Si Tampan Gunung Es

Si Tampan Gunung Es
07


__ADS_3

**Rumah Adryan


Diruang keluarga yang begitu mewah itu, terlihat Mamah sama papah Adryan yang sedang sibuk menonton serial korea kesukaan mereka, sambil ditemani cemilan.


“Oh iya papa lupa mgembaliin motor Syam mah” ucap om Hendra sambil tepuk jidat.


“Ya udah suru saja si Ryan pah. Sekaliah siapa tau naksir samaaaa. Siapa pah namanya?” jawab Rini sambil berpikir.


“Syam. Namanya Syam mah" jawab om Hendra.


“Oh iya” tante Rini


"Mamah ada-ada saja” imbuh om Hendra menanggapi istrinya.


“Ya kali aja pah, dia jadi mantu kita” ucap tante Rini.


"Hahaha". Mereka tertawa bersamaan.


 


Berbeda dengan kedua orang tuanya yang sedang bersantai diruang keluarga, Ryan justru sangat sibuk bergulat dengan tugas akhirnya didalam kamar kebanggan pria itu.


“Yan”. Panggil mahendra


“Iya pah”. Ada apa?" jawab Ryan dibalik kamarnya.


“Kamu sibuk?” om Hendra


“Iya pah. Lagi nyusun nih pah” Ryan

__ADS_1


“Oh ya uda deh. Lanjutin aja” om Hendra


“Emang kenapa pah?” Ryan.


“Tidak, tidak. Lanjutin aja” om Hendra.


“Ok deh pah”.


Karena mendapat jawaban yang tidak sesuai dengan harapan dari Ryan, akhirnya papah Ryan memutuskan mencari mang dio untuk membantunya mengembalikan motor Syam.


“Mang. Kamu tolong anterin motor di alamat ini yah” perintah om Hendra.


“Siap tuan” jawab mang dio antusias.


“Emang motor siapa tuan?” lanjut mang Dio.


“Itu motor gadis yang tolongin saya tadi” om Hendra


“Panjang ceritanya mang, ngga keburu kalau saya cerita. Mending kamu antarin deh motornya sekarang, takut kemalaman” om Hendra.


“Siap tuan” jawab mang Dio dengan tangan khas menghormat majikan.


****


Diapartemen minimalisku, aku sedang bersantai ria sambil menikmati lantunan murotal Al-Kahf dari speaker miniku yang merupakan lantunan dari salah satu hafiz favoritku, yah dia adalah hafiz yang sangat menyukai maqom nahawan. Jujur saja aku sangat menyukai suara hafiz ini, terutama saat dia melantunkan ayat-ayat al-quran dengan maqom nahawan, rasanya seperti terbawa dalam suasana sedihnya. Seperti terkena tamparan, ketika dia mengucapkan ayat-ayat tentang siksa neraka dengan maqom nahawan andalannya.


Drrt.drt.drt


Ponselku berbunyi. “Nomor baru. siapa yah?. Angkat aja deh. Sapa tau penting” gumanku sambil memperhatikan layar ponselku.

__ADS_1


“Assalamualikum. Hallo" jawabku.


“Dengan siapa?” kembali aku bertanya.


“Ini om Syam, yang minjam motor kamu tadi”, om Hendra menjelaskan.


“Oh iya om. Syam tau” bagimana om?" tuturku.


“Sekarang ada yang mau anterin motor kamu. Dan makasih yah untuk bantuannya. Kamu sangat baik Syam”. Tambahnya.


“Iya om. Sama-sama. Lagian itu hal biasa kok om. Kalau itu orang lain, pasti bakal ngelakuin  hal itu juga kok” jawabku merendah.


“Iya iya. Kamu merendah lagi" timpal om Hendra.


" Oh ya Syam, istri om titip salam nih. kalau bisa katanya dia mau ketemu sama kamu, Syam" tutur om Hendra.


"Oh iya om. salam balik sama tante" jawabku sopan.


"Boleh tidak, kalau kapan-kapan istri om ketemu Syam, soalnya dia penasaran banget sama Syam?" pinta om Hendra.


"Oh, tentu saja om. Syam juga pasti bakal senang. Syam yakin tante orang baik sama seperti om" tuturku kembali.


"Baiklah Syam, terimakasih sudah mau mengerti istri om"


“Ya sudah. Ini sudah malam. Maaf ya, om mengganggu waktu istrahat Syam". jelas om Hendra merasa tidak enak.


“Oh tidak masalah om" jawabku.


"Assalamualaikum" om hendra.

__ADS_1


"Walikumussalam” sambungku mengakhiri sambungan telepon kami.


Setelah sambungan telpon itu terputus. Aku jadi teringat om Hendra. Menurutku dia orang yang ramah. Dan sepertinya dia juga sangat penyayang pada keluarganya.


__ADS_2