Si Tampan Gunung Es

Si Tampan Gunung Es
31


__ADS_3

Setelah beberapa kali aku menghubungi, akhirnya Ryan mengangkat telpon juga. Benar kata om Hendra, bahwa Ryan tidak sembarang mengangkat telpon, terlebih lagi jika itu nomor baru. Namun itu tidak membuatku putus asa, yang pada akhirnya Ryan mengalah dan mengangkat telponnya.


“Hallo, assalamualaikum. Dengan siapa?” ucap Ryan membuka percakapan dengan gaya dinginnya.


Aku yang mendengar suara Ryan, langsung terkaget. Seolah aku semakin merindukan pemilik suara ini.


“Hallo. Dengan siapa?” Tanya kembali Ryan dengan suara dingin dan menahan emosi karena tidak ada juga respon dari si penelpon (dia adalah diriku).


“Ah, hallo. Walaikumussalam. Ini aku Ryan, Syam” ucapku terbata-bata.


Sekarang yang terkejut bukan aku, melainkan Ryan. “Ada apa gadis itu menelponku. Apakah dia mulai merindukanku?” mungkin kira-kira begitu isi pikiran Ryan saat ini.


“Hallo” ucapku lagi yang menyadarkan lamunan Ryan.


“Ah. Ya. Kenapa?” tanyanya dingin.


“Itu, tante Rini masuk rumah sakit” jawabku ragu.


“APA?” kaget Ryan.


“Kenapa mama bisa masuk rumah sakit. Pasti semua gara-gara lo” lanjut Ryan lagi.


“Maafin gue” ucapku merasa bersalah.


“Jadi bagaimana kondisi mama skarang?” Tanyanya lagi khawatir.


“Tante Rini masih di periksa dokter” jawabku.


“Ya sudah. Bilang sama papah kalau gue pulang sekarang” perintah Ryan.


“Baik” jawabku. Dan Ryan memutus telpon.


Setelah sambungan telpon kami berakhir, aku kembali ke ruang tunggu. Dan ternyata tante Rini sudah selesai di priksa. Aku segera masuk ke ruang rawat tante Rini yang di sana ada om Hendra sedang memandangi istrinya yang belum sadar. Sedangkan bi Rumi lebih dulu pulang ke rumah untuk mengambil segala perlengkapan yang dibutuhkan tante Rini.


“Syam, bagaimana kata Ryan?” Tanya om Hendra saat aku berjalan masuk ruangan.


“Ryan bilang, dia akan berangkat skarang om” jawabku.


“Hmmm” om Hendra.


“Oh ya om, gimana keadaan tante?” tanyaku khawatir.


“Tante hanya kelelahan. Tapi kayanya parah deh Syam, soalnya biasanya ngga sampai tidak sadar selama ini” jawab om Hendra dengan wajah sedih.

__ADS_1


“Maaf yah om. Mungkin ini karna Syam. Harusnya tadi aku datang lebih dulu ke rumah” tuturku menyesal.


“Ini bukan salah kamu Syam” ucap om Hendra.


**Ryan


Ryan terlihat khswatir saat masuk kembali ke dalam ruangan yang sempat ditinggalkannya karena mengangkat telpon dari seseorang, hal ini membuat dokter Grad bingung. Yang saat ini sedang bersama dengan Ryan di ruangnnya.


“Ada apa Ryan? siapa yang menelpon sampai kau khawatir begitu?” Tanya dokter Grad penasaran.


“Mamah masuk rumah sakit lagi paman” jawab Ryan masih dengan ekspresi khawatirnya.


“Apa, jadi bagaimana kondisinya saat ini?” kaget dokter Grad.


“Aku juga blum tau. Soalnya tadi yang menelpon mengatakan kalau mamah masih di priksa” jawabku Ryan.


“Emang siapa yang menelpon tadi?” Tanya dokter Grad lagi.


“Oh itu. Anak kesayangan mamah” jawab Ryan ngasal.


“Emang kamu punya adik? Seingat paman kamu anak satu-satunya deh” bingung dokter Grad.


“Oh, dia itu junior Ryan di kampus” jawab Ryan.


“Panjang ceritanya paman, nanti lain kali aku ceritain. Skarang aku akan pulang dulu. Karna aku akan pulang ke Indonesia” ucap Ryan menyudahi percakapannya dengan dokter Grad yang begitu penasaran itu.


“Baiklah Ryan. Kamu hati-hati. Salam sama mamah papahmu” ucap dokter Grad dan Ryan hanya mengiyakan lalu berlalu pergi.


Melihat Ryan yang terburu-buru pergi, membuat Rendi penasaran. Sontak dia bergegas mengahampiri Ryan.


“Bro, lo mau kemana? Buru-buru amat” Tanya Rendi ketika jaraknya tidak begitu jauh dengan Ryan.


