
Sesampainya di kelas Zilvina di kagetkan dengan Vino yang tiba tiba menghampirinya lalu menanyakan pertanyaan yang ia tidak mengerti sama sekali, belum sempat ia menjawab pertanyaan tersebut, Vino telah lebih dahulu menamparnya. Melihat hal tersebut Zilvina hanya bisa membeku karena ia tidak mengerti apapun.
"hei Zilvina mengapa kau menampar Lauren?" tanya Vino sambil menampar Zilvina.
"apa maksudmu? apakah kau ingin aku pukul hingga patah tulang?" tanya Fania marah melihat Vino menampar Zilvina.
"Lauren berkata bahwa Zilvina menampar Lauren tadi" jawab Vino.
"benar aku juga melihatnya" sambung Karina tiba tiba datang.
"apakah kau memiliki bukti?" tanya Lilia berusaha untuk bersabar.
"ta-tapi Lauren tidak pernah bohong" ucap Vino.
"cukup... ternyata kau pandai berdrama, ternyata aku memang tidak pantas mempercayaimu, Lauren!" ujar Zilvina dengan nada marah.
"ayo pergi ke UKS aku akan mengobati lukamu, Zilvina" ajak Fania sembari mengajak Zilvina pergi.
"apa maksudmu pandai berdrama? apa kau takut berhadapan denganku? sementara kau yang rakyat jelata dengan aku sebagai putri keluarga ternama di kota A " Lauren berteriak dengan suara lantang yang mengakibatkan semua orang menoleh ke arahnya.
"apakah kau ingin aku pukul?" ucap Fania marah sembari mengepalkan tangan.
"jika kau berani memukulku maka kau harus berurusan dengan keluarga Gabriella" ancam Lauren alih alih membuat Fania gentar.
"diam jika tidak ingin terluka!" ucap Zilvina menatap Lauren dengan kejam lalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
"a-aura itu... aura pembunuh.." kata Lauren dalam hati ketakutan.
Zilvina dan teman temannya menuju ke UKS sekolah untuk mengobati luka Zilvina.
"mengapa kalian sangat gegabah?" tanya Lilia sembari mengobati luka Zilvina.
"ma-maafkan kami" kata Fania dan Zilvina merasa bersalah.
__ADS_1
"apakah kita akan melewatkan jam pelajaran kedua? bagaimana jika kita di hukum?" tanya Sheon khawatir.
"dalam keadaan seperti ini kau masih memikirkan hukuman? bukankah itu hal mudah, apa yang harus kau takutkan? hukuman di tempat seperti ini tidak akan membuatmu dicambuk 100x" ucap Fania memarahi Sheon.
"apakah kita harus kembali ke kota B dan memberitahu keluarga kita masing masing?" tanya Fania khawatir.
"aku rasa itu perlu, tapi jika Zilvina ingin bersenang senang maka apa boleh buat " jawab Lilia sembari melirik Zilvina.
"dia sudah berani menamparku maka dia harus mendapatkan hukumannya" jawab Zilvina tegas.
"apakah Dendelions is back?" kata Sheon antusias.
"mengapa kau terlihat sangat bersemangat?" ucap Zilvina tertawa melihat Sheon sangat bersemangat.
"kapan kita akan memulainya?" tanya Fania bersemangat.
"kita tunggu mereka memulai, setelah itu kita akan mengikuti alur yang mereka buat" jawab Zilvina.
Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah, sesampainya di rumah mereka melakukan tugas masing masing antara lain Lilia mengumpulkan informasi, Fania menyusun strategi, Zilvina menyiapkan senapannya dan Sheon menyiapkan sejumplah pisau.
"bagaimana Fania?" tanya Sheon dan Zilvina.
"kita akan mulai dari titik ini jika mereka melakukan hal ini, mereka mungkin akan mulai seperti ini dan....... " Fania menjelaskan strategi yang telah ia siapkan.
"bagaimana denganmu, Lilia?" tanya mereka.
"jika di lihat dari kamera pengawas di sekolah, mereka telah merencanakan hal ini sejak kita pergi ke kantin tadi pagi, dan juga dia sengaja membuat wajahnya terlihat memar agar tidak mencurigakan dan akhirnya Vino pun percaya dengan trik liciknya" ucap Lilia menjelaskan.
"jadi ituu" ucap Zilvina sambil tersenyum jahat.
"baiklah semua sudah siap jadi kita hanya harus menunggu mereka bergerak dan kita akan memulai semuanya" ucap Lilia.
Pada keesokan paginya mereka berangkat paling pagi karena sudah merencanakannya sejak kemarin.
__ADS_1
"apakah kita harus memancing mereka memulainya?" tanya Sheon.
"tidak perlu, lebih baik kita menunggu mereka memulainya saja karena kita adalah macan yang sedang menunggu mangsa untuk di terkam" ucap Lilia.
"jika dia terus berdrama maka aku akan menunjukkan kemampuan berdramaku kepadanya dan tugas kita hanyalah melihat dan menunggu" sambung Zilvina.
"Hmm baiklah kuserahkan pada kalian" jawab Sheon. Akhirnya setelah beberapa saat Lauren, Karina dan Vino pun datang secara bersamaan. Zilvina pun duduk dengan menaikkan kakinya ke meja di sebelahnya.
"hei singkirkan kakimu!! itu menghalangi jalanku" ucap Lauren.
"bukankah tempat dudukmu berada di depanku kemarin?" tanya Zilvina mempermainkan.
"dan mengapa kau pindah posisi ke sebelah sana sekarang, apakah kau khawatir Zilvina akan melukaimu?" sambung Sheon.
"hmph terserah diriku aku ingin duduk dimana, bahkan jika harus membeli sekolah ini pun keluargaku sanggup!" ucap Lauren membanggakan diri.
"kalian rakyat jelata tidak akan mengerti tentang hal ini!" sambung Karina.
"hehehe dimana keluarga kalian yang sangat terhormat itu, bahkan untuk menghukum kami yang keterlaluan ini pun tidak mampu" jawab Fania mengejek.
"apa kau bilang" ucap Karina marah.
"kalian sudah aku beri kesempatan tetapi kalian menolaknya, apakah kalian bodoh? banyak orang yang meminta maaf ketika menyinggung kami" ucap Lauren dengan angkuhnya.
"seperti itukah? wahh itu sangat menyeramkan aku sangat takutt" jawab Sheon mengejek.
"Wahhh kurasa aku akan berlari agar tidak menyingung kalian" sambung Fania.
"maafkan kami tuan putri hahaha" ucap Sheon mempermainkan.
"cukuppp!! apakah kalian tidak pernah diajari sopan santun sama sekali" bentak Vino.
"ayo pergi saja Lauren, di sini udaranya tercemar oleh rakyat jelata" ajak Karina sembari meninggalkan kelas.
__ADS_1