Si Tampan Gunung Es

Si Tampan Gunung Es
48


__ADS_3

“Huuhuuhuu” tangisku yang masih belum bisa move on dari perlakuan Ryan.


“Sudah deh Syam. Lo mau sampai kapan nangis kaya gini coba? Sekalipun lo nangis darah, ngga akan mungkin nyelesaiin masalah lo sama kak Ryan” bentak Lina, yang sudah merasa muak denganku karena sejak kedatangannya tadi aku tak berhenti menangis. Aku memang sengaja memanggil Lina ke apartemenku untuk menceritakan semua perlakuan Ryan padaku. Sebagai sahabat yang sangat baik, dalam hitungan menit dia sampai ke apartemenku lalu mendengarkan segala ceritaku.


“Huhuuu. Apa gue batalkan saja pernikahan gue ya?” tangisku yang tetap mengabaikan Lina.


“SYAM. Lo apa-apan sih? Lo ngga kasian sama mami papi apa? Jangan egois deh” bentak Lina.


“HUhhu, tapi bagaimana mungkin gue nikah sama Ryan, gue takut kalau dia marah, dia akan memperlakukan gue dengan buruk” ucapku lagi.


“Syam, yang namanya hubungan ngga ada yang mulus kaya jalan tol. Semua hubungan pasti punya ujian tersendiri” bijak Lina.


“Tapi Lin. Dimana-mana hubungan itu saling merangkul dengan cinta, berjalan bersama. Tapi gue, gue malah sibuk mencintai sendiri, lalu bagaimana gue bisa pertahanin hubungan yang berat sebelah ini? Bukannya harusnya hubungan berjalan berbarengan?” jelasku yang patah semangat.


“Sudah deh Syam. Lo ngga usah cari alasan. Inikan keputusan lo. Lagian kak Ryan begitu juga karna salah lo. Ngapain juga lo kluar sama cowok lain kalau bentar lagi mau nikah coba?” tambah Lina.


“Tapi kan, gue ngga tahu kalau dia akan seperti itu?” jawabku lagi.


“Mending lo berdoa, serahin semua sama Allah. Biar Allah yang tunjukan jalan. Dan pliiis, lo skarang berhenti nangis. Gue ngga tega tau ngga” ucap Lina sambil memelukku dan ikut menangis. Mendengar Lina berkata seperti itu, bukannya berhenti aku malah tambah menangis sejadi-jadinya.


**


“Tok tok”


“Masuk” ucap Ryan dari dalam ruangannya. Sekarang Ryan sudah bekerja di rumah sakit papahnya yang berada di Jakarta.


“Lo. Ngapain lo kesini?” ucap Ryan saat melihat siapa yang memasuki ruangannya.


“Ryan, ko lo gitu sama gue? gue mau ngajak lo makan siang. Lo blom makan kan?” ucap Dindea dengan gaya manja dan tidak berdosanya.


“Lo pergi saja sana sendiri. Ngapain juga gue makan siang sama lo?” jutek Ryan.


“Ayo sini. Gue kan baru balik lagi ke sini. Masa iya makan sendiri” tarik Dindea.


“Ya sudah lepasin gue. Tapi ini untuk terakhir kalinya” judes Ryan dan langsung mengikuti Dindea.


**


Kini Ryan dan Dindea sampai di kafe tempat mereka akan makan, tiba-tiba langkah mereka terhenti karena melihat ketiga orang di dalam kafe itu sedang berbincang serius. Dan itu adalah aku, Lina dan Andra. Sebenarnya kami sengaja mengajak Andra bertemu untuk mencari solusi dari masalahku. Yah setidaknya kan dia juga salah satu penyebabnya. Tapi bukannya masalah selesai, tapi sepertinya akan bertambah rumit karena Ryan yang melihat kami dengan tatapan yang tidak bisa di tebak.


“Cih. Tadi malam lo bilang apa? Salah paham?” ucap Ryan merasa jijik.


“Gue bisa jelasin kok Yan. Ini tidak seperti yang lo bayangin” ucapku takut-takut karena mengingat perlakuan Ryan semalam.


“Dasar murahan. Bisa-bisanya kau tidak menghiraukan ucapanku semalam” bentak Ryan.

__ADS_1


“DEG” Ucapan Ryan tepat memenuhi sasaran.


“Ayo Ryan kita pergi gue malas liat wajah wanita ini” ucap Dindea menambah suasana menjadi panas dengan sorot mata yang merasa jijik.


“Kenapa sih, lo Ngga pernah mau mendengar penjelasan gue?” ucapku berkaca-kaca, lalu berlari ke luar.