“Rend, gue mau balik Indo” jawab Ryan.


“Hah, lo mau ngapain?” Tanya Rendi kaget.


“Nyokap gue masuk rumah sakit. Gue duluan yah, nanti gue jelasin di telpon. Ok” ucap Ryan dan berlalu pergi. Sementara Rendi masih terpaku, antara bingung dan kaget.


Setelah perjalanan yang cukup lama, akhirnya Ryan pun sampai di Indonesia. Dia langsung bergegas menuju rumah sakit tempat mamahnya di rawat. Sesampainya di rumah sakit, Ryan langsung menerobos kamar mamahnya. Dia bertambah khawatir melihat mamahnya yang masih belum sehat, walaupun mamahnya sudah sadar.


“Mah, mama kenapa?” Tanya Ryan sedih.


“Sttttt, jangan ribut sayang. Syam baru saja tertidur” tegur tante Rini pada anaknya sambil menunjukku yang tengah tertidur duduk membungkuk pada sisi ranjang tante Rini.

__ADS_1


“Kenapa dia tidur di sini sih mah? Dasar cewek aneh” jutek Ryan yang melihatku tertidur. Sedangkan tante Rini hanya diam. Dia sudah sangat mengerti dengan sifat anaknya itu.


“Papah dimana, mah?” Tanya Ryan.


“Papah lagi cari makan, sejak kemarin dia blum makan” jawab tante Rini.


Karena mendengar percakapan Ryan dan mamahnya, aku jadi terbangun. Sontak aku terkaget melihat Ryan yang memandangiku dengan wajah gunung es khasnya itu.


“Ah, maaf tant. Aku jadi ketiduran” ucapku merasa malu.


“Ah, ngga paapa kok sayang. Kamu pasti kelelahan” ucap tante Rini dan aku hanya tersenyum.


“Oh ya Syam. Kamu siap-siap deh, sekarang sudah jam 08.30. Semalam kamu bilang mau masuk kampus jam 10” tambah tante Rini.


“Ngga papa kok tant, aku hari ini izin dulu. Jagain tante di sini” tawarku.


“Kamu ke kampus saja Syam, nanti biar Ryan sama om yang jaga tante” ucap om Hendra ketika memasuki ruangan.


“Baik om, tant. Kalau gitu Syam balik dulu” izinku.


“Biar Ryan saja yang antar Syam. Kamu kan ngga bawa kendaraan” ucap om Hendra dan aku melirik Ryan, ingin memastikana ekspresi pria itu. Tapi seperti biasa, ekspresi wajahnya sungguh tidak bisa di tebak. Aku memang tidak membawa kendaraan saat ke rumah Ryan kemarin, karena sedang tidak ingin mengendarai motor. Alasannya adalah karena capek.


“Kamu mau kan sayang?” Tanya tante Rini pada anaknya dan Ryan tidak menjawab, namun segera meminta kunci mobil dari ayahnya.


“Ya sudah kami pergi dulu. Oh ya pah, aku kayanya agak lama. Kebetulan ada urusan sedikit di kampus” izin Ryan pada orang tuanya.


“Om tant, Syam pulang dulu. Nanti sebentar baru datang lagi” tambahku yang di iyakan oleh tante Rini dan om Hendra.


Lalu kami segera keluar ruangan menuju parkiran, dimana mobil om Hendra terparkir. Di sepanjang perjalanan kami hanya diam membisu seperti sebelum-sebelumnya. Aku sebenarnya sangat ingin berbicara dengan pria yang sangat kurindukan ini. Hanya saja wajah dinginnya membuatku mengurunkan niat.


“Kita akan singgah dulu di rumah, karna aku juga akan bersiap-siap” ucap Ryan memecah keheningan.


“Baik” jawabku singkat.


Beberapa menit kemudiam kami sampai di rumah keluarga Ryan. Ryan langsung bergegas menuju kamarnya untuk bersiap-siap, sementara aku menunggunya di ruang tamu. Tidak butuh waktu lama bagi Ryan untuk bersiap, sekarang dia sudah sangat tampan dengan pakayan khasnya. Aku seolah terhipnotis saat memandanginya.


“Bukankah gue sudah tampan sejak dulu. Kenapa lo mandangin gue seolah baru pertama melihat ketampananku” ucap Ryan ketika melewatiku yang berhasil membuatku malu.


“Astaga, apa yang terjadi denganku” gumanku menyadarkan lamunanku, namun tidak sengaja terdengar oleh Ryan. Dan Ryan hanya tersenyum penuh kemenangan tampa memperlihatkan ekspresi itu padaku.


“Apa kau masih ingin di situ?” tegur Ryan lagi yang melihatku tidak bergerak juga.


“Ah iya. Aku datang” jawabku. Lalu Ryan melajukan mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2