Si Tampan Gunung Es

Si Tampan Gunung Es
43


__ADS_3

Di sebuah bar terlihat seorang wanita cantik yang terlihat begitu berantakan sedang minum. Seoalah hidupnya adalah yang paling terpuruk di dunia ini.


“Siapa lo?” Tanya wanita itu pada seorang pria yang tengan menyentuh pundaknya.


“Ayolah sayang, aku akan menghilangkan beban hidupmu” ucap pria hidung belang itu.


“Minggir lo” ketus Dindea yang berlalu pergi dengan sempoyongan. Yah, wanita itu adalah Dindea.


“Kurang ajar, berani sekali kau menolakku wanita murahan” teriak pria itu dengan penuh amarah.


“Lepaskan” teriak Dindea yang berusaha melepaskan cengkraman pria itu.


“Sini ikut denganku. Aku bahkan sudah memintamu baik-baik. Cihh” ucap pria itu jijik.


“Lepaskan. Lepaskan aku” teriak Dindea, namun tidak di hiraukan oleh pria itu dan tetap menarik Dindea.


Tampa menunggu lama sebuah tonjokan mendarat di sudut bibir pria itu.


“Bruuuk”


“Siapa kau, berani skali kau menyentuhku” teriak pria itu.


Rendi tersulut emosi karena pria itu terus menggoda dan merendahkan Dindea. Tidak berapa lama Rendi kembali mendaratkan sebuah tonjokan disudut bibir sebelahnya, yang membuat sudut bibir pria hidung belang itu mengeluarkan darah.


“Cih, anda bahkan tampak tua. Bagaimana mungkin masih menggoda wanita?” Rendi bergidik ngeri pada pria hidung belang itu.


“Sebaiknya di umur segitu anda bertobat, jangan lagi mengganggu wanita. Apalagi mengganggu WANITAKU” ancam Rendi.


Di sisi lain Dindea nampak kaget karena penekanan kata “wanitaku” oleh Rendi. Sejak kapan dia menjadi wanita oleh Rendi. Mungkin itu isi pikirannya saat ini.


“Dind, ayo pulang” ajak Rendi pada Dindea yang tengah duduk memperhatikan mereka berdebat.


“Lo ngga apa-apa Dind?” Tanya Rendi khawatir. Karena sejak tadi Dindea tidak mengucap satu kata pun.


“Dind”


“Gue ngga papa kok. Terimakasih” ucap Dindea yang masih setengah sadar.


“Dind, sadarlah kita sudah sampai. Gue ngga tau pin rumah lo” bingung Rendi.


“HHmmm akuu..” ucap Dindea yang terputus dan malah memperbaiki posisi kepalanya yang saat ini berada di leher Rendi. Yah, memang sedari tadi Rendi menggendongnya ala bride style, karena Dindea tidak kunjung sadar juga.


“Aduh, jangan begini Dind” ucap Rendi khawatir dengan tingkah Dindea.

__ADS_1


Tampa menunggu lama, Rendi akhirnya membawa Dindea masuk kerumahnya yang berada di sebelah rumah Dindea.


Kini Dindea sudah berbaring diatas ranjang Rendi.


“Kenapa sih lo, ngga penah nyadar kalau gue sayang sama lo Dind” guman Rendi sembari memperhatikan wajah Dindea.


“Ryan” ucap Dindea tampa sadar.


“Deg” Dindea lagi-lagi membuat Rendi terbakar cemburu. Rendi langsung berdiri dan memakaikan selimut untuk Dindea, dan berlalu ke kamar sebelah.


***


“Nih cowo kemana aja sih, kenapa tiba-tiba hilang kontak lagi coba. Dasar cowok tidak punya hati” gerutuku di dalam kamar sambil melihat layar ponselku, berharapa Ryan akan menghubungi.


“Ah, bodoh amat. Mending gue telpon deh. Dari pada begini, gue bisa gila” ucapku dan langsung menelpon Ryan.


“Nomor yang ada tuju sedang sibuk, silahkan coba beberapa saat lagi”


“Awas aja kalau dia hubungin gue” kesalku.


“Ting” getar ponselku pertanda chat masuk.


“Syam” Andra..


“Bagaimana perlengkapan wisudah lo, apakah sudah lengkap smua?” tanya andra basa basi.


“Alhamdulillah. Tadi siang gue sudah melengkapi semua kekurangan gue untuk wisudah” jawabku.


