Si Tampan Gunung Es

Si Tampan Gunung Es
19


__ADS_3

"Hei" tegur Lina.


"HA" kagetku.


"Lo sih pagi-pagi sudah bengong, kesambet nanti lo" ledek Lina.


Yah, sejak tadi aku memang lagi bengong. Aku hanya merasa aneh dengan diriku sendiri. Bagaimana lagi selama beberapa minggu terakhir ini aku merasa seperti tidak pernah bertemu dengan Ryan si gunung es itu. Yah, walaupun terkadang aku melihatnya dari kejauhan. Tapi dia selalu memasang wajah dinginnya itu. Bukan tambah jengkel aku kadang merasa malah tambah suka dengan wajahnya yang tampan tapi dingin itu.


"Bengong lagi nih anak" guman Lina.


"Gue kerjain ah" sambungnnya.


"Eh ka Ryan tuh" guraunya.


Mendengar Lina menyebutkan nama Ryan, sontak mataku terbelalak dan refleks bertanya pada Lina.


"Mana-mana?"


"Ahhahahahahh" puas Lina.


"Kena kan lo, lagian dari tadi bengong mulu" sambungnya.


"Lo apaan sih Lin, ada-ada saja" kesalku.


Tanpa menunggu Lina mengajukan pertanyaan aku memutuskan untuk berlalu meninggalkan Lina dan menuju musola. Masih dalam keadaan terburu-buru aku berjalan menuju koridor musola. Tiba-tibaaaaa..


"BRUUUUKKKK"

__ADS_1


Karena aku tiba-tiba berhenti, Lina tampa sengaja menabrak punggungku yang memang sedari tadi mengikuti langkahku di belakang.


"Huh, tu kan kebiasaan deh lo. Coba kalau mau berhenti bilang bilang gitu, kan gini jadinya" cerewet Lina.


Aku yang sedari tadi hanya mematung tampa menghiraukan omelan Lina. Lina yang merasa aneh akhirnya melihat kedepanku. Rupaya Ryan sedang memperhatikan kami yang sedang ribut (hanya Lina sih yang ribut, heheh). Ryan juga akan menuju musola hanya saja dari arah yang berlawanan dengan kami.


"Eh ka Ryan" sapa Lina.


"Ka Ryan mau ke musola juga ya?" lanjut Lina dan Ryan mengangguk.


"Ya udah ka Ryan duluan aja" Lina lagi.


Tampa berkata apapun dia langsung pergi, tak lupa memperhatikan aku yang masih terdiam di tempat.


"Ayo" tarik Lina yang melihatku masih juga tidak bergerak.


"Kemana?" Tanyaku bingung.


"Kemana aja, ke mol kah atau kemana gitu"


Lina memang cukup royal. Hal itu karena dia memang bukan dari kalangan bawah.


ayahnya memiliki hotel terkenal di Jakarta dan ibunya memiliki toko perhiasan. Jadi, sangat wajar jika dia tidak begitu memperhitungkan uang walau hanya untuk membeli barang yang tidak penting.


"Ok deh" setujuku.


"Aku traktir kamu syoping kamu traktir makan" ajaknya.

__ADS_1


"Ok, lo memang paling mengerti diriku" jawabku sedikit lebay.


Lina memang sangat mengerti kalau aku selalu saja menolak jika Lina yang terus terusan membelanjakanku. Lina benar-benar orang yang pengertian.


Setelah mendengar tawaran Lina aku malah tambah senang.


"Ok deh Lin. Kebetulan uang beasiswaku sudah cair nih, heheh" balasku.


"Ok, lebih baik lagi. makin banyak saldo makin asyik" jawab Lina antusias dengan gaya centilnya.


Walaupun keluargaku juga cukup mampu, tapi aku tidak seboros Lina. Aku hanya berbelanja yang perlu-perlu saja. Dan untungnya lagi, beasiswa yang kudapat selain menanggung kuliah ada juga uang sakunya. Jadi aku bisa sedikit berhemat dari uang orangtuaku.


...


Tidak terasa Perbincangan singkat itu sudah mengantarkan kami sampai musola. Kami langsung bergegas bersiap-siap solat, karena muazim sudah mengumandakan iqamah.


Setelah keluar dari musola. kami memutuskan untuk segera pulang. Karena jam kuliah kami untuk hari ini memang sudah berakhir.


"Oh ya Lin, gue ngebeng sama lo yah?" pintaku.


"Ngebeng?? Emang motor kesayangan lo kemana Syam?" tanya Lina bingung.


"Biasa lah Lin, lagi masuk RS dia" jawabku.


"Ya udah, Ayo" Ajak Lina.


Lalu kami jalan berbarengan menuju parkiran, dimana mobil Lina bertengker.

__ADS_1


 


__ADS_2