“Bukannya gue mau ikut campur hubungan kalian. Tapi bukankah seharusnya lo dengerin penjelasan Syam. Jangan egois deh. Coba liat diri lo skarang, lo marah karna dia jalan sama laki-laki lain. Tapi lo sendiri jalan dengan wanita tidak tahu malu ini. Cih memuakkan” marah Lina dan melirik jengkel pada Dindea.


“Apa lo bilang? Wanita tidak tahu malu?” Marah Dindea sedangkan Ryan masih diam mencerna perkataan Lina.


“Iya, kenapa? Lo pikir gue ngga tau kalau ini rencana lo?” ucap Lina.


“Maksud lo?” tanya Ryan penasaran.


“Jadi tadi itu….” Lina


*flashback on*


“Kalian duduk duluan yah. Aku mau ke toilet dulu” ucap Lina padaku dan Andra.


“Ok. Yuk Syam” balas Andra.


“Itukan kan Dindea, ngapain dia ke sini?” guman Lina lalu menuju ke toilet.


“Ayo lanjut” ucap Lina saat akan duduk di kursinya.


“Kok lo cepat bangat” heranku.


“Sudah ah mulai saja atur rencananya” ucap Lina.


*Flashback off*


“Ngga kok Ryan. Aku ngga tau apa-apa soal ini?” ucap Dindea terbata-bata ketika melihat tatapan Ryan.


“Emang lo punya bukti? Jangan fitnah gue sembarangan yah” marah Dindea.


“Cih, yang ada lo kali yang fitnah sahabat gue. Dasar tidak tahu malu” ucap Lina lalu beranjak pergi, namun setelah dua langkah berlalu, langkahnya berhenti dan berbalik.


“Satu hal lagi. Ryan lo singkirkan sedikit saja ego lo, kalau tidak ingin menyesal. Asal lo tau bukan hanya lo yang menginginkan dia. Tapi sahabat bodohku itu memilihmu yang tidak pernah mengerti dia” ucap Lina serius dan berlalu pergi.


Sesampainya di mobil, Lina melihatku yang tengah menangis di dalam mobil kesayangnya itu. Sontak membuat Lina bertambah mendidih lagi.


“Sudah yah Syam, lo ngga usah nangis lagi. Gue sudah marahin mereka, ok” ucap Lina ngasal.


“HHahh. Lo ngomong gitu, emang lo pikir dia anak kecil. Saat lo marahin dia jadi menurut. Dasar” tawaku masih bercampur dengan tangis saat mendengar ucapan Lina yang tidak masuk akal.

__ADS_1


“Heheheh. Habisnya gue bingung mau ngomong apa? Tapi betulan kok, tadi gue marahin Ryan. Makanya gue lama. Enak aja dia ngehina sahabat kesayangan gue di depan mata gue” jelas Lina lagi.


“Udah ah, jalan skarang” ucapku yang langsung di turuti oleh Lina.


“Jadi kita kemana Syam?” Tanya Lina.


“Terserah” ucapku malas.


“Bagaimana kalau kita main game di mall biasa. Itung-itung buang stress lah” saran Lina.


“Ok tuh. Ya sudah ke sana saja” jawabku. Lalu Lina melajukan mobilnya menuju mall biasa kami bermain.


“Jadi mau main apa?” tanyaku pada Lina.


“Kita main tembak aja. Kyanya pas banget nih sama persasaan lo saat ini” ejek Lina.


“OK” jawabku antusias dan menuju ketempat game itu berada.


Setelah mengahabiskan dua jam bermain, kami segera menuju tempat makan lalu pulang.


“Thanks yah Lin. Lo benar-benar sahabat terbaik gue” ucapku saat turun dari mobil Lina.


“It’s ok baby. Gue cabut yah. By” ucap Lina dan langsung melajukan mobilnya.


“Wah, hari ini gue lelah bangat” ucapku sambil merebahkan badanku di kasur empukku, sebelum beranjak membersihkan diri.


“Ting tong”


“Duh, siapa lagi yang datang malam-malam gini” gumanku ketakutan, masih trauma dengan Ryan.


“Ting tong”


“Ting tong”


“DRRTttttt”


“Drttttt”


Ponselku pun berbunyi, dan itu adalah Ryan.


“Jangan-jangan yang di luar adalah Ryan” gumanku lagi yang bertambah takut.


“Ting tong”


Kuberanikan diri menekan tombol percakapan yang di samping pintu...

__ADS_1


__ADS_2