
Setelah Andika tiba di kelas ternyata ada keramaian di kelas mereka, yang tidak lain sumbet keramaian itu adalah lagi dan lagi Zeline, Lauren dan Karina membuat ulah. Zeline memojokkan Zilvina dengan memakinya, dia hanya diam saja karena mengingat nasihat dari kakaknya. Zilvina juga mencegah teman temannya yang sedang emosi agar tidak berbuat sesuatu dan dia hanya mendengarkan semua hinaan yang dikatan oleh Zeline hingga pada akhirnya kesabaran Zilvina pun habis dan dia melakukan hal yang telah ia tahan dari tadi.
"hmph! ternyata benar apa yang dikatakan oleh Lauren dan Karina, kau tanpa Vino adalah pengecut! kau hanya berlindung di belakang Vino saja, apakah benar yang aku katakan?!"
"apa kau tidak diajarkan menjawab perkataan orang lain yang berbicara denganmu?! hmph dasar pengecut!" ucap Zeline menghina Zilvina.
"dia hanyalah tikus tanah yang kemana kemari mencari perhatian untuk melindunginya, nona Zeline" sambung Lauren.
"apa kau kira Vino melindungimu karena dia mencintaimu? hmph kau terlalu bermimpi dengan dirimu yang hanya rakyat jelata ini!!" sambung Karina.
"heyy kalian!! lihatlah para sampah ini hanya bisa diam saja jika tidak ada Vino" ucap Zeline berteriak agar semua orang yang menyaksikan mendengarnya.
beberapa siswa pun berbisik "memang benar apa yang dikatakan orang orang, jangan pernah mengangu nona Zeline jika kau tidak mau terkena balasannya"
"Hmm benar sekali, nona Zeline adalah orang yang tegas pantas sekali menjadi nona muda keluarga Arcenlion"
"sungguh malang sekali nasib Zilvina ini, sudah tau dia adalah rakyat biasa masih saja menentang putri keluarga ternama"
"benar sekali, dia juga pernah memiliki masalah dengan nona Lauren dan nona Karina"
"namun kali ini dia menentang ketiganya, kurasa ajalnya telah dekat"
"jika bukan keinginan Zilvina maka akan kubuat mereka semua menderita" bisik Sheon.
"mereka dengan terang terangan mencela Zilvina dan juga kita, maka akan kupertahankan mereka akan menjadi perbincangan hangat di lingkungan tempat tinggal mereka setelah ini" jawab Lilia berbisik.
"aku telah memiliki strategi bagus namun Zilvina meminta kita untuk diam, maka apa boleh buat. jika saja Zilvina setuju maka ini akan sangat menarik dan menyenangkan" keluh Fania.
Sementara itu, Andika kebingungan harus melakukan apa, jika ia langsung menghampiri Zilvina dan teman temannya untuk membantu mereka, itu akan mengundang perhatian dan akan berdampak buruk pada misi yang Zilvina dan teman temannya laksanakan, Namun jika tidak membantu Zilvina maka dia akan dibunuh oleh kakak Zilvina.
__ADS_1
"Apa yang harus kulakukan?? jika aku terus berdiam diri maka nona Zilvina bisa saja mengeluarkan emosi yang ia tahan" ucap Andika dalam hati.
"bertahanlah nona Zilvina!! aku yakin kau bisa melakukannya"
"ketika tidak berada di lingkungan sekolah maka kau bisa melampiaskan semua emosi yang kau tahan saat ini, dan beri dia pelajaran"
"ayo semangat nona Zilvina" sambungnya dalam hati.
"Hahahaha apa kau akan marah padaku Zilvina? uhhh aku sangat takut" ucap Zeline merendahkan Zilvina.
"lihat semua dia hanya bisa menundukkan kepalanya dan tidak bisa menjawab satupun perkataanku, hmph sungguh sangat berbeda jika Vino berada di sini pasti dia akan sangat berani" sambungnya.
"maaf nona Zeline, aku bukan takut aku hanya tidak mau tanganku melukaimu" ucap Zilvina sembari mengangkat kepalanya dan menatap Zeline.
"Hmphh tanganmu melukaiku? apa kau bermimpi? bahkan untuk menyentuh sepatuku pun kurasa kau tidak akan mampu, Zilvina!" ucap Zeline.
"tidak ada yang tidak mungkin!"
"ta-tatapan yang sama seperti waktu itu"
"dan rasa takut yang tidak kusengaja ini kurasakan kembali, sebenarnya siapa Zilvina itu? mengapa tatapannya cukup membuatku ketakutan" ucap Lauren dalam hati.
"kau tidak perlu mengunakan aku untuk melindungi dirimu, jika kau takut pada nona Zeline maka berlututlah" ucap Lauren gemetaran.
"hmph! lihatlah kaki dan tangannya bergetar" ucap Zilvina sembari menunjuk Lauren.
"HAHAHA perkataan dapat dipalsukan namun reaksi dari tubuh tidak dapat" sambungnya.
"berani sekali aku mempermainkanku!!!" ucap Zeline sembari menampar Zilvina.
__ADS_1
"heyyy apa yang kau lakukan!!" teriak Sheon pada Zeline.
"apa kau berani kepada tuan putri keluarga Arcenlion, apa kau tau dampak dari apa yang kau lakukan jika kau menyakiti nona Zeline" ucap Lauren.
"bahkan dia tidak pantas mendapatkan gelar putri terhormat jika dia melakukan hal seperti ini" ucap Fania.
"apa kau cari mati?? keluarga bisa saja menghukummu jika kau berlaku semena mena terhadapku?" ancam Zeline.
"kau dapat menamparku namun jika kau menampar Zilvina maka aku tidak akan segan segan walaupun kau tuan putri keluarga ternama sekalipun" ucap Lilia dengan tatapan mengerikan.
"nona Zeline, jika dirimu ingin membuatku emosi dan ingin mengetahui siapa diriku yang sebenarnya maka jangan libatkan banyak orang disekitarnya" ucap Zilvina dengan nada halus mencoba untuk bersabar.
"hmph! apa kau takut? baiklah jika kau takut maka aku akan memerintahkan mereka untuk keluar dari kelas ini"
"apa kalian mendengarnya? Zilvina takut jika kalian berada di kelas ini maka kalian harus pergi keluar dan aku akan lihat seberapa memberikannya dia seperti yang ia katakan" ucap Zeline.
"kalian berdua urus mereka keluar dan tutuplah pintunya rapat rapat agar Zilvina tidak ketakutan lagi" perintah Zeline pada Lauren dan Karina.
"kalian harus keluar! apakah kalian tidak mendengar perkataan nona Zeline cepat keluar" ucap Lauren.
Setelah beberapa menit semua siswa telah keluar dari kelas tersebut dan tersisalah Zilvina dan teman temannya, Zeline, Lauren, Karina dan Andika yang sedang bersembunyi.
"semuanya telah keluar nona" ucap Karina.
"Hmphh! bagus sekali nona Zeline! kau telah berani menamparnya maka aku tidak akan berfikir dua kali saat ini" ucap Sheon sembari memainkan pisau kecil di tangannya dan berjalan menuju arah Zeline berdiri.
"he-hey da-darimana kau mendapatkan pisau itu" ucap Zeline gemetaran.
"itu tidaklah penting bagimu" jawab Sheon sembari semakin mendekati Zeline.
__ADS_1
"ja-jangan mendekat!" teriak Zeline.
"hmph! sampaikan pesan Terakhirmu!" ucap Sheon.