Si Tampan Gunung Es

Si Tampan Gunung Es
30


__ADS_3

Beberapa hari ini aku cukup sibuk di kampus, belum lagi aku sering belajar masak dengan tante Rini. Maklum saja, saat ini kami sudah kembali lagi pada rutinitas kampus kami. Hari ini pun aku harus kuliah dari padi sampai asar, sementara sore aku harus ke rumah Ryan, karna tente Rini sedang tidak enak badan.


Tidak untuk menunda waktu, aku segera melanjutkan tugasku yang sempat tertunda saat tak sengaja tertidur tadi malam. Dengan cepat aku menyelesaikan tugas itu dan bergegas ke kampus.


“Syam, tungguin. Oi” panggil Lina.


“Lin. Lo baru datang juga?” tanyaku pada Lina.


“Iya nih. Gue selesaiin tugas dulu tadi. Lo kenapa baru datang Syam? Ngga biasanya” Tanya Lina heran.


“Sama kaya lo. Gue selesaiin tugas dulu, soalnya tadi malam gue ketiduran” ucapku.


“Hum, gitu. Tumben banget lo ketiduran saat kerja tugas” jawab Lina lagi.


“Ngga tau juga nih gue. Kayanya karna kelelahan deh” ucapku bingung.


“Humm, mungkin saja sih Syam. Kita kan emang sibuk di kampus akhir-akhir ini. Belum lagi lo harus belajar masak sama camer lo” tutur Lina yang tak lupa dengan ledekannya.


“Huh, suda ah. Mending kita masuk” ajakku pada Lina, dan Lina mengikut saja.


**


Setelah semua mata kuliah hari ini selesai, aku dan Lina memutuskan untuk segera ke musola sebelum pulang. Seperti biasa, kami selalu solat terlebih dahulu sebelum pulang juka waktu solat telah tiba.


“Oh ya Syam, kabar Ryan gimana?” Tanya Lina ketika kami berada di koridor musola.


“Ngga tau sih. Gue juga ngga nanya-nanya” jawabku santai.


“Kan lo sering sama mamahnya. Masa ngga ada cerita-cerita tentang Ryan. Parah lo Syam. Gimana mau maju” cerewet Lina.


“Ya ellah Lin. Ngapain juga gue harus tanya-tanyain Ryan. Bisa-bisa gue diledekin habis-habisan sama tante Rini. Lo tau sendiri kan tante Rini bagaimana?” jelasku.


“Iya Sih. Tapi apa Ryan punya pacar di Inggris?” Tanya Lina.


“Ngga tau sih, tapi di sana ada kak Dindea” jawabku.

__ADS_1


“Hah, ngapain dia ke sana. Jangan-jangan mereka pacaran lagi” ucap Lina.


“Ngga tau sih. Tapi kayanya ngga deh. Tapi aku juga ngga yakin sih. Kak Dindea kan terkenal kalau dia naksir sama Ryan” ucap Ryan.


“Entah” ucapku acuh.


Setelah sampai musola, kami bersiap untuk solat. Karena memang waktu sudah menunjukan waktu solat. Ketika selesai solat kami pulang dengan kendaraan kami masing-masing. Sesampainya di apartemen sederhanaku aku beristirahat sebentar dan kembali bersiap lagi untuk ke rumah Ryan.


Beberapa menit kemudian, aku sampai ke rumah mewah keluarga Ryan. Aku langsung masuk saja. Dan mengecek tante Rini. Aku sudah mencari-cari tante Rini di sekeliling rumah dan tidak menemukannya, hanya menemukan bi Rumi dan dia mengatakan bahwa nyonya besarnya itu sedang di kamar. Akhirnya aku memutuskan untuk mengecek tante Rini di dalam kamarnya.


Tok tok


“Tant. Ini Syam tante” ucapku dibalik pintu kamar tante Rini.


Aku sudah mengetok-ngetok pintu itu tak ada juga sahutan. Sementara tadi kata bi Rumi, tante Rini ada di kamar. Aku mencoba membuka pintunya dan ternyata kamarnya tidak terkunci. Sontak aku terkaget ketika melihat seseorang tergeletak di lantai, dan itu adalah tante Rini.


“Tant, tante kenapa?” ucapku khawatir.


