
Siang itu Ryan dan Rendi sibuk menyelesaikan urusan mereka di rumah sakit, sebab besok mereka akan pergi berlibur. Mengingat pekerjaan mereka akhir-akhir ini sangat banyak, jadi dokter Grad menyarankan mereka untuk libur dulu. Karena mereka juga sebenarnya hanya sedang KOAS di rumah sakit itu, itupun sudah hampir selesai. Mendengar tawaran yang menarik, Ryan dan Rendi tidak ingin meyia-nyiakan kesempatan. Mereka langsung setuju untuk berlibur, walaupun mereka belum tau harus liburan dimana. Tapi dimanapun itu, asal namanya liburan mereka sudah sangat senang.
“Oi bro. jadi kita liburan di mana nih?” Tanya Rendi saat mereka hendak akan makan siang.
“Terserah kamu saja, kamu kan paling tau yang begituan” santai Ryan.
“Yah, tapikan kamu yang orang asli sini, aku mana tau tempat-tempat bagus di sini” ucap Rendi.
“Iya juga sih. Kalau gitu kita ke pantai, tidak begitu jauh kok dari sini. Di sana juga ada vila keluarga gue” tawar Ryan ketika teringat pantai kesukaanya.
“Itu baru. Boleh lah” jawab Rendi antusias.
“Ya udah, besok kita brangkat pagi-pagi” ucap Rendi lagi.
“Ok lah” setuju Ryan.
Setelah menyelesaikan shift mereka. Rendi dan Ryan segera pulang ke rumah mereka masing-masing. Untuk menyiapkan segala keperluam mereka. Yah, walaupun itu tidak seribet keperluan perempuan sih.
**
Pagi ini cuaca terlihat sangat cerah, sangat mendukung untuk perjalanan mereka. Ryan dan Rendi telah selesai dengan persiapan mereka di apartemen masing-masing.
“Drrrtttt drrttt” ponsel Rendi berbunyi, dan yang memanggil adalah Ryan.
“Hallo bro” sapa Rendi.
“Oi, lo dimana?” Tanya Ryan.
“Gue di apartemen. Lo datang sekarang saja. Kebetulan gue sudah selesai” perintah Rendi.
“Ok. Gue jalan skarang” ucap Ryan sambil mematikan sambungan telpon mereka.
Setelah sambungan telpon mereka berakhir, Rendi bersiap-siap keluar apartemen. Namun belum sempat dia membuka pintu, bel pintunya sudah keburu berbunyi.
“Hah, kok Ryan sudah sampai. Cepat baner tuh anak” heran Rendi dengan terburu-buru membuka pintu.
“Hi Rend” sapa Dindea santai.
“Astaga, gue lupa lagi kastau Ryan kalau Dindea juga ngikut” guman Rendi.
“Hei, jadi kan?” Tanya Dindea menyadarkan lamunan Rendi.
“Jaa jadi. Tapi gue lupa bilang ke Ryan” ucap Rendi.
“Drrrtt drrrttt” ponsel Rendi berbunyi lagi.
“Oi bro, buruan lo turun! Gue di depan nih” perintah Ryan yang tidak ingin menunggu lama.
__ADS_1
“Ok bro, tapiiii” belum sempat Rendi menjelaskan, Ryan keburu mematikan sambungan telponnya.
“Ya udah deh Dind, kita turun skarang. Ryan sudah di bawah tuh” ajak Rendi. Dan Dindea anstusias mengikuti rendi.
Tidak butuh waktu lama, Dindea dan Rendi kini terlihat menuju mobil Ryan. Sontak Ryan kaget melihat mereka datang bersamaan. Dan kenapa harus ada Dindea, seingatnya dia tidak mengajaknya dan Rendi juga tidak bilang apa-apa perihal ini. Dindea juga lengkap dengan bawaanya sama seperti Rendi, bahkan bawaannya sedikit lebih banyak di banding Rendi dan dirinya.
“Oi bro, sory lama?” sapa rendi menyadarkan lamunan Ryan.
“Kalian pacaran, kok sampai tinggal serumah gini?” Tanya Ryan heran.
“Hah pacaran, tinggal serumah?” kaget Dindea dengan pertanyaan Ryan. Sedangkan Rendi hanya diam, seolah sudah bisa menebak isi pemikiran sahabatnya itu.
“Ngapain juga aku harus pacaran sama dia, apalagi tinggal serumah. Hiiiii” jawab Dindea sambil bergidik ngeri melihat Rendi.
“Apa sih lo Dind, santai kali” ucap Rendi jengkel dan segera memasuki mobil Ryan. Namun belum sempat dia naik ke mobil, Dindea lebih dulu masuk dan duduk di samping Ryan.
“Huh, dasar cewek sinting” sebal Rendi. Lalu membuka pintu belakang dan masuk.
“Rend, lo utang penjelasan ke gue. Ini apa maksudnya coba?” ucap Ryan yang masih bingung dengan apa yang terjadi.
