Sipembunuh Bayaran Menemukan Cinta

Sipembunuh Bayaran Menemukan Cinta
episode 37


__ADS_3

Dengan ekspresi yang terlihat sedih, Zeline hendak meninggalkan tempat tersebut sembari berkata "baiklah aku akan duduk di tempat lain saja" ucapnya beranjak meninggalkan tempat tersebut.


Karena merasa tidak enak hati, Zilvina memanggil Zeline agar ia kembali "heyy tunggu!" panggil Zilvina.


"duduklah di belakangku" sambung Zilvina.


"jika temanmu keberatan maka aku akan duduk di sana saja" ucap Zeline.


"jangan hiraukan temanku! kau dapat duduk di belakangku" jawab Zilvina.


"Hmm... baiklah" ucap Zeline menuju ke tempat duduk di belakang Zilvina. Melihat Zilvina yang masih saja berbaik hati kepada Zeline, Lilia terus saja melihat mereka berdua dengan tatapan yang tidak mengenakkan.


Sontak Fania pun berbisik kepadanya "serahkan semuanya pada Zilvina, dia masih saja penasaran dengan informasi mengenai Zeline" bisik Fania.


"terserah" jawab Lilia ketus.


"heyy apakah kita bisa menjadi teman?" tanya Zilvina.


"sejujurnya aku tidak ingin berteman dengan orang yang memiliki status sosial rendah namun karena kau telah berbuat baik padaku aku akan berteman denganmu" ucap Zeline arogan.


"Hmm dia mengeluarkan sifat aslinya" ucap Zilvina dalam hati.


"kau memang sangat baik nona Zeline" puji Zilvina sembari melirik ke arah teman temannya.


Mereka mengikuti pelajaran pertama hingga tak terasa jam istirahat pun telah tiba, setelah jam istirahat tiba Vino menghampiri tempat duduk Zilvina dengan maksud akan mengajak Zilvina dan teman temannya untuk pergi ke kantin bersama. Namun ketika sedang asik berbicara dengan Zilvina, Zeline malah marah kepada Vino.....


"heyy apakah kalian akan pergi kekantin?" tanya Vino ketika menghampiri Zilvina dan teman temannya.


"iya, apakah kau akan bergabung" jawab Fania.


"biasanya kau selalu bergabung, mengapa kau sangat sungkan hari ini?" ucap Lilia.


"heyy Vino! mengapa kau mau bergabung dengan orang yang mempunyai status sosial rendah seperti mereka!" ucap Zeline menyela.


"maaf Zeline aku bukan dirimu yang selalu menilai orang dari status sosial mereka" jawab Vino.

__ADS_1


"jika kau tidak suka maka jangan bergabung dengan kami" ucap Lilia.


"beraninya kau berbicara seperti itu kepadaku" ucap Zeline sembari menampar Lilia.


"aku ini putri dari keluarga Arcenlion kau tau!! jika hanya untuk membeli keluargamu saja aku mampu, jadi jangan keterlaluan padaku!!" sambungnya.


Melihat temannya di caci maki dan ditampar Fania pun tidak tinggal diam "cukup!! nona Zeline dari keluarga Arcenlion mohon untuk tidak mengangu kami" bentak Fania.


"no-nona Zeline apakah kau baik baik saja" ucap Karina yang datang bersama Lauren tiba tiba.


"heyyy!! berani sekali kau membentak nona Zeline apakah kalian cari mati!!" ucap Lauren dengan nada tinggi.


Melihat Lauren yang masih saja turut campur dalam urusannya, Zilvina pun menatapnya dengan tatapan tajam sembari berkata "apakah kau tau arti diam lebih baik daripada Apapun, Lauren?" ucap Zilvina.


"tidak ada artinya mengancamku saat ini" jawab Lauren dengan sombongnya.


"apakah kau tau, bahkan diam lebih baik daripada mengancam kami karena kalian akan dibuat mati segan hidup tak mau oleh keluarga Arcenlion " ucap Karina.


