Si Tampan Gunung Es

Si Tampan Gunung Es
22


__ADS_3

Hari ini begitu berisik di rumah Ryan. Tante Rini yang tidak bisa berhenti menangisi anaknya yang akan melanjutkan studinya ke luar negri, menambah bisingnya suasana. Ya hari ini adalah hari Ryan akan berangkat ke Inggris. Pria yang berdarah separuh Inggris itu masih tetap kukuh pada pendirian awalnya untuk melanjutkan studi di sana. Namun, meskipun tante Rini paham betul keinginan anak semata wayangnya itu, tetap saja dia tidak rela melepaskan anaknya pergi ke Inggris. Dan hal itu adalah normal bagi seorang ibu.


Aku yang menyaksikan tante Rini, juga begitu terharu. Seperti inikah perasaan seorang ibu? Serapuh inikah mereka saat ditinggal pergi oleh anaknya? Padahal tante Rini tahu betul jika di sana ada kakek dan neneknya Ryan. Lalu bagaimana mereka yang meninggalkan ibunya tampa kabar berita? Begitu hancurnya perasaan ibu mereka. Aku bertanya-tanya dalam lamunanku.


Sedari tadi papa Ryan menenangkan istrinya. Sebenarnya dia juga tidak tega melihat istrinya seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, ini juga untuk kebaikan Ryan.


“Mah, mama sudah dong. Ryan juga ngga lama kok tinggal di sana” terang om Hendra.


“Tapi pah, huhuhu. Mamaaa takut Ryan kenapa-napa” jawab tante Rini masih sesegukan.


“Mah, Ryan kan bukan anak kecil lagi. Lagian di sana ada kakek sama nenek” jelas Ryan membantu menenangkan mamanya.


“Nanti Ryan sering-sering balik deh mah” tambah Ryan lagi.


Melihat tante Rini yang belum juga tenang, aku segera memutuskan untuk menenangkan tante Rini. Yang memang kehadiranku dibutuhkan untuk hal ini.


“Tant, tante sudah ya. Aku yakin kalau kak Ryan bisa ngurus diri sendiri” jelasku.


“Tapi Syam” tante Rini masih sesegukan.


“Nanti Syam sering-sering kesini deh, nemanin tante Rini” tambahku lagi.


“Kamu serius Syam?” Tanya tante Rini antusias.


“Iya tant, kalau perlu Syam akan selalu di sini kalau lagi ngga sibuk” tambahku lagi.


“Iya mah, kalau perlu Syam tinggal disini bareng kita” canda om Hendra ketika melihat wajah istrinya yang mulai tersenyum.


“Hebat juga nih cewe, baru sedikit bicara mamah sudah tenang. Sedangkan aku sama papa dari tadi tenangin mama, mama ngga tenang-tenang juga” guman Ryan.


Melihat mamanya yang mulai tenang Ryan memutuskan untuk segera pamit. Takutnya mamanya jadi sedih lagi.


“Ya udah, Ryan mau jalan skarang. Takutnya Ryan ketinggalan pesawat mah” izin Ryan sambil memeluk mamanya lalu melirikku dengan wajah yang tidak bisa kutebak, dan aku hanya diam membisu.


“Kamu baik-baik yah disana sayang. Jangan lupa kabarin mamah” pinta tante Rini pada anaknya.

__ADS_1


“Iya mah, mama juga jaga kesehatan. Ingat jangan sampai kecapean!” perintah Ryan.


“Ayo Ryan” ajak om Hendra.


Tante Rini memang sengaja tidak mengantar Ryan ke bandara. Dia takut tidak bisa melepaskan Ryan.


“Mah, kita brangkat yah. Syam titip tante yah” ucap om Hendra.


“Iya om tenang saja” jawabku.


Om Hendra segera keluar dan menuju mobil, Ryan pun segera menyusulnya. Berbeda dengan om Hendra yang sudah di dalam mobil, Ryan malah terhenti di depan pintu karena ada yang memanggilnya.


“Ryan, maksudku kak Ryan” panggilku kaku dengan sebutan kak. Aku sengaja menggunakan kata kak, karena sedang ada tante Rini.


