
“Lo lama bange sih” jutek Ryan saat aku masuk ke dalam mobil.
“Namanya juga belanja, jadi wajar kalau lama” kesalku.
“Lo jawab mulu kalau dikasi tahu” jenkel Ryan.
“Lagian lo juga marah-marah mulu. Cerewet banget jadi cowok” gerutuku yang masih bisa didengar oleh Ryan.
“Apa lo bilang?” marah Ryan.
“Ngga. Gue cuman bilang kalau lo ganteng” jawabku ngasal.
“Lo baru nyadar yah?” jawab Ryan berbangga diri, yang membuatku tersenyum ngeri. Bagaimana mungkin ada cowok dingin senarsis ini. Tapi aku memilih diam saja, tidak ingin memperpanjang perdebatan.
Setelah kami berhenti berdebat, Ryan segera menepikan mobilnya di depan sebuah masjid.
“Lo mau ngapain?” tanyaku bingung.
“Ya mau solat lah. Lo mau ikut apa ngga? Kalau ngga gue kunciin dalam mobil” ucap Ryan.
“Enak aja. Gue juga mau solat kali” jutekku. Lalu kami jalan berbarengan menuju masjid. Ada banyak orang yang melihat kami. Mungkin karena ketampanan Ryan kali, pikirku.
“Pengantin baru yah dek?” ucap pa ustad pada kami. Aku sontak melihat Ryan.
“Ah bukan pak” ucap Ryan pada pak ustad dengan ramah.
“Oh maaf yah, bapak kira kalian pasangan. Soalnya terlihat sangat cocok” tambah pak ustad lagi dengan senyumnya.
“Aku masuk dulu pak” ucapku melirik pak ustad dan Ryan bergantian, lalu berjalan masuk dalam masjid bagian perempuan. Sedangkan Ryan masih berbicara dengan pak ustad.
“Kamu suka yah, sama dia? Niat baik itu perlu di segerakan nak! Lagian dia kelihatannya anak baik-baik. Dia juga suka sama kamu deh kayanya” ucap pak ustad memberi nasehat. Dan Ryan hanya tersenyum menanggapi.
“Makasih nasehatnya pak” ucap Ryan ramah.
Setelah menyelesaikan kewajiban kami di masjid itu, kami segera pulang. Namun karena tanganku yang teriris tadi siang tidak memungkinkan untuk memasak, aku menyarankan untuk singgah makan dulu. Walaupun sedikit ada perdebatan, tapi pada akhirnya Ryan mengalah dan mengikutiku. Kami langsung menuju tempat Ryan biasa makan sama Rendi.
“Mas Ryan sekarang sudah berkembang yah” ucap salah satu pelayan yang menerima pesanan kami.
__ADS_1
“Maksudnya mba?” Tanya Ryan bingung.
“Yah, biasanya kan mas Ryan baren mas Rendi. Sekarang sudah bareng pacar, cantik lagi” jawab pelayan itu dengan senyumnya. Para pelayan itu memang sudah akrab sama Ryan dan Rendi. Olehnya itu, mereka terbiasa mengejek Rendi dan Ryan karena selalu ke kafe ini tampa pacar. Aku yang mendengar ejekkannya pun langsung tertawa.
“Ah, mba bisa aja. Lagian ini cewek bukan pacarku” elak Ryan dengan sinis melihatku.
“Kalau gitu aku doain semoga cepat halal yah mas Ryan dan mba cantik” ucap pelayan itu lalu pergi untuk mengambil pesanan kami. Aku hanya terseyum melihat Ryan karena kesal pada ejekan pelayan tadi.
"Lo ngapain senyum-senyum. Kesambet yah lo?" tanya Ryan kesal.
"Suka-suka gue yah, bibir-bibir gue. kenapa lo repot?" ucapku yang membuat Ryan bertambah geram.
"Permisi" ucap salah satu pelayan mengantarkan makanan kami.
"Iya makasih mba" ucapku ramah.
"Silahkan menikmati" ucap pelayan itu lalu pergi.
Setelah pelayan itu pergi, kami langsung melahap makanan kami.
"Waw, makan di sini enak bangat" ucapku.
"Santai kali, kenapa sih lo nge gas mulu jadi cowok" jutekku.
Kalau bukan bertengkar yah diam-diaman. Begitulah aku dan ryan kalau hanya berdua.
