Sipembunuh Bayaran Menemukan Cinta

Sipembunuh Bayaran Menemukan Cinta
Episode 17


__ADS_3

Ketika di mobil Zilvina menelpon Lilia, "ada kepentingan apa kau meneleponku?" tanya Lilia ketika menerima telepon dari Zilvina.


"temui aku di basecamp" jawab Zilvina dingin, lalu mematikan teleponnya.


"hmm" ucap Lilia.


"sudah sangat lama sekali dia tidak mengajakku ke basecamp, apakah mungkin sedang terjadi masalah antara dia dengan Ayahnya, aku dengar dengar nona pertama kembali mungkinkah kejadian di masa lalu itu terulang kembali...haiss sudahlah" ucap Lilia dalam hati dan bergegas menemui Zilvina.


...----------------...


"Zilvina" teriak Lilia sembari mendobrak pintu basecamp.


"hmm aku disini, jangan kau rusak pintu itu!" jawab Zilvina.


"huhh syukurlah kau tidak melakukan hal gila lagi" ucap Lilia menghela nafas.


"kakak keduaku akan kembali ke kota B juga hari ini, tidak mungkin kan aku melakukan hal gila semacam itu" ucap Zilvina.


"apakah Ayahmu...?" tanya Lilia sembari duduk di samping Zilvina.


"tidak... hanya saja aku butuh tempat untuk menenangkan pikiranku" potong Zilvina.


"huhh syukurlah" ucap Lilia lega.


"kau tidak akan mengajakku untuk menerima misi yang gila seperti waktu itu kan?" sambung Lilia.


"Sheon dan Fania masih di kota A tidak mungkin kita hanya melakukannya berdua bukan?" jawab Zilvina.


"haiss aku rasa kau benar" ucap Lilia.


"aku akan menjemput kakak kedua ku" ucap Zilvina lalu beranjak pergi.


"baiklah" ucap Lilia sambil tersenyum palsu.


"jika suasana hatimu sedikit lebih baik hari ini akan kupukul kau, memintaku datang kesini hanya untuk menanyaimu sedikit pertanyaan, apaksh kau pikir aku ini wartawan" gumam Lilia merasa kesal.


"aku mendengarmu! berhentilah berguman dan mencaciku seperti itu" ucap Zilvina, ternyata mendengar perkataan Lilia.


"hehe sebaiknya kau bergegas atau kakakmu akan menunggu" ucap Lilia beralasan.


"hemph.. kau memang yang paling mengerti aku Lilia" ucap Zilvina sambil tersenyum.


"senyum macam apa yang kau berikan padaku, apakah kau lupa kita ini partner selamanya" ucap Lilia sambil menepuk pundak Zilvina.


"cepatlah pergi kakakmu mungkin sudah menunggu mu dibandara" ucap Lilia.

__ADS_1


"baiklah aku akan berangkat, sampai jumpa" jawab Zilvina sembari bergegas menuju ke bandara.


...----------------...


"kakakk......" teriak Zilvina sembari berlari, lalu memeluk Devano.


"heh kau sudah tumbuh besar sekarang" puji Devano sembari mengelus kepala Zilvina.


"hehe kakak yang terlalu jarang bertemu denganku" ucap Zilvina tersenyum hangat.


"hmph! kau terlalu membanggakan diri! terima ini......" Devano menodongkan pisau pada Zilvina untuk mengujinya. Namun dengan cepat Zilvina dapat menghindari pisau tersebut dengan sangat sempurna.


"hemph! apakah kau mengira adikmu ini mudah untuk ditipu, kakak?" ucap Zilvina setelah berhasil menghindar.


"haisss Zilvina memang adik yang pintar" ucap Devano sambil mengelus kepala Zilvina.


"apakah besok kau mau berlatih denganku, kak?" tanya Zilvina manja.


"Hmm.. aku rasa, bisa" jawab Devano.


"Wahhh menyenangkan..... kau memang kakak terbaik di dunia" ucap Zilvina girang.


"maaf Zilvina, kakak harus membawamu ke dunia yang seharusnya tidak pernah kau lihat, tapi hanya ini cara yang bisa aku lakukan untuk melindungimu dari bahaya termasuk Ayah, aku tidak tau bagaimana perasaanmu jika kau tau Ayah sangat membencimu" ucap Devano dalam hati.


"ayo segera pulang... aku yakin kakak sangat lelah bukan?" ujar Zilvina sembari menarik tangan Devano.


...----------------...


"baiklah kami akan segera kesana" jawab Devano.


"Zilvina....Zilvina..... " panggil Devano.


