
"hey menurutmu jika kita melakukan itu kepada mereka apakah mereka akan mengadu kepada Zeline?" tanya Sheon.
"sekalipun mereka mengadu mungkin Vinny telah melakukan hal yang tidak kita duga jadi tenang saja" jawab Lilia.
"sudahlah! jangan bicarakan hal itu lagi, ayo kita ke kantin saja" ajak Fania.
"mengapa kau sekarang sangat bersemangat untuk ke kantin? apakah kau tertular penyakit tukang makanku?" ucap Sheon.
"dasar bodoh! tidak ada penyakit tukang makan di dunia ini!" ucap Zilvina geram.
"terbukti setelah Fania mengatakan aku tukang makan sekarang dia menjadi bersemangat untuk pergi ke kantin, bukankah itu tertular?! " ucap Sheon.
"haihhh dia memunculkan teori teori anehnya lagi" ucap Lilia berjalan mendahului mereka dan menuju ke kantin.
"apakah Lilia juga tertular penyakitku?" ucap Sheon.
"sudahlah! cepat jangan membuang buang waktu" ajak Fania sembari menggandeng Sheon.
"haihh sudahlah " Zilvina menghela nafas lalu mengikuti teman temannya.
Lalu tiba tiba ada seseorang yang memanggil Zilvina "heyy Zilvina" ternyata seseorang tersebut adalah Vino.
"Hah?" ucap Zilvina terkejut sembari menoleh ke arah datangnya suara.
"kemana kau akan pergi? " tanya Vino sembari menghampiri Zilvina.
"aku akan pergi ke kantin dengan teman temanku" jawab Zilvina.
"mengapa kemarin ketika jam pelajaran kedua kau membolos?" tanya Vino.
"ternyata Vino tidak mengetahui semuanya? baguslah! maafkan aku Vino aku harus berbohong denganmu" ucap Zilvina dalam hati.
"Ohh ituuu? aku mendapati kabar dari keluargaku dan mengharuskan aku untuk pulang secepatnya jadinya aku tidak sempat meminta izin" jawab Zilvina.
"heyy Zilvina Ayoo! cepatlah! " teriak Sheon.
"bersabarlah sebentar saja" jawab Zilvina.
__ADS_1
"jika tidak ada hal lain untuk dibicarakan aku akan pergi ke kantin dengan teman temanku, mereka sudah menungguku lama" ucap Zilvina.
"tu-tunggu! " ucap Vino menarik tangan Zilvina.
"Zilvina apakah kau memiliki waktu luang setelah pulang sekolah?" tanya Vino malu malu.
"Emmm mungkin ada, namun aku tidak tau apakah keluargaku memiliki urusan mendesak lagi atau tidak" jawab Zilvina.
"mengapa kau menanyakan hal itu?" tanya Zilvina.
"tidak ada apa apa, jika kau memiliki banyak waktu aku bermaksud mengajakmu ke festival sepulang sekolah nanti"
"namun jika tidak memiliki banyak waktu kurasa lain kali saja" ucap Vino sembari tersenyum.
"maaf aku tidak mengetahui jelas apakah aku dapat datang bersamamu atau tidak" jawab Zilvina.
"aku akan pergi ke kantin dengan teman temanku, sampai jumpa" sambungnya sembari mengejar teman temannya.
"haihh andai kau tau aku telah menantikan hari ini begitu lama, Zilvina" ucap Vino dalam hati sembari tersenyum.
"Vino mengatakan hal apa padamu? " tanya Sheon penasaran.
"Hmm dia mengajakku untuk pergi ke festival bersama sepulang sekolah" jawab Zilvina.
"apakah kau menerima ajakannya?" tanya Lilia dingin.
"aku berkata aku tidak mengetahui secara jelas apakah aku memiliki waktu luang atau tidak" jawab Zilvina.
"baguslah! " ucap Lilia sembari melanjutkan perjalanannya.
"hey Lilia! mengapa kau terlihat tidak menyukai hubungan Zilvina dengan Vino? apa kau cemburu dengan mereka? " yang Sheon.
