Si Tampan Gunung Es

Si Tampan Gunung Es
09


__ADS_3

"PLAAAKKK" tiba-tiba mendarat sebuah pukulan dikepala Rendi.


“Sakit Yan. Sakit”. Ringis Rendi sambil memegang bagian kepala yang dipukul Ryan.


“Lo sih. Ada-ada saja”. Jawab Ryan ketus.


“Namanya juga bercanda Yan. Emang kenapa sih bro?” Rendi


“Tadi mama sama papa gua, ngomongin gadis yang pernah ditabrak papa gua. Itu loh yang pernah gua ceritain” jawab Ryan malas.


“Hah. Emang kenapa dengan gadis itu” Tanya Rendi heran.


“Ngga tau deh. Intinya isi pembahasan mereka hanya seputar gadis itu. Baik lah. Cantik lah. Soleh lah” jelas Ryan dengan wajah mengejeknya.


“Heheh. Mau dijodohin kali lo”. Ledek Rendi.


“Ada-ada aja lo. Emang ini zaman apa?”. Jawab Ryan kesal.


“Sambil menggerutu Ryan berjalan cepat. Dan diikuti rendi.


***


Diujung koridor sana terlihat aku dan lina yang terburu-buru, bukan karena tanpa alasan, tapi karena kami mengejar deadline pengumpulan tugas yang tinggal beberapa menit lagi.


“Syam liat nih pesan Andra” ucap lina dengan wajah cemas sambil memperlihatkan pesan Andra yang ada di grub kelas. Oh ya, andra adalah ketua tingkat di kelas kami.


“HAH, 15 menit lagi?" Syok aku.


“Ya sudah ayo cepat jalan” perintahku sambil berjalan cepat mendahului Lina.

__ADS_1


“Ya ellah Syam, dari tadi juga kita jalannya ngebut” jawab Lina ngos-ngossan.


Karena terlalu terburu-buru aku sampai lupa memperhatikan jalan, dannnn


“BRUKKK..


“Aaduhhhh... lo kalau jalan liat-liat dong. Huh”. Ucap Ryan kesal, ditambah lagi kesal yang tadi belum selesai.


“HA, GUE? Sambil menunjuk diriku.


"Lo kali yang ngga liat jalan” ketusku yang tidak kalah seram.


“Ehhh?. Jadi lo. Lo lagi lo lagi. Bikin gua sial aja”. Jawabnya sinis.


“HAH, Yang ada lo kali. Yang bikin gua sial mulu” jawabku heran.


“Lagian lo kali yang salah Yan. Ngapain jalan sambil marah-marah. Jadinya kan gini” tambah Rendi.


“Apa si Rend”. Kesal Ryan.


“Syam mending jangan diperpanjang deh, kita kan buru-buru” ucap Lina menenangkan.


“Oh ya. Kamu Syam sama Lina kan?. Maafin teman gua Syam. Dia emang kaya gitu modelnya. Tapi sebenarnya baik kok." Seru Rendi sambil melirik Ryan, sedangkan Ryan masih stay dengan wajah dingin yang menjengkelkan.


“oh ya kak, lina sama syam duluan yah, lagi buru-buru soalnya. Sekalian mau minta maaf juga” tutur Lina, sambil menarikku yang masih dalam posisi kesal.


Tanpa berpikir panjang aku langsung mengikuti Lina, dan tak lupa melirik sinis Ryan sebelum berlalu pergi.


“Apa-apaan sih lo Rend. So baik banget” ketus Ryan.

__ADS_1


“Lo. Yang apa-apan Yan. Udah nabrak malah marah-marah”. Jawab Rendi kesal.


“Ya udah ayo ke kelas”. Sambung rendi.


**Di kelas Adryan


“Pagi Ryan”. Sapa cewek-cewek kelas.


Ryan memang populer. Selain karna ketampannannya dia juga cerdas. Dan yang paling bikin luluh itu sifat dinginnya. Huh bikin melelah cewek-cewek. Sebenarnya Ryan juga bingung sih, orang dingin kok malahan di idolakan. Cewek-cewek sekarang memang aneh.


“Hi Ryan”. Sapa Dindea, salah satu cewek cantik dikelas Ryan. Dindea dari dulu memang ngejar-ngejar ryan.


“Hm”. Jawab Ryan singkat dengan wajah dinginnya dan berlalu ketempat duduknya.


“Hi Din”. Sapa Rendi.


“Sabar ya”. tambahnya


“Huh. Apa sih loh”. Judes Dindea.


“Yan. Napa sih loh. Nolak Dindea trus. Ngga kasian?. Lagian kan dia cantik” tanya Rendi


“Ogah gua. Orang kaya dia mah banyak. Jadi gua malas ladenin”. Jawab Ryan ketus.


“Tapi kok dia ngejar lo trus yah. Ngga cape apa?” bingung Rendi


“Yah. Gua juga bingung Rend. Coba lo tanya dia gih. Gua sih malas ladenin” Ryan masih dengan wajah malas.


“Ya elah Yan. Santai kali kalau ngomong”. Jangan ngegas gitu" Rendi.

__ADS_1


__ADS_2