
Mulai dari ketika berada di taman tersebut hingga sesampainya dirumah Zilvina tidak berhenti menceritakan semua masalahnya dari awal sampai akhir.
"ohhhh jadi itu yang membuatmu murung sepanjang hari?" tanya Fania setelah selesai mendengarkan cerita Zilvina.
"yaa... kurang lebih seperti itu, padahal aku dekat dengannya hanya untuk berterima kasih karena sudah membantuku tapi para siswa siswa penggosip itu sepertinya telah salah paham padaku" jawab Zilvina murung.
"seharusnya kau tidak mendengarkan omongan omongan tidak berguna seperti itu, itu hanya akan menjadi penghalangmu untuk menjadi lebih baik" tutur Sheon.
"aku kira kau hanya bisa makan saja, tidak menyangka kau pandai juga memotivasi seseorang" ucap Fania memuji Sheon.
"kauuuu!!! sebenarnya aku selalu pandai dalam hal apapun tapi aku lebih memilih untuk makan karena menjadi pandai itu membosankan" ucap Sheon merasa kesal dengan Fania.
"haihhh.. terserah kau saja, asalkan kau bahagia" ucap Fania meledek.
"apakah kau ingin kepalamu berdarah??" ucap Sheon kesal sembari mengepalkan tangan.
"heiimengapa kalian malah bertengkar!" ucap Lilia tegas.
"salahkan saja Fania!" ucap Sheon.
"heyy! bukankah kau yang ingin memukulku terlebih dahulu, mengapa aku yang harus menanggung semua kesalahan yang kau perbuat?" ucap Fania tidak terima.
"sudah-sudah jangan berdebat, sebaiknya kita beristirahat lebih awal hari ini, kita membutuhkan lebih banyak energi untuk membalaskan dendam besok" ucap Zilvina melerai Sheon dan Fania yang sedang berdebat.
"nahhh ini baru Zilvina yang aku kenal, baiklahh... mari kita bersenang senang besok" ucap Fania bersemangat setelah mendengar perkataan Zilvina.
"menyenangkan sekali... kita akan bersenang senang besok" ucap Sheon antusias.
"sudahlah! ayo beristirahat lebih awal, kalian jangan banyak bicara!" ucap Lilia sembari menuju ke kamarnya.
Pada keesokan harinya mereka berangkat sangat pagi untuk melancarkan aksinya. Mereka telah menyiapkan beberapa rencana untuk membuat siswa yang mereka tandai menjadi malu. Mereka memasang foto siswa tersebut dengan bertuliskan 'Hati-Hati Penggosip' sontak seluruh sekolah pun ricuh membahas hal tersebut.
__ADS_1
"heiii kalian! apakah kalian yang melakukan semua ini?" tanya siswa yang ada di foto.
"heiiii kami baru saja sampai di sekolahan ini, mengapa kau langsung menuduh kami sebagai tersangka?" ucap Sheon mempermainkan siswa tersebut.
"mereka semua berkata bahwa kalianlah yang melakukan hal nekat seperti ini" ucap siswa tersebut tidak terima.
"atas dasar apa kami melakukan ini padamu? apakah kau rasa kau ini penting di mata kami?" tanya kembali Fania. Siswa tersebut hanya dapat merasa geram dan tidak dapat menjawab perkataan Fania.
"aku adalah Karina Alexander, tuan putri keluarga Alexander dan juga sahabat dekat dari Lauren Gabriella, kami adalah tuan putri dua keluarga besar dikota A " ucap siswa tersebut alih alih membuat Zilvina dan teman temannya takut.
"apakah kau berpikir dengan kau menunjukkan latar belakangmu kami akan mengaku bersalah?" jawab Sheon tidak merasa takut sama sekali.
"hmph! sayang sekali kami tidak merasa takut sama sekali! kau salah besar nona Karina Alexander!" sambung Zilvina sembari menatap Karina dengan tatapan yang tajam. Melihat tatapan Zilvina yang sangat menakutkan, Karina gemetara dan hanya bisa mengancam Zilvina.