"apa kau tidak mengerti keadaan kita saat ini, Sheon? " ucap Lilia tiba tiba berhenti.
"keadaan apa? bukankah Vinny telah mengatur semua? mengapa harus mengkhawatirkan hal itu? percayalah Vinny pasti dapat diandalkan seperti biasanya" ucap Sheon.
"walaupun Vinny telah mengatur dan menyelesaikan masalah itu tapi tidak menutup kemungkinan bahwa Zeline akan balas dendam dengan kita" ucap Lilia.
__ADS_1
"aihhh! sudahlah! kita ingin pergi ke kantin bukan berdebat masalah Zeline" ucap Fania.
"jangan berdebat hanya karena aku! jika memang ini tidak dapat diselesaikan dengan cara biasa maka aku sendiri yang akan menyelesaikannya dengan kejam" ucap Zilvina.
"heyy apa maksudmu?! jangan lakukan hal hal bodoh seperti itu!" ucap Lilia marah.
"arghh! sudahlah aku ingin pergi makan" lanjut Lilia sembari menuju ke kantin.
"heyy Lilia! " teriak Fania.
"kalian pergilah ke kantin bersama Lilia, aku ingin pergi ke kelas untuk berbicara dengan Vino" ucap Zilvina.
"aku akan berkata kepada Vino bahwa aku tidak dapat hadir nanti" sambung Zilvina.
"baiklah aku akan berbicara dengan Lilia" ucap Fania.
Mereka pun berpisah, Fania dan Sheon pergi ke kantin untuk menghampiri Lilia dan membujuknya sementara Zilvina tidak benar benar pergi ke kelas untuk berbicara dengan Vino melainkan ia malah pergi ke gudang untuk menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi. Zilvina mencari tempat yang sepi untuk menyendiri ketika trauma yang ia miliki datang. Ia selalu menyalahkan dirinya sendir atas apa yang menimpa orang disekitarnya termasuk teman temannya.
"maafkan aku teman teman, aku telah membohongi kalian"
"aku hanya tidak ingin kalian merasa khawatir denganku" ucap Zilvina ketika sampai dihadang tersebut.
"tempat ini sangat gelap, Ayah! tempat ini sama persis dengan ruangan bawah tanah tempat Ayah mengurungku waktu kecil" ucap Zilvina sembari menutup pintu gudang tersebut.
"kak....aku merasakannya lagi, dadaku sesak lagi, kepalaku terasa pusing lagi, kesulitan bernafas ini dan juga kegelapan ini semuanya sama persis seperti waktu itu, yang membedakan hanyalah ada dan tiadanya dirimu kak" ucap Zilvina sembari terduduk.
"Andai kakak tau... aku merasa gagal lagi, aku menyalahkan diriku lagi, aku belum sembuh kak"
"kakak telah mengirimkan bawahan kakak untuk menjagaku namun aku memerintahnya untuk berada di kelas dan tidak ingin dia mengikutiku maafkan aku kak"
"aku merasa sendiri dan juga kosong, tidak ada yang mwnyelamtkanku dari kekosongan ini selain dirimu kakk" ucap Zilvina sembari meneteskan air mata.
"bagaimana jika aku dikalahkan oleh pikiranku sendiri? dan aku melakukan apa yang kakak takutkan, apakah kau akan marah padaku, kak? "
"aku lebih baik dicambuk dipukul dikurung oleh ayah daripada harus merasakan kekosongan yang tidak berujung seperti ini" ucap Zilvina sembari memukul kepalanya sendiri.
Zilvina menyendiri di gudang itu sangat lama hingga jam pelajaran pertama pun dimulai, teman temannya menunggu dikelas namun ia tak kunjung datang. Karena sistem sekolah yang ketat, siswa tidak diperbolehkan untuk meninggalkan kelas ketika jam pelajaran kecuali ada urusan mendesak. Oleh karena itu, mereka hanya bisa menunggu hingga jam istirahat tiba Dan ketika jam istirahat tiba mereka bergegas menuju ke tempat sepi karena mereka tau Zilvina selalu mengurung diri di tempat yang sepi dan menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi.
__ADS_1