“Jadi, semalam gue ngga sengaja ketemu tuh cewek saat mau cari makan. Jadi dia Tanya-tanya gitu tentang libur kita hari ini. Pas gue bilang kita mau ke pantai, yah dia langsung mohon-mohon ke gue buat ikut. Karna gue kasihan, gue izinin deh” jelas Rendi.
“Gue ngga sampai mohon-mohon juga kali Rend” sebal Dindea.
“Trus kenapa lo ngga bilang ke gue? Sama tadi juga, kenapa kalian keluar dari gedung yang sama?” Tanya Ryan.
“Hummm, pantas. Tapi kalian yakin ngga ada hubungan apa-apa?” selidik Ryan.
“Ya ngga lah” jawab mereka serentak.
“Haahhah, gue curiga kalian ini jodoh. Apartemen saja bisa tetanggaan gitu” ledek Ryan, sedangkan mereka hanya saling melirik ngeri.
**
Setelah perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka sampai juga di vila keluarga Ryan.
“Oh ya, kamar aku di atas. Nanti kalian tinggal cari saja kamar untuk kalian sendiri. Aku sudah menyuruh petugas untuk membersihkannya kemarin. Jadi kalian hanya perlu memilih kamar kalian” perintah Ryan.
“Ok” jawab Rendi.
“Ryan aku di samping kamar kamu saja yah” bujuk Dindea.
“Terserah kamu saja Dind, asal jangan menggangguku” ucap Ryan.
Mendengar jawaban Ryan, Dindea langsung bersemangat.
“Ok. Makasih Ryan” ucap Dindea.
__ADS_1
“Huh, dasar aneh. Gitu aja sudah senang” cerewet Rendi.
“Syirik aja lo jadi orang” ketus Dindea.
Tampa menunggu perdebatan mereka selesai, Ryan memutuskan untuk meninggalkan mereka. Karena Ryan benar-benar merasa kelelahan menyetir dalam perjalanan yang cukup jauh tadi.
“Huh, cape juga. Sudah lama juga ngga jalan jauh” guman Ryan saat merebahkan dirinya di tempat tidur.
Setelah mereka istrahat, Ryan dan Rendi berencana untuk turun ke pantai. Tak lupa Dindea juga mengikut.
Mereka benar-benar menikmati liburan mereka. Terutama Dindea yang tidak berhenti menempel pada Ryan. Ryan sebenarnya ogah terus-terusan di ikuti Dindea, tapi mau bagaimana lagi, Dindea terus memaksa mengikut. Sedangkan Rendi sangat jengkel melihat tingkah Dindea yang terlalu lebay.
“Lo apa-apan sih Dind, nempel Ryan mulu” jengkel Rendi.
“Ngga tau nih anak. Heran gue” jawab Ryan. Namun Dindea seolah tidak mendengar yang mereka katakan.
Setelah seharian mereka bermain di pantai. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke vila. Ryan langsung masuk ke kamarnya dan membersihkan diri. Tidak butuh waktu lama bagi Ryan untuk menyelesaikan ritual mandinya. Lalu dia segera beristirahat. Karena rencana malam nanti mereka akan keluar lagi.
**
Saat bangun dari tidurnya Ryan kaget melihat Dindea sedang berdiri santai di dalam kamarnya. Sontak dia langsung berdiri dari ranjangnya.
“Lo ngapain di sini Dind?” Tanya Ryan.
“Gue cuman pengen liat lo” jawab Dindea santai.
“Lo betul-betul yah Dind, mending lo keluar deh dari kamar gue” kesal Ryan.
“Tapi Yan, gue mau ngomong sama lo?” ucap Dindea.
“Nanti aja deh. Mending lo kluar skarang” usir Ryan.
“Gue suka sama lo Yan. Kenapa sih loh ngga peduli bangat sama gue” jelas Dindea sambil memeluk Ryan.
“Apa-apan sih lo. Mending lo cari yang lain deh Dind. Gue ngga tertarik sama lo” Ucap Ryan santai.
“Glleekkk” Ucapan Ryan bagaikan busur panah yang tepat mengenai hati Dindea.
Tampa sengaja Dindea meneteskan air mata karena mendengar ucapan Ryan. Diandea dengan cepat meninggalkan kamar Ryan dan berlari ke luar. Sontak Rendi kaget melihat Dindea yang masih dengan mata berkaca-kaca. Rendi lalu masuk ke kamar Ryan tempat dimana Dindea keluar.
“Heh, bro. Lo apain si Dindea?” Tanya Rendi bingung.
“Gua ngga ngapa-ngapain kok” jawab Ryan santai.
“Trus kenapa dia nangis?” Rendi bertambah bingung.
“Gue cuman bilang kalau gue ngga tertarik sama dia. Itu ajah” jawab Ryan.
__ADS_1
“Hah, longomong gitu. Tapi sekarng lo masih santai? Ngga punya hati emang lo” jengkel Rendi dan langsung berlari keluar mencari Dindea.