Si Tampan Gunung Es

Si Tampan Gunung Es
29


__ADS_3

Setelah beberapa menit mencari-cari Dindea, akhirnya Rendi menemukannya sedang duduk menangis di pinggir pantai yang hening itu. Seakan ombak juga mengerti bahwa suasana hati Dindea saat ini sedang tidak baik-baik saja.


Melihat Dindea yang sedang menangis, Rendi memutuskan untuk menghampirinya. Dibukanya switer yang dipakainya, lalu membungkus tubuh gadis yang terlihat kedinginan itu. Sontak membuat Dindea kaget.


“Rend” lirih Dindea.


“Iya Dind, lo sabar yah” ucap Rendi mencoba menenangkan Dindea.


“Kenapa sih, apa gue ngga semenarik itu dimata Ryan? hhhuuuhhuuu” ucap Dindea masih dengan isak tangisnya.


“Gue minta maaf atas nama Ryan yah Dind. Gue paham lo pasti marah sama dia, tapi disatu sisi gue juga mengerti bagaimana Ryan. Dia ngga suka dipaksa pada hal yang memang tidak ia suka” jelas Rendi yang dianggukan Dindea. Tampa sadar Dindea sudah merasa sedikit tenang yang saat ini sedang bersandar di bahu tegap Rendi, entah mengapa Rendi membuatnya merasa nyaman.


“Ya sudah Dind, ayo kita balik ke vila. Disini dingin bangat. Nanti kamu masuk angin” ajak Rendi. Dan Dindea hanya mengikut.


**


Karena ada sedikit masalah diantara mereka, mereka memutuskan untuk menyudahi liburan mereka dan pulang ke rumah masing-masing. Selama perjalanan pulang, hanya ada keheningan di dalam mobil. Bukan hanya Dindea yang marah pada Ryan, melainkan Rendi juga ikut-ikutan marah, entah ada apa dengannya.


**Apartemen Ryan


Setelah dua hari kepulangan mereka dari liburan, Rendi belum juga mau mengangkat telpon Ryan. Bukannya Rendi marah, hanya saja dia butuh waktu, entah apa yang terjadi dengannya. Ryan seolah merasa aneh dengan kelakuan sahabatnya itu, tidak biasanya dia marah sampai beberapa hari, apalagi ini untuk masalah yang menurut Ryan tidak begitu penting. Tapi berbeda dengan Rendi, dia menganggap masalah ini sangat penting. Dia juga tidak mengerti kenapa, tapi seperti itulah adanya perasaan Rendi saat ini.


“Rendi kok aneh bangat sih, tumben bangat dia kaya gini?” guman Ryan.


“Atau jangan-jangan dia naksir lagi sama Dindea, makanya responnya gini amat”


Karena tidak ingin terus-terusan berpikir yang tidak-tidak, Ryan segera bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah beberapa menit, Ryan telah selesai dengan ritual mandinya. Kini dia terlihat sangat tampan dengan pakayan santainya (baju kaos dan celana selutut) dengan rambut yang masih basah. Hari libur Ryan memang sisa hari ini, jadi dia memutuskan bersantai di apartemennya. Saat Ryan ingin duduk di ranjang miliknya, tidak sengaja dia melihat kotak navy pemberianku. Dia mengambilnya sambil tersenyum.


“Setiap gue lihat kotak ini, pasti selalu ingat dia. Apa jangan-jangan dia sengaja kali ya?” guman Ryan lagi.


“Oh ya, gue sudah lama ngga dengar kabar dia. Dia lagi ngapain yah. Gue juga ngga punya nomornya. Huh lagian kalau punya ngga mungkin juga gue hubungin dia, mau di taro dimana muka gue. Ahha, gue punya ide, mending gue telpon mama. Dia kan selalu mengekor sama mama. Mending gue telpon mama”


Karena penasaran dan ingin mendengar kabarku, Ryan segera meraih ponsel milikknya yang tergeletak di atas nakas, lalu menelpon mamanya.

__ADS_1


“Drrttt drrttt”


Sebelum Ryan menelpon mamahnya, ponselnya terlebih dahulu berdering. Dan yang menelponnya adalah mamahnya. Tampa menunggu waktu lama Ryan langsung mengangkat ponselnya itu.


“Hallo mah. Ada apa?” Tanya Ryan membuka percakapan.


“Hallo Yan, ngga ada apa-apa kok. Mama hanya ingin menelponmu. Kamu sedang apa sayang?” Tanya mama Ryan.


“Aku lagi ngga ngapa-ngapain sih, hanya baru selesai mandi. Tadinya aku mau nelpon mama. Emang mama lagi ngapain?” Tanya Ryan balik.