"mengapa sejak tadi kau banyak melamun? apakah terjadi masalah denganmu? apakah ada yang berani mengganggumu? katakan pada kakak! aku akan memberinya pelaran" ucap Devano tegas.


"h-hahhh? ti-tidak ada, tidak ada yang menggangguku, mungkin karena baru saja kembali dari kota A aku merasa sedikit lelah" jawab Zilvina kaget.


"ayo kita ke ruang keluarga! Ayah, Ibu dan Kakak pertama mungkin sudah menunggu kita disana" ajak Zilvina.


"baiklah, dan jika ada seorang pun yang berani mengangumu katakan padaku, aku akan memberinya pelajaran atas nama kakakmu!" ucap Devano.


"hmm.. baiklah pahlawan" jawab Zilvina sembari tersenyum.


"memang sejak dahulu orang yang paling mengerti aku hanyalah kakak kedua dan para partnerku saja" ucap Zilvina dalam hati.


...----------------...

__ADS_1


"Ayahh, Ibu kami kembali" sapa Devano.


"hmm duduklah" jawab Ayah Zilvina.


"ada hal apa tiba tiba saja Ayah memanggil kami bertiga untuk berkumpul di sini, Ayah?" tanya Devano.


"iya benar, bukankah jika makan malam saja tidak perlu memanggil kami bertiga?" sambung Evellyn.


"sebenarnya ada hal yang ingin Ayah beritahukan kepada kalian, makan malam ini bukanlah makan malam biasa seperti yang kalian bayangkan" jawab Ayah Zilvina, tuan Arlles.


"apa bedanya hanya makan malam saja, menghabiskan waktu saja" jawab Zilvina acuh.


"heii adik ketiga!! mengapa saat Ayah sedang berbicara kau memotong bukankah itu termasuk tidak sopan!" ucap Evellyn berlagak peduli.


"haihh tidak sopan ya? apakah menuduh orang yang tidak bersalah itu termasuk sopan?" tanya Zilvina dengan ekspresi marah.


"Zilvina cukup! mengapa kau bicara seperti itu keada Evellyn? dia adalah kakakmu! kau harus menghormatinya" bentak Ibu Zilvina.


"hemphh kakak? apakah seseorang pantas disebut kakak jika dia tega menjebak adiknya sendiri?" jawab Zilvina memojokkan.


"Zilvina cukuppp! bukankah itu kejadian 10 tahun yang lalu? mengapa kau masih mengungkitnya sekarang?!" ucap Ayah Zilvina sembari akan memukul Zilvina.


"hemph Ayah.. aku bukanlah Zilvina yang dulu, Zilvina yang dapat kau pukul dengan sesuka hatimu" ucap Zilvina sembari menahan pukulan Ayahnya.


"Zilvina... yang Ayah katakan benar! mengapa kau masih saja mengingat kejadian 10 tahun yang lalu, itu adalah masa lalu Zilvina... mengapa kau tidak melupakannya saja" ucap Evellyn berpura bura sedih.


"hahaha.. aku tahu kau memang aktris, tapi kau tak perlu berdrama disini" ucap Zilvina sembari menatap Evellyn dengan ekspresi marah.


"beraninya kauuu.....!!!" bentak Ayah Zilvina seraya melempar sebuah gelas ke arahnya. Gelas itu pecah dan mengenai punggung Devano yang ingin melindungi Zilvina.


"ka-kakak!! apakah kau baik baik saja?" tanya Zilvina panik.


"ka-kakak.. baik baik saja... jangan khawatir" jawab Devano lirih, menahan sakit.


"ta-tapi punggungmu berdarah" ucap Zilvina khawatir.


"hemphhh! ternyata kau masih terus melindungi gadis pencuri itu, Devano!" ucap Evellyn.


"apa yang kau maksud dengan gadis pencuri?!" ucap Zilvina marah dan mengarahkan sebuah pecahan gelas ke arah Evellyn.


"Zilvina! cukup! Ayah sudah tidak tahan lagi, berhentilah membuat kekacauan disini!!" bentak Ayah Zilvina.


"hmph! ternyata kau masihlah Ayah payah yang selalu melindungi putri pertamamu!" teriak Zilvina.


"cukup Zilvina! bisakah kita ke kemarku saja sekarang!" ucap Devano menghentikan Zilvina.

__ADS_1


"ka-kakak... haihh baiklah..." jawab Zilvina sembari memapah Devano dan pergi ke kamarnya.


"jika aku tidak menghentikannya mungkin akan ada pertumpahan darah disini" ucap Devano dalam hati.


__ADS_2