Setelah kami menghabiskan makanan kami, Ryan langsung mengantarku ke apartemen. Lalu pulang kerumah. Ryan sengaja langsung pulang ke rumah, karena mamahnya pasti akan kesuyian di rumah besar itu.
“Assalamualaikum mah” ucap Ryan saat memasuki pintu rumah.
“Walaikumussalam. Kamu sudah pulang sayang? Ayo makan malam dulu” jawab mamah Ryan dari arah meja makan. Yang memang dia sedang makan.
“Ngga mah, aku sudah makan tadi” jawab Ryan santai.
“Kalau gitu temanin mama makan” ajak tante Rini yang dituruti oleh Ryan.
“Kamu makan dimana tadi?” Tanya mamah Ryan.
__ADS_1
“Di tempat biasa sama Rendi kok mah” jawab Ryan.
“Sama Syam yah?” tebak mamah Ryan yang diangguki oleh Ryan.
“Humm, jadi bagaimana?” selidik mamah Ryan.
“Apanya yang bagaiman sih mah. Plis deh, mama ngga usah mikir kemana-mana. Tadi juga aku terpaksa makan sama tuh cewek. Karna tangannya kan lagi sakit, teriris tadi siang” jelas Ryan.
“Ya udah mah, aku masuk dulu. Cape” ucap Ryan dan langsung masuk ke kamarnya. Sedangkan tante Rini hanya tersenyum melihat anaknya yang salah tingkah.
**
Di balkomn kamarnya, Ryan sedang bersantai dengan sepiring buah yang siap makan. Dia terlihat berpikir, rupanya sedang memikirkan yang di katakan pak ustad tadi.
“Iya sih, Syam kayaknya cewek baik-baik, hanya saja cerewetnya tidak tertolong. Tapi apa mungkin kalau dia juga suka sama gue? Ya kali suka, sedangkan kalau ketemu bawaanya perang mulu. Tapi bisa saja sih, gue kan ganteng. Lagian dia biasanya mandangin gue mulu. Apa hanya kebetulan yah?” guman Rendi.
“Tapi kenapa gue malah mikirin tuh cewe sih. Huh” ucap Ryan pada dirinya sendiri.
Ryan segera menelpon Rendi, untuk menenangkan sedikit pikirannya, karena yang ada di dalam pikirannya saat ini hanyalah tentangku. Namun bukannya mendapat pencerahaan saat berbicara dengan Rendi, Ryan malah bertambah pusing karna ejekan Rendi. Rendi memang memiliki sifat yang mirip dengan Lina. Saat sahabat mereka sedang ada masalah, pasti tidak langsung memberi solusi melainkan mengejek dulu sampai puas. Dasar sahabat-sahabat ngga guna.
Dari pada mendengar ejekan Rendi yang berkelanjutan, Ryan memilih mematikan ponselnya dan tidur. Namun sudah cukup lama dia memutar balikan badannya di atas kasur empuk itu, tidak juga membuatnya tertidur. Ryan segera menyetel ponselnya dengan murotal Al-mulk, berharap bisa membuatnya tertidur. Setelah cukup lama berjuang akhirnya dia bisa terlelap.
**Apartemenku
Pagi ini aku begitu bersemangat. Karena ibu dan ayahku akan berkunjung ketempatku. Sebenarnya tujuan awalnya sih tentang pekerjaan ayah, hanya saja mereka sekalian datang mengunjungi anak kesayangan mereka.
Aku juga sudah menghubungi tante Rini, kalau ayah dan ibu akan berkunjung. Tante Rini pun begitu antusias. Dia langsung mengundang ayah dan ibu untuk makan malam di rumah mewah mereka. Hal itu membuatku bertambah gugup. saat masih sibuk bersiap-siap ke kampus, tiba-tiba ponselku berbunyi. Dan itu adalah ibu. Akupun langsung mengangkat telponnya.
"Drrtttt drrtt"
"Assalamualaikum. Hallo bu" ucapku membuka percakapan.
"Walaikumusalam sayang. Nanti ayah akan langsung bertemu kliennya sebentar. Dan ibu akan langsung ke apartemenmu" tutur ibu.
"Oh iya bu. Tapi ibu ngga paapa kan sendiri dulu. Soalnya Syam mau ngampus dulu nih" ucapku menyesal.
"Ngapaapa ko Syam. Ibu kan sudah biasa di situ. Ya sudah ibu tutup dulu. Assalamualaikum" ucap ibu.
__ADS_1
"Walaikumussalam" jawabku, lalu ibu mematikan sambungan telpon kami.