Sipembunuh Bayaran Menemukan Cinta

Sipembunuh Bayaran Menemukan Cinta
Episode 10


__ADS_3

Pada keesokan harinya saat sedang menuju ruang kelas mereka tanpa sengaja melihat keraiaman dan menghampirinya karena rasa penasaran.


"mengapa ramai sekali, apa yang terjadi?" tanya Fania terhadap seorang siswa yang berada di tempat tersebut.


"mereka menyambut kedatangan Lauren" jawab siswa tersebut.


Ternyata Lauren menyadari kedatangan Zilvina dan teman temannya, karena Lauren merasa asing terhadap mereka ber-empat Lauren pun menghampiri mereka.


"heii apakah kalian siswa baru di sekolah ini? wajah kalian asing di mataku" tanya Lauren.


"iya" jawab Lilia singkat.


"untuk kedepannya kita harus berteman" ucap Lauren sambil mengulurkan tangan.


"tentu saja" jawab Zilvina sambil berjabat tangan dengan Lauren.


"aku masih memiliki urusan yang harus aku selesaikan, kita sambung pembicaraan kita di lain waktu saja" kata Lauren lalu beranjak pergi.


"sifatnya tidak bisa di tebak" kata Zilvina berbisik.


"tapi tidak ada salahnya untuk selalu waspada" jawab Lilia.


"Hmm jangan terus berbisik di sini ayo kita segera ke kelas atau kita akan terlambat" sambung Sheon.


Mereka pun bergegas pergi ke kelas karna jam pelajaran akan segera di mulai. Tak lama kemudian jam pelajaran pun di mulai, Guru pun datang dan memasuki ruangan bersama Lauren.


"selamat pagi anak anak" sapa Guru.


"selamat pagi Buu" jawab para siswa serentak.


"Ibu memiliki kabar gembira yang mungkin kalian sudah mendengarnya, Lauren teman kita sudah kembali dari Olimpiade internasional. Ucapkan selamat datang kembali pada Lauren" ucap guru.


"haii semuanya" sapa Lauren.


"Lauren silahkan memilih tempat duduk yang kau mau, kita akan segera memulai pelajaran hari ini" ucap guru dengan lembut.


"oh ternyata dia satu kelas dengan kita" bisik Sheon.


"heii bisakah aku duduk bersama kalian?" tanya Lauren sembari menghampiri Zilvina.

__ADS_1


"terserah kau saja" jawab Lilia singkat.


"boleh boleh, dengan senang hati" jawab Zilvina tidak enak hati karena perbuatan Lilia.


"walaupun dia bukan putri keluarga yang sebesar kita, tapi setidaknya kita harus sedikit menghargainya agar tidak ada rasa curiga yang muncul!" bisik Fania pada Lilia.


Singkat cerita jam pelajaran pertama pun selesai dan jam istirahat tiba. Ketika mereka hendak ke kantin Lauren memanggil mereka lalu bertanya "hei apakah kalian akan pergi ke kantin?" tanya Lauren.


"iya" jawab Sheon.


"apa aku boleh pergi bersama kalian?" tanya Lauren. Tanpa di duga Karina datang menghampiri mereka dengan perasaan marah.


"hei nona Lauren jangan kau terlalu dekat dengan mereka, mereka adalah rakyat jelata yang sangat tidak cocok denganmu seorang tuan putri keluarga ternama di kota A" ucap Karina.


"apa kau belum puas membuat masalah kemarin dan akan mengulanginya lagi hari ini?" tanya Fania merasa jengkel dengan Karina.


"itu bukan urusanmu" jawab Karina.


"kauuuu!" saut Fania nada marah.


"sudah... ayo ke kantin disini udaranya tercemar" ucap Fania sambil meninggalkan tempat itu.


"harggghhh!! kau menghancurkan rencanaku" ucap Lauren sambil menampar Karina.


"a-apa maksudmu?" tanya Karina kebingungan.


"jadi seperti ini....... " Lauren menjelaskan rencananya kepada Karina.


"ja-jadi kau tidak benar-benar baik padanya?" tanya Karina terkejut mendengar rencana Lauren.


"heh dia berusaha mendekati Vino, jadi dia harus kuberi sedikit pelajaran karena telah menyingung tuan putri dari keluarga Gabriella" jelas Lauren.


"sepertinya akan ada pertunjukan yang menarik" jawab Karina.


"habislah kau Zilvina" ucap Karina dalam hati.


Sementara itu keadaan Zilvina yang berada di kantin...


"Zilvina aku menyarankan kau jangan terlalu dekat dengan dia, karena kurasa dia memiliki rencana lain untuk menjebakmu" ucap Lilia.

__ADS_1


"rencana lain? rencana lain apa maksudmu? dia ingin mencelakaiku?" tanya Zilvina kebingungan.


"kurang lebih begitu" jawab Lilia.


"ta-tapi dia terlihat sangat baik" ucap Zilvina menyangkal pendapat Lilia.


"apa kau merasa kurang yakin dengan firasatku ini?" tanya Lilia.


"kurasa kau harus percaya Lilia, Zilvina. firasat dia tidak pernah salah selama ini " tutur Fania.


"Yap betul.. kau harus berhati hati, Zilvina!" sambung Sheon.


"ta-tapi" ucap Zilvina berusaha meyakinkan teman temannya.


"tidak ada kata tapi, apakah kau memilih percaya kepada orang baru yang kau temui tadi pagi atau kau memilih percaya pada partner mu yang sudah bersamamu bertahun tahun" ucap Lilia mempertegas pendapatnya.


"ba-baiklah aku akan mempercayai kalian, aku akan lebih berhati hati untuk kedepannya" ucap Zilvina terpaksa menyetujui perkataan teman temannya.


"hey! kalian kemarin sudah menyingung perasaanku dan hari ini kalian berusaha untuk mendekati Lauren, sebenarnya apa yang kalian inginkan?" ucap Karina tiba tiba saja datang sembari marah marah.


"apa kau tidak tau permisi, kau bilang kau tuan putri keluarga Alexander bukankah kelurgamu mengajarkan etika yang baik padamu?" saut Fania mempermainkan.


"beraninya kau!! kau berani mengatasnamakan keluarga Alexander dalam hal buruk" ucap Karina marah.


"hmph aku hanya menilainya dari perilakunya saja selebihnya kau yang mengatakannya" ucap Fania.


"kauu!! awas kau ya, akan kupastikan besok kau tidak akan menghirup udara segar lagi!" ancam Karina.


"sejak kemarin aku sudah menunggu kata katamu itu, tapi tidak ada kenyataan yang menyertainya" ucap Fania.


"berani sekali kau meremehkanku!!" ucap Karina kesal.


"berhenti Fania.. kita harus kembali ke kelas sekarang, jam istirahat akan segera berakhir" ucap Lilia. Mereka ber-empat pun mengacuhkan Karina dan pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.


"berani sekali kalian meninggalkanku begitu saja!" ucap Karina kesal.


"sampah memang patut untuk di tinggalkan begitu saja bukan?" jawab Fania mempermainkan Karina.


"sudah biarkan sampah itu terus berbicara" ajak Lilia.

__ADS_1


__ADS_2