“Tolong tolong, bi” teriakku.


“Nyonya besar kenapa non?” lanjut bi Rumi khawatir.


“Aku juga ngga tau bi. Sekarang bibi telpon om Hendra yah” perintahku pada bi Rumi.


“Baik non” ucap bi Rumi. Dan bergegas menelpon om Hendra.


Drrt drrrt


“Hallo tuan” ucap bi Rumi.


“Hallo bi, ada apa?” Tanya om Hendra.


“Nyonya tuan, nyoya” jawab bi Rumi.


“Ada apa bi, nyonya kenapa?” Tanya om Hendra khawatir.

__ADS_1


“Nyonya pingsan tuan” jawab bi Rumi.


“Apa? Ya sudah bawa dia kerumah sakit skarang. Aku tunggu disini saja karna lagi ada pasien darurat” jelas om Hendra.


“Baik tuan” patuh bi Rumi.


Setelah sambungan telpon mereka terputus. Bi Rumi bergegas memanggil mang Dio untuk mengantar mereka ke rumah sakit. Dan tampa menunggu lama mang Dio dan beberapa asisten rumah tangga lainnya berdatangan ke kamar tante Rini, mereka segera memapah tante Rini dan membawanya ke mobil. Sedangkan aku hanya mengikut dan masih syok dengan kondisi tante Rini.


Tidak butuh waktu lama, akhirnya kami sampai juga dirumah sakit. Kami langsung di sambut para pegawai rumah sakit yang memang telah di beri tahu oleh om Hendra terlebih dahulu. Dengan cepat para pegawai itu membawa tante Rini untuk diperiksakan, sementara aku dan bi Rumi hanya mengikut.


“Maaf nona, pengantar tidak boleh masuk. Silahkan menunggu di luar” ucap salah satu suster dan segera menutup pintu ruangan tempat dimana tante Rini di bawa.


Mendengar perintah suster itu, aku hanya mengangguk dan duduk di ruang tunggu bersama bi Rumi, sedangkan mang Dio segera pulang ke rumah Ryan.


Beberapa menit kemudian, om Hendra mengahmpiri kami yang masih terduduk di ruang tunggu dengan wajah sedih. Om Hendra baru saja menyelesaikan operasi darurat. Dan bergegas menuju tempat kami.


“Syam, bagaimana keadaan tante?” tanyanya khwatir.


“Aku blum tau om, tante masih di periksa di dalam” ucapku sedih saat melirik ruangan tante Rini.


“Maafkan Syam om. Mungkin ini gara-gara Syam” ucapku merasa bersalah.


“Tidak Syam, kamu jangan menyalahkan dirimu. Ini bukan salahmu” ucap om Hendra menenangkanku. Entah siapa yang harus di tenangkan di situasi ini.


“Oh ya Syam, Ryan sudah di hubungi?” Tanya om Hendra masih dengan wajah sedihnya.


“Belum om” jawabku.


“Ya sudah kalau gitu om hubungi Ryan dulu” ucap om Hendra.


“Biar aku saja om. Om istrahat saja. Om kan baru selesai oprasi” tawarku ketika melihat wajah lelah om Hendra. Dan karena memang om Hendra sedang lelah, dia memilih membiarkanku untuk menelpon Ryan.


“Tapi om, aku tidak punya nomornya” lanjutku ragu-ragu.


“Hah, kamu belum punya nomornya. Padahal kamu bilang naksir Ryan, tapi nomornya saja kamu tidak punya. Sebenarnya apa yang selama ini kau lakukan Syam?” canda om Hendra yang berusaha mencairkan suasan tegang di ruang tunggu itu, lalu menyodorkan ponselnya yang sudah terlihat kontak dengan nama putra mahkota, yah itu adalah nama kontak Ryan di ponsel papahnya. Tampa menunggu lama, aku segera mencatat nomor itu dan menghubungi Ryan.

__ADS_1


Setelah beberapa kali aku menghubungi, akhirnya Ryan mengangkat telpon juga. Benar kata om Hendra, bahwa Ryan tidak sembarang mengangkat telpon, terlebih lagi jika itu nomor baru. Namun itu tidak membuatku putus asa, yang pada akhirnya Ryan mengalah dan mengangkat telponnya.


__ADS_2