“Mama lagi di resto. Emang kenapa Yan?” jawab mama Ryan.


“Ngga jadi mah. Mama ngapain di resto, kan sudah Ryan bilang. Jangan cape-cape” cerewet Ryan.


“Ngga kok sayang. Lagian mama kan hanya datang cek resto” elak mama Ryan.


“Oh ya mah, mama lagi sama gadis itu?” Tanya Ryan ragu-ragu.


“Gadis? Gadis yang mana?” Tanya mama Ryan pura-pura tidak tahu.


“Oh, maksud kamu Syam? Dia lagi sibuk di kampus sayang” jawab mama Ryan.


“Hooo” ucap Ryan.


“Emang kenapa Yan, kamu kangen sama dia?” ledek mama Ryan.


“Ah, nggak kok mah. Mama ada-ada saja nih” elak Ryan.


“Kalau kangen ngga paapa juga kok Yan. Lagian Syam juga jomblo” ucap mama Ryan, masih dengan senyum ledeknya.


“Emang iya mah?” Tanya Ryan antusias.


“Hiyaa, hahhaha. Itu kaaann. Ketahuan kangennya” ledek mama Ryan penuh dengan kemenangan.


“Sudah ah mah. Ryan tutup dulu. Mama jangan terlalu kecapean! assalamualaikum” ucap Ryan menutup telponnya.

__ADS_1


“Walaikumussalam” ucap mama Ryan.


“Huh, mama apa-apaan sih? Siapa juga coba yang kangen. Tapi apa iya kalau Syam jomblo. Dia kan cantik. Masa sih? Jaman skarang kan jarang ada yang jomblo apalagi cantik gitu. Tapi entahlah. Tapi kok gue teringat dia mulu yah, jangan-jangan gue benaran suka lagi sama dia. Huh, Lama-lama gue bisa gila. Mending gue cari makan.” guman Ryan.


Karena tidak ingin berdebat dengan pikirannya sendiri, Ryan memutuskan beranjak dari ranjang dan menuju dapur untuk membuat makananya. Dia memang tidak pernah mengosongkan dapurnya dari bahan makanan. Selain karena hobby masak, dia juga terkadang malas dengan makanan luar. Dan tidak butuh banyak waktu bagi Ryan untuk menyelasaikan masakannya. Selain ahli dalam menangani pasien, Ryan juga ahli dalam hal masak-memasak.


Karena Ryan memasak cukup banyak, dia memilih untuk menghubungi Rendi, saying kalau makannanya ngga dihabisin. Kalau disimpan juga nanti ngga enak lagi.


Drrtttt drrtt


Ponsel Rendi berbunyi dan itu adalah Ryan, dengan malas Rendi mengangkat ponselnya.


“Ya, hallo. Kenapa?” Tanya Rendi.


“Hallo Rend. Lo kenapa sih? Masih marah sama gue?” Tanya Ryan.


“Ngga” ucap Rendi singkat.


“Mending lo kesini deh, gue masak banyak nih” ajak Ryan.


“Ok. Gue meluncur skarang. Kebetulan gue lapar” jawab Rendi dan memutuskan sambungan telponnya.


Setelah memutus telpon, Rendi segera meraih kunci mobil yang tergeletak diatas nakas sisi ranjangnya dan bergegas keluar dari apartemennya.


Tidak butuh waktu lama, akhirnya mobil Rendi mendarat di depan gedung apartemen Ryan. Dia segera masuk ke apartemen Ryan.


“Lo udah sampe Rend?” Tanya Ryan ketika melihat Rendi menuju dapur sedangkan dia sedang mondar-mandir menata makanan di atas meja.


“Hum, seperti yang lo lihat” ucap Rendi santai. Rendi dan Ryan memang sudah bertukar sandi apartemen. Bukan apa-apa, hanya saja takutmya ada keadaan mendesak.


“Huuumm, bau masakan lo enak bangat nih” puji Rendi dengan ekspresi biasanya.


“Biasa lah. Gue kan memang ahli” puji Ryan berbangga diri.


“Yeh, nyesal gue muji lo. Mending gue makan” ucap Rendi.

__ADS_1


Mereka langsung makan bersama, dan sesekali bercakap. Kini suasana diantara mereka sudah kembali seperti biasa. Di antar mereka memang tidak ada yang bisa marah terlalu lama, walaupun sifat mereka agak berbeda. Tapi pada dasarnya mereka cukup saling memahami. Begitulah persahabatan. Walau kadang tak sepaham, tapi terkadang kita harus menurunkan ego.


__ADS_2