
“Eh sayang. kok kamu bisa di sini?” Tanya Ryan ketika melihatku. Akupun langsung kaget dengan panggilannya. Apalagi sedang ada om dan tante. Namun Bukan hanya aku yang kaget, tapi seluruh orang di situ juga ikut kaget. Karna setau mereka hubungan kami tidak pernah akur.
“Tadi tante yang ngajak” ucapku datar.
“Oh ya? kok mama ngga bilang. Biar aku jemput” ucap Ryan santai yang membuat semua orang heran.
“Ya sudah skarang kamu sarapan sama kita” Ajak Ryan. Sambil menarik kursi di samping kanannya sambil duduk. Akupun langsung berjalan mendekat dan duduk namun dengan ekspresi tidak bisa di baca.
“Ayo makan Syam” ucap om Hendra yang menyadari ekspresiku tidak menyukai keberadaan Dindea di sana.
“Iya om” ucapku sambil meraih roti tawar.
“Kamu mau rasa apa?” Tanya Ryan sambil menunjuk beberapa pilihan slei di depannya.
“Terserah kamu saja” ucapku malas.
“Ya sudah, ini saja” ucap Ryan sambil meraih slei coklat.
Drama makan pun berlangsung dengan suasana tegang. Terkecuali Ryan yang masih tidak merasa dengan keadaan yang tegang saat ini. Yah kalau gunung es mah mana peka.
“Yan, kamu ajak Syam cari cincin yah. Kalau baju pengantin nanti ibu Syam yang bawa” ucap tante Rini.
“Siap mah” jawab Ryan antusias.
“Ayo sayang” ucap Ryan sambil menggandeng tanganku.
Sementara Dindea semakin memanas melihat tingkahnya, dan langsung izin pulang.
“Aku balik dulu semuanya” ucap Dindea.
“Hati-hati” ucap om Hendra, lalu Dindea berlalu pergi.
“Mah pah, kita keluar sekarang yah” ucap Ryan.
“Kalian hati-hati” ucap om Hendra dan tante Rini.
“Om tant, Syam duluan” ucapku merasa tidak nyaman, karena Ryan yang masih menggenggam tanganku.
“Kamu modus bangat sih” ucapku pelan sambil melepaskan tangan Ryan.
“Ya sudah ayo jalan” ucap Ryan keluar rumah.
“Jadi ini alasan Ryan senyum-senyum sendiri kemarin malam. Dasar anak-anak itu” ucap tante Rini.
“Oh ya mah, sejak kapan mereka akur gitu?” Tanya om Hendra.
“Kyanya baru kemarin malam deh pah. Soalnya sejak kemarin malam Ryan terlihat bahagia. Yah semoga saja sampai seterusnya yah pah” tutur tante Rini.
“Amiinn. Semoga keputusan kita jodohin mereka ngga salah” ucap om Hendra.
__ADS_1
**
Di sisi lain aku dan Ryan sedang diam-diaman dalam mobil.
“Sayang, kamu kenapa sih, kok dari tadi diam aja?” Tanya Ryan bingung.
“Tau” ucapku malas.
“Sayang” panggil Rya lagi yang tak kuhiraukan.
“Sayangggg. Kamu kenapa sih. Apa aku melakukan kesalahan?” Tanya Ryan sambil fokus menyetir.
“Pikir aja sendiri” ucapku acuh.
“Syam sayang, sayannnggg” ucap Ryan sambil mengelus kepalaku yang tertutup kerudung berwarna hitam.
“Itu cewe kok bisa di rumah kamu pagi-pagi?” ucapku yang sontak Ryan mengerti apa yang membuatkan malas.
“Dia tidur di rumah” jawab Ryan ngasal.
“APA?” ucapku kaget yang langsung memandang Ryan penuh emosi.
“Ngga sayang. Aku bercanda. Mana ada dia tidur di rumah. Tadi saja aku kaget dia ada di rumah” ucap Ryan dan aku hanya diam.
“Jadi dari tadi kamu cemburu? Kacian wanita cerewetku bisa cemburu juga rupanya” ucap Ryan sambil sesekali melihatku.
“Pede. Ayo turun” ucapku dan langsung turun menutupi rasa Maluku.
“Sayang kamu mau pilih yang mana?” Tanya Ryan saat memeperlihatkan pilihan cincin yang menurutnya cocok untukku. Saat ini aku sedang duduk di tempat Ryan duduk saat kami membeli cincin untuk tunangan dulu.