Ryan tiba-tiba menoleh bingung sambil mengerutkan kening tanda tidak mengerti. Aku yang melihatnya berhenti memutuskan untuk segera mendekatinya.


“Nih, buat lo” ucapku sambil menyodorkan sebuah kotak kecil persegi panjang, yang terbungkus rapi dan cantik dengan kertas berwarna navy.


“Apa?” Tanya Ryan lagi yang masih bingung.


Di dalam mobil om Hendra yang sedang menyaksikan kejadian antara aku dan Ryan, langsung tersenyum. Om Hendra merasa seolah sedang menonton film remaja, yang malu-malu cinta.


Ryan yang sedang menaiki mobil masih dengan memasang senyum indahnya itu, sontak mendapat ejekan dari papahnya. Karena Ryan memang terkenal dengan wajah dinginnya jika berhadapan dengan cewek. Walau cewek cantik sekalipun.


“Ciiiiyeeee, uukhum. Ada yang lagi kasamaran nih mang” ledek om Hendra.


“Apa sih pah, siapa coba yang kasmaran?” elak Ryan yang masih sibuk memandangi kotak kecil tadi dengan senyumnya.


“Ukhum. Kalau gitu kadonya buat papah saja, gimana?” pancing om Hendra dengan posisi tangan siap merampas kotak kecil itu, namun Ryan dengan sigap menepis tangan papahnya.


“Santai kali Yan, papah juga ngga berminat dengan kado orang lain” jelas om Hendra.


“Lagian papah sih” kesal Ryan.


“Ya sudah, kamu mau nomornya ngga?” ledek om Hendra lagi.

__ADS_1


“NGGA! Papa apaan sih. Untuk apa juga Ryan pelu nomornya?” tolak Ryan mantap.


“Haahah. Kamu yakin ngga butuh, padahal papa punya loh nomornya” Om hendra masih semangat ledekin Ryan yang masih jual mahal.


“Terserah papah deh” jawab Ryan malas.


**Apartemen adryan


Setelah perjalanan panjang yang begitu menguras tenaga, akhirnya Ryan sampai di apartemen mewah miliknya. Tampa menunda waktu, Ryan bergegas masuk kedalam apartemen yang untungnya sudah terlebih dahulu dibersihkan oleh petugas. Di apartemen Ryan memang ada yang bertugas untuk bersih-bersih. Hanya saja dia tidak tinggal di situ. Karena sudah begitu lelah, Ryan memutuskan untuk langsung mandi dan istrahat.


Drrrrtttttt drttttttt.


Ponsel Ryan berbunyi ketika dia masih sementara istrahat. Dengan masih tidak bersemangat dia segera meraih ponselnya, dan rupanya yang menelpon adalah mamanya. Dia segera mengankatnya karena merasa bersalah telah lupa mengabari mereka, padahal dia sudah sampai 1 jam lalu.


“Hallo, assalamualaikum mah” jawab Ryan.


“Walaikumussalam sayang. kamu sudah sampai Yan?” Tanya mama khawatir.


“Iya mah. Ryan sudah sampai sejam lalu di apartemen. Maafin Ryan mah, tadi Ryan lupa ngabarin mama soalnya cape banget tadi” jelas Ryan.


“Ngga papa sayang. Mama ngerti kok. Oh ya, kamu langsung ke apartemen ngga singgah dirumah kakek dulu?” Tanya mama.


“Ngga mah, soalnya apartemen lebih dekat dengan bandara dibanding rumah kakek. Tapi nanti aku ke sana deh” jelas Ryan.


“Ya udah, kamu istrahat lagi. Mama tutup. Assalamualaikum” ucap mama.


“Walaikumussalam, iya mah” jawab Ryan.


Ttuuuuuuut tut.


Setelah sambungan telpon dengan mamanya terputus. Ryan segera memindahkan barang-barangnya ke dalam lemari. Ryan langsung tersenyum ketika melihat kotak navy pemberianku tadi yang disimpan dalam tas selempang miliknya.


“Sebenarnya apa sih isinya” penasaran Ryan sambil memutar balikan kotak kecil itu.


"Huh dasar cewe aneh" ucap Ryan sambil tersenyum dan masih dengan memainkan kotak kecil itu.

__ADS_1


__ADS_2