
Setelah 2 tahun terakhir ini hubunganku dengan Ryan sudah mulai ada perkembangan, meski perkembangannya tidak begitu pesat seperti pasangan lain, hheheh. Entah mengapa hubungan kami tidak seperti hubungan orang lain yang terlihat romantic. Tapi aku cukup bersyukur, walau dia begitu sibuk di Inggris tapi tetap mengusahakan untuk sesekali menelponku atau mengirim chat hanya untuk sekedar berbagi kabar. Aku juga terkadang bertanya beberapa hal dalam proses penyusunan tugas akhirku. Ryan memang agak berbeda dengan orang lain, sifat dinginnya yang tidak pernah hilang dan juga perdebatan kami yang tidak ada akhir menambah kesan tersendiri dalam hubungan kami.
Beberapa hari lagi adalah hari wisudah kelulusanku, namun Ryan satu minggu terakhir ini belum juga memberi kabar.
“Apa dia lupa lagi yah sama gue? Kebiasaan bangat sih dia. Selalu hilang tampa kabar” gerutuku sambil berjalan di koridor fakultas.
“Yang mau wisudah, kenapa manyum gini sih? Kita itu harus happy kali Syam” ucap Lina mendekatiku.
Aku dan Lina memang akan wisudah bersamaan, bukan hanya kami tapi beberapa teman kami di kelas dan kelas lain juga yang seangkatan. Walau belum sempat wisudah bareng sekelas sih, padahal rencanya kami semua akan wisudah bareng. Tapi karena satu dan lain hal, mengharuskan kami wisudah lebih dulu.
“Gimana Lin, udah dapat pendamping untuk dibawa wisudah?” ejekku.
“Lo mandang enteng gue Syam?” Tanya Lina dengan gaya khasnya.
“Hah, emang betulan sudah dapat?” tanyaku kaget. Bagaimana mungkin Lina sudah dapat pengganti kekasih pengihianatnya itu. Sedangkan kemarin masih menangis-menangis seolah tidak bisa hidup tampa kekasihnya itu.
“Ya ngga lah. Lo pikir gue cewe apaan? Baru juga putus, masa sudah dapat yang baru” ucap Lina.
“Gue pikir memang sudah” ejjekku.
“Kabar Tante Rini gimana, gue dengar dia masuk rumah sakit lagi?” Tanya Lina khawatir.
“Alhamdulillah, sekarang dia sudah membaik. Dari kemarin juga sudah keluar rumah sakit” jelasku.
Tante Rini memang masuk rumah sakit lagi, tapi untungnya tidak begitu parah. Jadi dokter hanya menyuruhnya menginap satu malam di rumah sakit.
“Sampaikan salam gue sama tante Rini yah, sekalian permintaan maaf gue karna ngga sempat jenguk dia” ucap Lina merasa bersalah.
“Santai saja Lin, lagian tante Rini juga pasti ngerti kok. Kita kan memang lagi sibuk di kampus” jelasku.
**
Kini aku sudah sampai di pekarangan rumah Ryan. Aku memang semakin sering berkunjung di rumah Ryan setelah pertunangan kami, untuk menemani tante Rini.
“Assalamualaikum tant” ucapku saat memasuki rumah mewah keluarga Ryan.
“Walaikumussalam Syam. Ayo sini sayang, tante sedang bikin pudding nih. Sini cobain” ajak tante Rini dari arah dapur.
“Astaga tant, sini biar Syam aja yang lanjutin. Tante kan ngga boleh kecapean dulu. Tante lupa apa yang dikatakan dokter kemarin?” cerewetku.
“Iya-iya. Sekarang kamu sudah mulai cerewet kaya Ryan sama papahnya tau ngga” ucap tante Rini terkekeh melihatku yang cerewet.
__ADS_1
“Tante bisa aja. Kami kan hanya khawatir tant” ucapku.
“Tante bercanda kok sayang” ucap tante rini. Kini aku sibuk melanjutkan pudding buatan tante Rini yang sempat terjeda.
Kini aku dan tante Rini sibuk bercerita di ruang keluarga mereka, sambil menunggu pudding yang dibuat tadi mendingin.
“Jadi kapan kamu wisudah Syam?” Tanya tante Rini.