"berani beraninya kalian menentangku! aku pastikan kalian tidak akan menghirup udara segar setelah ini!" ancam Karina sembari pergi dengan rasa malu.
"kutunggu semua itu!!" jawab Fania mempermainkan.
"sepertinya ada yang serius!" bisik Fania pada Zilvina sembari berjalan mengikuti Lilia.
"apa kau takut?" tanya Zilvina mengejek.
"apa itu takut? apa kau sedang bercanda?" jawab Fania sangat percaya diri.
Mereka menuju ke kantin dengan santainya setelah membuat kericuhan tersebut.
"apa yang ingin kau bicarakan Lilia?" tanya Sheon.
"aku melupakan sesuatu" jawab Lilia terlihat gelisah.
"Karina Alexander, aku pernah mendengar namanya dia adalah tuan putri keluarga Alexander" sambung Lilia.
__ADS_1
"HAHAHA tuan putri? itu terdengar seperti jaman kerajaan, sangat kuno!" Sheon menertawakan hal tersebut secara terbahak bahak.
"mengapa apakah kau merasa takut? bukankah kita juga nona muda keluarga besar" saut Fania.
"biarkan aku bicara terlebih dahulu! jangan memotong pembicaraanku!" bentak Lilia.
"dan dia juga berkata bahwa dia adalah sahabat dari Lauren Gabriella, dua keluarga itu di kota A disebut Rival Abadi. Meskipun itu tidak akan berpengaruh besar terhadap kita tapi itu akan sedikit menghambat langkah kita, maka kita harus melaporkan hal ini kepada keluarga kita masing masing!" ucap Lilia menjelaskan dengan serius.
"bukankah kita sudah cukup mandiri selama ini? mengapa kita kali ini kita harus melapor kepada keluarga kita masing masing?" tanya Sheon merasa kebingungan.
"bukan tentang hal itu, jika kita tidak memiliki bantuan dari keluarga kita masing masing mungkin itu akan membutuhkan cukup banyak waktu untuk menyelesaikannya dan kita kali ini bukan hanya akan bersenang senang tapi kita sedang menyelesaikan misi" jawab Lilia.
"apakah kita harus memberitahukan latar belakang kita sebagai nona muda keluarga bangsawan hanya untuk menyelesaikan masalah sekecil itu? hmph apakah kau sedanh bercanda Lilia?" tanya Zilvina.
"apakah kau memilih memberitahukan identitas asli atau memilih memneritahukan latar belakang kita, itulah pilihan yang harus kalian pilih saat ini!" ucap Lilia.
"kita selesaikan seperti biasa saja mengunakan formasi seperti biasa, tidak perlu memilih pilihan pertama ataupun kedua" ucap Fania merasa yakin dengan pendapatnya.
"aku telah berkata kepada kalian mungkin itu akan membutuhkan lebih banyak waktu! dan kita tidak memiliki waktu untuk hal bodoh dan tidak berguna seperti itu!" ucap Lilia.
"sudahlah! ayo kembali ke kelas, jam pelajaran akan dimulai 15 menit lagi" sambung Lilia sembari beranjak berdiri.
"tapi Lilia, bukankah kita hari ini tidak akan mendapatkan misi?" tanya Zilvina.
"tidak, mengapa kau bertanya demikian?" jawab Lilia tiba tiba berhenti.
"bagaimana jika kita menganggap hal ini adalah misi untuk kita, dan kita dapat menyelesaikannya dengan bersenang senang?" uvap Zilvina mengutarakan pendapat dengan percaya diri.
"wahhh ide yang sangat bagus, bagaimana denganmu Lilia?" saut Fania merasa setuju dengan pendapat Zilvina.
"haih... apa boleh buat, jika tanpa pengawasanku kalian akan mengacaukan segalanya jadi aku bergabung dengan kalian" ucap Lilia.
__ADS_1
"baiklah... kita akan bersenang senang hari ini" ujar Sheon bersemangat.