
"selamat pagi nona muda" pelayan menyambut hangat Zilvina yang baru saja menuruni tangga.
"apakah Ayah berada di ruang makan?" tanya Zilvina.
"tuan besar berada di ruang kerja pribadi milik beliau nona, pagi ini beliau memerintahkan anda untuk sarapan terlebih dahulu setelah itu anda harus menjemput nona pertama dan tuan kedua ke bandara" jawab pelayan tersebut.
"ka-kakakku pulang juga?" tanya Zilvina kaget.
"iya nona, akan tetapi tuan kedua akan tiba lebih siang daripada nona pertama, jadi tuan besar memerintahkan untuk menjemput nona pertama terlebih dahulu setelah itu baru akan menjemput tuan muda kedua" jawab pelayan.
"baiklah, katakan pada sopir siapkan mobil dan panggilkan Kepala Pengurus Rumah" perintah Zilvina.
"t-tapi tuan Arlles sedang sibuk mempersiapkan pesta nanti malam nona" ucap pelayan tersebut hati hati.
"jika seperti itu siapkan semuanya!" ucap Zilvina menahan amarah.
"ba-baik nona" ucap pelayan ketakutan.
...----------------...
"hei kakak masuklah kedalam, ini aku Zilvina" ucap Zilvina dari dalam mobil.
"heii adikku, baiklah aku akan masuk" ucap Evellyn kakak Zilvina.
"kau tetap saja dingin seperti terakhir kali kita bertemu 1 tahun yang lalu" ucap Evellyn.
"Hmm begitulah" jawab Zilvina.
Dia adalah Evellyn Evangelion kakak pertama dari Zilvina, walaupun mereka adalah kakak beradik tapi mereka memiliki kepribadian yang sangat berbeda yaitu Zilvina yang dingin dan mengerikan sementara Evellyn yang periang dan ramah.
"mengapa kau tidak bersama kakak kedua?" tanya Zilvina dingin.
"dia masih memiliki beberapa urusan yang harus di selesaikan jadi aku memutuskan untuk pergi terlebih dahulu" jawab Evellyn.
"mengapa kau malah menanyakan kakakmu yang tidak bersamamu, sedangkan aku yang bersamamu tidak kau tanyakan!" ucap Evellyn manja.
"kau terlihat baik baik saja, jadi apa yang harus ku khawatirkan?" ucap Zilvina mengabaikan.
__ADS_1
"apa kakakmu ini tidak berguna? apa aku gagal jadi kakak? apa kau akan mencari kakak baru?" ucap Evellyn manja.
"sudahlah jangan tanyakan pertanyaan konyol itu, kita akan segera sampai" ucap Zilvina.
"waahhhhh kediaman keluarga Evangelion... aku merindukanmu" ucap Evellyn bersemangat.
"mengapa aku harus memiliki seorang kakak seperti dia yang seperti anak kecil ini" ucap Zilvina tercengang.
"ayo masuk kedalam Ayah sudah menunggumu sejak tadi pagi" ajak Zilvina.
"Ayah sedang berada dimana?" tanya Zilvina kepada seorang pelayan.
"tuan besar ada di ruang baca nona" ucap pelayan tersebut hati hati.
"baiklah" ucap Zilvina sembari menuju ruang baca bersama Evellyn.
"Ayahhhh..... Ibuuuu..." teriak Evellyn sembari memeluk Ayahnya.
"wah putriku akhirnya kau kembali, Ayah merindukanmu" ucap Ayah Zilvina.
"aku tidak akan mengangu waktu kalian, aku akan pergi ke menjemput kakak kedua" ucap Zilvina menahan amarah sambil berjalan keluar.
"haihh walaupun aku dan kakakku Evellyn saudara kandung tapi Ayah kami selalu memperlakukan kami dengan berbeda sejak kami masih kecil, Ayah selalu menjaga dan menyayangi kakak pertamaku tapi tidak denganku. Hanya kakak keduaku, Devano yang memperlakukanku layaknya seorang ratu" ucap Zilvina dalam hati.
Ada suatu kejadian yang membuat Zilvina membenci Ayahnya, yaitu ketika dia masih kecil kakaknya Evellyn kehilangan mainannya dan ayahnya menuduh Zilvina yang melakukannya bahkan sampai memukul Zilvina berkali kali padahal Zilvina tidak melakukan itu. saat itu......
"ayah mainanku kesayanganku hilang" ucap Evellyn menangis pada masa itu.
"tidak masalah sayang, kita nanti akan membelinya lagi untukmu" ucap Ayah Zilvina.
"ta-tapi itu mainan kesayanganku Ayahh" ucap Evellyn sembari terus menangis.
"ka-kakak ini pakai saja mainanku, yang hilang biarkanlah" ucap Zilvina menenangkan.
"i-ini bukankah mainanku yang hilang" teriak Evellyn.
"bukankah kita memiliki mainan yang sama" jawab Zilvina.
__ADS_1
"Ayah dia mencuri mainanku" ucap Evellyn sambil menangis.
"Zilvina!! Ayah tidak pernah mengajarimu mencuri, kembalikan barang kakakmu!" bentak Ayah Zilvina, sangat marah kepada Zilvina.
"ta-tapi ini mainan yang di berikan kakak kedua, aku juga tidak mencuri mainan kak Evellyn" ucap Zilvina ketakutan.
"kakakmu selalu berlatih setiap hari, dia tidak akan memiliki cukup waktu untuk membelikanmu sebuah mainan" bentak Ayah Zilvina.
"tapi aku tidak berbohong ayah, ini benar benar mainan yang di belikan oleh kak Devano" teriak Zilvina.
"cukup!! Ayah kecewa padamu Zilvina!" teriak ayah Zilvina sembari hendak memukul Zilvina.
"aku benci denganmu, Ayah!!!" teriak Zilvina sembari berlari meninggalkan Ayahnya.
Sejak saat itu Zilvina mulai berlatih dengan Devano dan menjadi pembunuh tingkat tinggi seperti saat ini.
"heyy Zilvina...mengapa kau melamun?" ucap Evellyn menyadarkan Zilvina.
"mengapa kau tidak disini saja bersama kami dan menikmati waktu dengan kami kita jarang sekali bertemu loh" sambung Evellyn.
"aku harus bergegas menjemput kakak kedua, aku tidak ingin dia menunggu terlalu lama" ucap Zilvina sembari berjalan perlahan keluar dari ruangan tersebut.
"Ayah, Ibu, Kakak aku akan pergi menjemput kakak kedua" sambung Zilvina sambil meninggalkan ruangan tersebut.
...----------------...
"me-mengapa? mengapa aku harus merasakan rasa sakit ini lagi? sudah bertahun tahun aku menjadi pembunuh untuk melupakan masalah ini dan mencegah melukai saudaraku tapi kenapa rasa ini kembali lagi" ucap Zilvina dalam hati sambil memegang dadanya.
"sadarlah Zilvinaaa" ucapnya dalam hati.
"no-nona apakah anda baik baik saja? mengapa anda menangis?" tanya seorang pelayan pribadi Zilvina.
"katakan kepada Kepala pengurus rumah siapkan mobil aku akan mengemudi sendiri" ucap Zilvina.
"ba-baik nona" jawab pelayan pribadi Zilvina.
"tidak biasanya nona ingin mengemudi sendiri? apakah ada sesuatu yang terjadi? apakah nona kembali mengingat kejadian yang membuatnya trauma waktu itu? aihh sudahlah itu bukan urusanku" ucap pelayan pribadi Zilvina dalam hati.
__ADS_1