“Insya Allah lusa tant, tante jangan lupa hadir yah” ucapku.
“Tentu saja sayang. Itukan hari bahagiamu, masa tante ngga hadir?” ucap tante Rini.
“Oh ya, kamu sudah ngomong sama Ryan?” Tanya tante Rini.
“Blum tant, akhir-akhir ini Ryan ngga ngabarin Syam. Syam telpon juga ngga diangkat” jawabku murung.
“Kok bisa? Kalian ada masalah?” Tanya tante Khawatir.
“Nggak kok, prasaan kami baik-baik saja” jawabku sambil berpikir apa yang salah diantara aku dan Ryan.
“Apa tante coba telpon Ryan?” Tanya tante Rini.
“Hahah, kamu bisa aja Syam. Ya sudah, kalau gitu terserah kamu saja” jawab tante Rini.
“Oh ya tant, Syam balik dulu. Sudah sore nih” izinku,
“Yaahh. Tapi kita belum mencoba pudingnya” jawab tante Rini.
“Ngga papa ko tant, lain kali aja. Lagian tadi juga sudah makan buah” jawabku.
“Ya sudah kalau gitu” jawab tante Rini.
“Aku balik skarang, Assalamualaikum tant” pamitku tak lupa mencium tangan tante Rini.
“Sudah mau balik Syam?” Tanya om Hendra yang baru saja turun dari mobilnya.
“Iya om. Sudah sore juga” jawabku sambil mencium tangan om Hendra.
“Kalau gitu kamu hati-hati yah” ucap om Hendra.
“Iya om. Kalau gitu Syam pergi skarang om tant. Assalamualaikum” ucapku.
__ADS_1
“Walaikumussalam” jawab mereka serempak. Lalu aku berlalu pergi.
Sedangkan tante Rini dan om Hendra juga masuk ke dalam rumah mereka.
“Papah sudah makan?” Tanya tante Rini pada suaminya, sembari mengambil tas kerjanya.
“Sudah kok mah, tapi papah pengen ngemil nih. Tolong bilangin bibi untuk siapin cemilan sama kopi, papah mau mandi dulu” ucap om Hendra pada istrinya.
“Biar mamah aja pah” tawar tante Rini.
“Ngga usah mah, nanti kamu kecapean lagi” ucap om Hendra pada istri kesayangannya itu dengan lembut.
“Ya sudah, papa mandi skarang. Mama tungguin di ruang tengah” ucap tante Rini.
“Ok” ucap om Hendra sambil mencium kening istrinya lembut. Sedangkan tante Rini hanya tersenyum melihat tingkah suaminya yang masih sangat romantic itu.
**
Di sisi lain Ryan tengah bersantai dengan Rendi di apartemen miliknya.
“Drrrtttt” bunyi ponsel Ryan yang tengah bergetar.
“Ciih, ngapain sih dia hubungin gue mulu” ucap Ryan sebal ketika melihat layar ponselnya yang berdering, yang ternyata itu adalah panggilan dari Dindea.
“Lo kenapa bro?” Tanya Ryan heran melihat perubahan wajah sahabatnya itu.
“Ini Dindea” malas Ryan. Mendengar ucapan Ryan, seketika wajah Rendi juga ikut berubah.
“Lagian lo sih Rend. Kenapa sih lo nggak ngungkapin aja perasaan lo? Gue muak tau ngga dikejar-kejar mulu sama dia. Belum lagi gue jadi ngga enak sama lo” tutur Ryan.
“Hah, lo tau dari mana Yan?” kaget Rendi. Dia tidak menyangka kalau Ryan menyadari perasaanya pada Dindea.
“Ya ellah Rend. Lo kya baru kenal aja. Gue bisa liat kok ekspresi tidak suka lo saat Dindea deketin gue mulu. Awalnya gue pikir lo juga muak karna dia deketin gue. Eh ternyata lo ada hati” jelas Ryan.
“Lo bisa aja bro” ucap Rendi tersenyum getir.
"Udah deh, jangan kelamaan mikir" ucap Ryan.
"Kalau hubungan lo sama Syam gimana? Sudah ada perkembangan?" tanya Rendi mengalihkan pembicaraan.
"Yah gitulah Rend" jawab Ryan.
__ADS_1