mereka. Aku langsung memasang wajah masam.


“Ryan, kamu mau kemana?” Tanya tante Rini saat melihat Ryan yang hendak keluar dengan pakayan santai tapi terlihat begitu tampan.


“Mau cari angin mah” jawab Ryan santai.


“Oh ya tant. Aku juga mau pamit. Soalnya aku ada janji sama mama papahku” izin Lina terburu-buru.


“Aku juga mau bareng Lin” ucapku pada Lina.


“Kak Ryan, aku titip Syam yah. Soalnya aku buru-buru banget nih” ucap Lina pada Ryan.


“Tant, aku duluan yah. By Syam” lanjut Lina dan bergegas keluar. aku yang melihatnya hanya bingung. Kenapa dia begitu buru-buru padahal tadi biasa saja. Ini pasti hanya akal-akalan Lina.


“Kalau gitu aku juga pamit yah tant sudah sore bangat nih” izinku pada tante Rini.


“Kamu bareng Ryan saja Syam, ini sudah mau maghrib” ucap Tante Rini.


“Kamu mau kan Yan?” Tanya tante Rini pada anaknya. Yang dibalas dengan anggukan oleh Ryan. Walau anggukannya terpaksa sih karena sudah diancam dengan tatapan mamahnya.


“Ya sudah kita jalan skarang. Keburu maghrib” ucap Ryan jutek.


“Mah, kami pergi dulu. Nanti Ryan cepat pulang” izin Ryan.


“Iya, kalian hati-hati. Kalau kalian mau jalan-jalan dulu juga boleh” ledek tante Rini. Aku hanya tersenyum menanggagpi ejekan tante Rini. Lalu menyusul Ryan ke luar rumah. Dan menuju garasi dimana mobil Ryan saat ini berada.


“Ayo buruan naik. Lama banget sih” jutek Ryan.


“Ini juga mau naik kok” jawabku tak kalah jutek.


Setelah aku naik mobil mewah itu, Ryan segera melajukan mobilnya. Beberapa menit selama pejalanan kami, aku kembali memecah kehingan yang seperti kebiasaan kami kalau sedang berdua saja di dalama mobil.


“Lo, bisa berhenti sebentar ngga di minimarket itu, aku perlu beli sesuatu” ucapku yang tidak di tanggapai oleh Ryan. Namun Ryan tetap berhenti di minimarket itu. Tidak untuk membuatnya marah, aku segera turun dari mobil, tak lupa menanyakan apa yang dia butuhkan.


“Lo mau minum nggak?” Tanyaku.


“Nggak” jawabnya singkat.


“Ok” jawabku dan langsung menuju minimarket itu. Tidak untuk menunda waktu, aku segera mencari semua barang yang aku perlukan di aprtemen.

__ADS_1


__ADS_2