“Coba yang ini yah” ucap Ryan sambil menyodorkan satu cincin berlian yang begitu berkilau. Yang tentunya lebih cantik dari cincin tunangan kami dulu.
“Tapi ini kemahalan deh kayanya” ucapku.
“Itukan pas” ucap Ryan saat memakaikan cincin itu di jari manisku.
“Awas modus” ucapku yang melihat Ryan masih memegang tanganku sambil memperhatikan dengan seksama cincin itu.
“Sory sayang”
“Mba tolong bungkus yang ini yah” perintah Ryan ramah pada pegawainya.
“Baik mas” ucap pegawai itu.
“Ryan, itukan mahal bangat” ucapku.
“Kamu kaya sama siapa saja. Aku kan sudah sewajarnya memberikan yang terbaik untukmu. Itu bukan apa-apa kok, aku juga bisa beli sekaligus dengan tokonya kalau kamu mau” ucap Ryan sambil mengusap kepalaku yang terbungkus jilbab. Entah karna apa, intinya mengusap kepalaku sudah menjadi kebiasaanya sekarang.
Setelah mendapat yang kami inginkan di toko itu, akhirnya kami memutuskan untuk pulang untuk istrahat, karena pernikahan kami akan di langsungkan besok.
__ADS_1
“Kamu sudah pulang sayang?” Tanya ibu saat aku memasuki apartemenku. Ibu dan Ayah memang sudah berada di Jakarta sejak 3 hari yang lalu, untuk membantu mempersiapakn pernikahanku dan Ryan. Walaupun persiapan pernikahan sepenuhnya di tangani oleh keluarga Ryan, tapi tetap saja ibu tidak mau berpangku tangan di rumah. Dia sangat ingin memberikan kontribusi untuk pernikahan putri semata wayangnya ini.
“Iya bu” Jawabku.
“Kamu sama siapa?” tanya ibu.
“Tadi diantar Ryan bu” jawabku.
“Trus nak Ryan nya mana? Kok ngga di suru masuk?” Tanya ibu celingak-celinguk memastikan seseorang di depan apartemen.
“Dia tadi langsung pulang, katanya mau istrahat. Aku juga masuk dulu yah bu. Kecapean soalnya” ucapku dengan wajah lesu.
“Baiklah nak. Kamu istrahat dulu jangan sampai kelelahan, besok adalah hari penting dalam hidupmu.
“Baik bu. Tapi kok ayah ngga kelihatan bu” tanyaku bingung sambil mencari keberadaan ayah.
“Dia sedang mandi. Ya sudah kamu istrahata skrang. Nanti ibu sampein kalau kamu sudah pulang” tutur ibu lembut.
“Ok bos. Selamat malam” ucapku manja dan berlalu menuju kamar.
“Ngga terasa, akhirnya hari yang kunantikan selama ini akan segera tiba. Tuhan, semoga Ryan adalah jodoh terbaik untukku. Dan terimakasih telah mengabulkan doaku dengan menjadikan dia jodohku” gumanku saat berencana untuk Tidur.
Namun rencana akhirnya gagal ketika ku dengar notifikasi chat masuk di ponselku.
“Sayang” Nama Ryan terpampang nyata.
“Kamu sudah tidur?” tanyanya Lagi.
“Kenapa?” ucapku.
“Ngga sih. Ngga sabar saja untuk besok. Heheh” Ryan.
“Aku juga ngga sabar. Semoga lancer yah” balasku.
“Aamiiinn” Ryan.
“Ya sudah. Kamu tidur skarang!” Ryan.
“M” balasku singkat.
“Kok sinkat bangat sih?” Ryan.
“Ya udah. Iya sayang. kamu juga tidur!” balasku.
“Sweet dreams, dear❤” Ryan.
“Kok tumben dia sweet gini sih. Aaaaaa” gumanku sambil membolak-balikan badanku di atas ranjangku. Munkin saat ini pipihku sudah seperti kepiting rebus.
“❤” balasku yang tak mampu berkata-kata dan memilih kembali memperbaiki posisi tubuhku untuk tidu. Selang satu menit, sebuah notifikasi chat kembali terdengar. Tampa berpikir panjang, aku langsung meraih ponselku. Yang kupikir itu adalah Ryan.
__ADS_1
“DEG”
“Apa ini?” tanyaku tidak percaya melihat Chat itu tampa kata-kata hanya sebuah foto Ryan yang terlihat bahagia sedang menggandeng mesra tangan seorang gadis cantik. Sontak hal itu membuat wajahku berubah secepat kilat dan tak terasa pipiku kini sudah di banjiri air mata.