“Yaah, kupikir gue akan mengajak lo besok untuk mencari perlengkapan. Tapi ya sudahlah, yang penting sekarang sudah tidak ada masalah” kecewa Andra.


“Yaaahh, tapi makasih yah Ndra kamu sudah peduli dengan perlengapan gue” jawabku lagi.


“Iya Syam” ucap Rendi.


“Masih ada yang mau di bicarakan lagi Ndra? Kalau ngga gue mau tidur nih. Ngantuk” ucapku berniat mengakhiri percakapan.


“Ya sudah Syam. Kamu istrahat skarang, maaf ganggu malam-malam gini” Ucap Andra merasa tidak enak. Dan aku sudah tidak membalasnya.


Di sisi lain Andra sedang siuk berputar-putar di ata kasur empuknya smabil menunggu balasan chat dariku.


“Syam kok blum blas sih, apa dia sudah tidur yah?” gumannya.


“Padahal aku ingin menyatakan perassaan gue. Aduh. Gue chat lagi ngga yah. Tapi harus ngomong apa?” setelah pertimbangan yang cukup lama akhirnya masuk sebuah chat di ponselku dari Andra.

__ADS_1


“Setelah wisudah boleh ketemu ngga Syam. Gue mau ngomong penting nih” Tanya Andra.


“Boleh” sebuah jawaban dariku yang membuat Andra kegirangan buka main.


“Yes” ucap Andra spontan.


“Ya sudah. Kalau gitu makasih ya. Good night” balas Andra lagi yang hanya di read olehku. Tapi itu tetap membuat Andra bahagia.


**


Setelah tidur pulasnya karena mabuk, kini Dindea mulai menggeliat di ata kasur empuk milik Rendi pertanda bahwa dia mulai sadar.


“Aaaaaaa” teriak Dindea.


“Lo kenapa Dind” Tanya Rendi khawatir dan berjalan masuk kamarnya.


“Lo, lo ngapain di sini. Ini di mana? Lo sudah apain gue, hah?” Marah Dindea masih dengan membungkus dirinya di atas kasur dengan selimut tebal Rendi.


“Lo apa-apaan sih Dind. Gue ngga ngapa-ngapain lo lah. Bukannya terimakasih udah gue tolongin juga” kesal Rendi.


“Trus kenapa gue di sini, dan ini?” Tanya Dindea sambil memperhatikan badannya yang masih terbungkus selimut. Saat ini memang Dindea sedang hanya memakai singlet dalam balutan selimut itu. Tapi semua itu bukan karena Rendi. Saat Rendi berlalu pergi kekamar lain semalam, Dindea mulai kepanasan, makanya dia melepas sebagian pakayannya.


“Emang kenapa sih badan lo. Coba gue lihat” goda Rendi dengan berjalan pelan mendekat.


“RENDI”


“Pergi lo” perintah Dindea, namun tidak dihiraukan oleh Rendi.


“RENDI. Gue bilang pergi” ucap Dindea ketakutan.


“Hahhah, gue bercanda Dind” tawa Rendi pecah melihat ekspresi Dindea.


“Mendingan lo bangun dan mandi. Lo pake aja baju gue di lemari” ucap Rendi masih dengan tawanya.


"Ya sudah lo kluar skarang" perintah Dindea ketus.


"Emang kenapa? ini kamar gue lo" goda Rendi lagi.


"RENDI" bentak Dindea lagi.


"Iya iya. gue kluar skarang. lo buruan mandi sana" perintah Rendi dan langsung keluar dari kamarnya.


"Duh, mana ngga ada yang pas sama gue lagi. Apa gue pake ini saja yah? Trus gue harus pake celana apa? aduh gue bingung beh. memding oake celana ini saja. Apa-apaan ini, dia bilang pake saja bajunya sementara dari baju sebanyak ini tidak ada yang pas buat gue. Dasar aneh. Dia berani mempermainkanku?" Gerutu Dindea yang tidak juga mendapatkan pakayan yang di inginkannya.

__ADS_1


Hampir beberapa menit Dindea bergulat di depan lemari pakayan Ryan, namun tidak kunjung mendapat apa yang diinginkan. Tidak untuk menghabiskan waktu lebih lama lagi di depan cermin, dia lebih memilih mengambil baju sembarang saja dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


__ADS_2