"sudah! ayo tinggalkan sampah sampah tidak berguna ini! rasanya aku ingin muntah" ucap Zeline meninggalkan Zilvina dan teman temannya.


"jangan dengarkan apa yang mereka katakan" ucap Vino menenangkan.


"Zeline memang memiliki temperamen yang buruk sejak ia kecil, ia sangat mudah marah dengan hal hal kecil semacam ini jadi tidak perlu heran" sambung Vino.


"seleraku untuk makan telah hilang, kalian ke kantin saja aku tidak mau" ucap Zilvina.


"jangan hiraukan apa yang dia bicarakan" tutur Vino.


"aku hanya tidak ingin makan saja dan aku tidak menghiraukannya" ucap Zilvina sembari pergi meninggalkan tempat tersebut.


"a-aku akan mengejarnya" ucap Sheon mengikuti Zilvina.


"kami akan bergabung dengan mereka sampai jumpa Vino" ucap Fania bergegas pergi.


"ada apa dengan mereka?" ucap Vino kebingungan.

__ADS_1


Sementara itu di tempat Zilvina dan teman temannya berada....


"heyy Zilvina kendalikan emosimu!" ucap Lilia sembari mengejar Zilvina.


"ada apa denganmu hari ini Zilvina? mengapa kau bersikap seperti ini?" ucap Sheon panik.


Zilvina tiba tiba saja berhenti dan berkata "maafkan aku telah membuat kalian merasa khawatir, setelah aku mengetahui sikap aslinya aku merasa tidak nyaman dengan Zeline" ucap Zilvina.


"apakah kau mau menenangkan dirimu di taman belakang sekolah terlebih dahulu, Zilvina?" tanya Lilia.


"boleh" jawab Zilvina singkat.


Mereka bergegas menuju ke taman belakang sekolah untuk memenangkan pikiran Zilvina dan mencegahnya untuk melakukan hal yang ditakuti mereka yaitu Zilvina melampiaskan amarahnya, mereka menghibur Zilvina dengan cara mengajaknya berbicara agar pikiran Zilvina tidak terpaku dengan perasaan yang dirasakannya. Ketika mereka sampai di taman tersebut suasana sangat canggung dan hening.


"Emmm Lilia hingga kapan kita tidak mendapat misi kecil seperti ini, rasanya aku bosan sekali tidak melakukan misi" tanya Sheon berusaha mengawali topik pembicaraan.


"Vinny belum memberitahuku hingga kapan kita tidak mendapatkan misi tapiiiiii aku rasa kita akan segera mendapatkan misi lagi"


"namun kurasa misi kali ini hanya akan di kota A saja dan kita tidak perlu kembali ke kota B" jawab Lilia.


"Hmm jika ini hanya misi konyol maka jangan libatkan aku" ucap Sheon.


"ini hanya perkiraanku saja, untuk informasi yang sebenarnya kita hanya bisa menunggu Vinny mengabariku"


"oh ya Zilvina, nampaknya Vino memang mengetahui banyak hal mengenai Zeline jika kau masih saja penasaran mengenai Zeline kau dapat bertanya padanya saja" ucap Lilia.


Karena masih merasa kecewa dengan kejadian sebelumnya, Zilvina yang masih dalam hati yang tidak baik hanya menjawab singkat perkataan temannya tersebut, "Hmm" jawabnya singkat.


"berani sekali mengabaikanku! jika bukan partnerku pasti sudah kubunuh kau!" ucap Lilia geram.


"lakukan saja jika kau menginginkannya" jawab Zilvina meledek.


"kauuuuu!"


"Sheon serahkan pisau kecil yang selalu kau bawa kepadaku, dia sendiri yang menentukan ajalnya di tanganku" ucap Lilia kesal.

__ADS_1


"hmph! mari kita lihat lebih cepat pisau milikmu atau lebih cepat peluru milikku" ucap Zilvina sembari tertawa kecil.


__ADS_2