
"berhenti berdebat atau aku akan menyincang kalian hingga menjadi butiran debu! " teriak Sheon melerai Zilvina dan Lilia.
"jika kalian ingin bertengkar jangan bertengkar disini, bertarunglah di luar sana" sambung Fania.
"haihhh maafkan aku, emosiku sedang tidak stabil saat ini " ucap Zilvina sembari menghela nafas.
"mari kembali ke kelas saja, jangan terlalu lama disini jika ada siswa lain yang tau maka akan timbul kecurigaan" ucap Lilia sembari beranjak.
"stttt jangan bergerak! waspada terhadap arah jam 9! disana ada yang sedang mengawasi kita" ucap Fania sigap.
"ada berapa banyak orang yang kau perkirakan sedang mengawasi kita?" tanya Zilvina sembari waspada mengeluarkan senjata api kecil miliknya yang berada di tempat senjata yang terletak di pahanya.
"kurang lebih dua orang, kurasa dia hanya siswa biasa" jawab Fania waspada.
"tangkap dia! kurasa dia mendengar semua apa yang kita bicarakan tadi" ucap Lilia.
"hmph akan kubuat dua orang penguping ini tutup mulut" ucap Sheon sembari bergerak untuk menangkap seseorang tersebut.
"jangan gegabah!! aku memiliki sebuah ide...... (menjelaskan idenya)"
"itu akan lebih menyenangkan bukan?" ucap Fania.
"baiklah! menuju ke posisi masing masing dan berikan dia pelajaran agar tidak mendengarkan pembicaraan orang lain tanpa izin" ucap Zilvina sembari menyiapkan senjatanya.
"haihhh lagi dan lagi aku yang harus menjadi umpan" ucapnya sembari berjalan dan berpura pura tidak tahu apa apa.
Seperti yang mereka duga setelah Zilvina tiba di tempat yang diprediksi oleh Fania orang yang bersembunyi tersebut keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Zilvina lalu berkata "heyy berhentilah" ucapnya.
"hmph akhirnya kau keluar dari persembunyianmu! apa yang kau inginkan?" jawab Zilvina sembari membalikkan badan.
__ADS_1
"kau cukup pandai nona Zilvina, aku sangat ahli di bidang mata mat tapi kau dan teman temanmu masih dapat mendeteksi bahwa aku ada di sekitar kalian, kalian sangatlah hebat" ucap orang misterius tersebut keluar dari persembunyiannya.
"kau tidak perlu memujiku ataupun memuji dirimu sendiri, kau cukup menjawab siapa dirimu dan apa tujuanmu"
"jika kau tidak memiliki kepentingan dan hanya ingin menguping lebih baik kau pergi saja jangan sampai teman temanku menghabisimu" ucap Zilvina.
"kau tenanglah aku berada di pihakmu" ucap orang misterius tersebut sembari mendekati Zilvina.
"aku adalah Andika, aku berasal dari kota Y dan aku adalah bawahan dari kakak keduamu Devano, dia memerintahkan aku untuk menjagaku dengan cara menjadi seorang siswa di sekolah ini" sambungnya.
"hmphh kembalilah ke kota Y dan sampaikan pada kakakku untuk tidak perlu terlalu khawatir hingga mengirimkan anak buah sepertimu" jawab Zilvina sembari memberi isyarat kepada teman temannya agar keluar dari posisi mereka masing masing.
"maaf nona, tapi menurut tuan Devano sekarang sedang ada hal yang membahayakanmu dan hal itu belum bisa saya jelaskan" jawab Andika.
"apa kau kira kami disini tidak mampu melindungi teman kami sendiri" ucap Sheon tiba tiba muncul.
"maaf nona Sheon tapi ini adalah perintah dari tuan Devano" jawab Andika.
"maaf nona Sheon nona Fania saya tidak bermaksud untuk merendahkan kalian tapi ini adalah perintah dari tuan Devano sendiri" jawab Andika.
"jika nona nona tidak percaya ini adalah kartu identitas saya" sambungnya sembari menunjukkan kartu nama.
"Hmm sudahlah ayo kembali ke kelas, aku tau kartu itu asli" ucap Zilvina sembari akan berjalan meninggalkan tempat tersebut.
"kau tidak memeriksa kartu ini dan malah pergi! bagaimana kau tau bahwa kartu ini asli" ucap Sheon geram.
"Zilvina lebih tau semua tentang kakaknya, lebih baik kita mengikutinya saja dan pergi ke kelas" ucap Lilia tiba tiba muncul dan menyusul Zilvina.
"jika kau berkata tidak sesuai dengan kenyataan maka aku kucincang dirimu" ucap Sheon mengancam lalu pergi mengikuti Zilvina dan Lilia.
__ADS_1
"jika penampilanmu seperti ini maka akan mencuri perhatian jadi untuk kedepannya berpenampilanlah seperti siswa biasa saja" ucap Fania lalu mengejar teman temannya.
Mereka menuju ke kelas karena jam pelajaran akan segera dimulai dan meninggalkan Andika sendirian di taman belakang sekolah tersebut. Dikarenakan Zilvina telah mengetahui tentang misi rahasia dari kakaknya yang dilaksanakan oleh Andika, maka Andika pun melaporkan hal tersebut.
"tuan, nona Zilvina telah mengetahui penyamaranku" lapornya.
"hmph ternyata tingkat kewaspadaannya cukup tinggi juga"
"lakukan apa yang kuperintahkan saja dan jangan buat dia menjadi terganggu dengan keberadaanmu" ucap Devano.
"baik tuan"
"Emm mengenai bahaya yang terdeteksi apakah dia mulai mengangu Zilvina?" tanya Devano.
"sedikit tuan, tadi ketika tuan muda Nathael mengajak nona untuk pergi ke kantin dia merasa kesal terhadap nona namun berhuntungnya dia hanya menampar teman nona saja" jawab Andika.
"terjadi hal semacam itu kau tetap tidak bergerak! apa kau bodoh!!" ucap Devano marah.
"ma-maaf tuan, tapi perintah tuan sebelumnya adalah hanya untuk menjaga nona dari kejauhan tanpa nona tau" ucap Andika ketakutan.
"dan teman teman nona telah melindunginya jadi aku memutuskan untuk tidak mengangu tuan" sambungnya.
"apa kau tau seberapa berpengaruh teman yang kau maksud telah melindunginya itu terhadap trauma yang ia derita?! apa kau tau?!" ucap Devano marah.
"bahkan Zilvina pernah hampir mengorbankan nyawanya sendiri hanya untuk membela temannya"
"aku memintamu untuk melindungi Zilvina bukan berarti hanya Zilvina saja yang kau lindungi tapi orang yang dekat dengannya juga, apa kau mengerti?!" sambung Devano.
"ma-maafkan aku tuan, hanya masalah seperti ini saja aku tidak tau, aku benar benar minta maaf" ucap Andika ketakutan.
__ADS_1
Devano yang sangat marah pun menutup telepon dari Andika tersebut, setelah kejadian tersebut Andika pun menuju ke kelas untuk melanjutkan misi yang diperintahkan oleh Devano yaitu menjaga Zilvina dari ancaman.