
"me-mengapa itu tidak bekerja sepenuhnya" ucap Andika terkejut.
"itu disebabkan karena aku tidak dapat memberikan misi yang sesuai untuk kebutuhannya setiap saat, karena itu juga akan berdampak buruk pada Zilvina yaitu mempertajam nalurinya untuk menyakiti seseorang"
"ketika ia tidak mendapatkan misi semacam itu dia akan menuju tempat sepi dan menyendiri bahkan jika tidak ada tempat yang sepi ia akan mengurung dirinya sendiri hingga emosinya mereda" ucap Vinny.
"tuan Devano pernah berpesan denganku 'jangan biarkan Zilvina terluka, entah itu terluka karena orang lain atau karena dirinya sendiri' apakah nona Zilvina akan melukai dirinya sendiri ketika salah keadaan trauma?" tanya Andika.
"benar sekali, maka dari itu aku juga menempatkan khusus ke-empat temannya di sisinya" jawab Vinny.
"pantas saja tuan Devano memarahiku waktu itu, ternyata memang benar teman teman nona Zilvina sangat berpengaruh besar" ucap Andika dalam hati.
"baiklah, kita sambung pembicaraan lain kali saja aku lelah dan akan beristirahat" ucap Vinny sembari berdiri.
"baiklah terimakasih atas informasi yang kau berikan, selamat malam" ucap Andika.
"selamat malam, kau bergegaslah tidur besok kau harus menjaga mereka" ucap Vinny sembari meninggalkan ruangan tersebut.
"tak kusangka engkau memikul beban yang sangat berat nona Zilvina"
"aku berjanji akan melindungimu walaupun harus mengorbankan nyawaku" ucap Andika dalam hati.
"haihh sudahlah aku akan kembali tidur saja" ucap Andika sembari kembali ke kamarnya.
Keesokan harinya mereka menuju ke sekolah bersama sama dan ternyata benar, Vinny telah menyelesaikan semua masalah yang terjadi di hari sebelumnya. Hingga tidak ada ataupun siswa yang berani mencela mereka, Zeline tidak hadir pada hari itu dan Lauren serta Karina hanya bisa diam dan tidak dapat mencela mereka seperti hari sebelumnya.
"kurasa Vinny benar benar menyelesaikan semuanya, lihatlah semuanya terasa tenang jika tidak ada parasit parasit kecil yang mengangu itu" ucap Fania.
"bahkan siswa lain juga tidak ada yang banyak berbicara seperti kemarin" sambung Fania.
"semuanya telah selesai namun aku akan membuat perhitungan dengan Lauren, mari kita cari dia" ucap Lilia.
"hmph mari kita lihat apakah dia akan berlagak sombong seperti kemarin" ucap Zilvina sembari berjalan mengikuti Lilia.
"Huuuu sepertinya menarik" ucap Fania sembari berjalan bersama Sheon.
"Zilvina, kau harus berhati hati kepada Vino kurasa dia mengetahui kejadian kemarin" ucap Lilia.
__ADS_1
"Ahhh benar! aku lupa untuk mengarah hal itu kepada Vinny" ucap Sheon.
"itu tidak akan sulit, kurasa semua orang telah dibuat tutup mulut oleh Vinny" jawab Zilvina dengan tenangnya.
"jika terjadi sesuatu maka jangan libatkan aku" ucap Lilia.
"tenang ini bukan masalah besar, ohya jika Zeline melakukan hal nekat setelah ini maka apa yang akan kau lakukan Fania? " tanya Zilvina.
"aku akan menyiapkan rencana, kau tenanglah" ucap Fania.
"Hmm itu dia" ucap Lilia ketika melihat Lauren dan Karina berada di dalam kelas.
"tidak ada banyak orang di sini kuharap kita dapat bersenang senang" ucap Fania.
"hmph! akan kubuat dia mengerti sekali lagi bahwa janji dibuat untuk ditepati bukan diingkari" ucap Zilvina sembari berjalan ke arah Lauren dan Karina.
"hey! aku mengetahui apa yang kau pikirkan hehe" ucap Zilvina sembari menepuk pundak Lauren.
"aku tidak memiliki urusan denganmu, aku akan pergi saja dan tidak akan mengangu pagi baik kalian" ucap Lauren ingin pergi dari tempat itu.
"apa kau tidak takut aku akan melaporkan semua ini kepada nona Zeline?" ancam Karina.
"hmph! jangan bicarakan yang sedang tidak berada di ruangan ini! " ucap Fania.
"heyy Lauren bukankah kau memiliki sebuah janji dengan kami? " tanya Sheon.
"a-aku rasa aku tidak memiliki janji pada kalian"
"ma-maaf jika aku melupakannya, se-sebagai gantinya aku akan mentraktir kalian hari ini" ucap Lauren ketakutan.
"apa kau pikir kami membutuhkan uangmu? " ucap Lilia kejam.
"tidak perlu banyak bicara! aku akan meminta pertanggungjawaban atas perbuatanmu kemarin" ucap Zilvina.
"i-itu semua akibat Zeline dia yang mempengaruhi kami! " ucap Lauren tiba tiba berubah emosi.
"i-iya kami dipengaruhi olehnya! dia sungguh sangat licik" sambung Karina.
__ADS_1
"dia memanfaatkan kami layaknya seperti boneka saja" ucap Lauren.
"jika kalian membencinya mengapa kalian masih saja tunduk padanya?" tanya Zilvina.
"itu itu karena keluarga kami! nona Zeline selalu mengancam untuk meminta ayahnya memutuskan kontrak dengan keluarga kami" ucap Karina.
"benar! rasanya ingin aku injak injak saja dia" sambung Lauren.
"hmph! apakah kau tidak takut berkata seperti itu" tanya Sheon.
"kalian sangat berbeda dengan kemarin" sambungnya.
"u-untuk apa Kmi takut ini adalah fakta" ucap Karina dengan lantang.
"benar sekali! sebenarnya kami ingin sekali melihatnya hancur"
"dia memerintah kami layaknya seekor kerbau yang dapat diatur sesuka hatinya" ucap Lauren.
"dasar gadis kurang pintar!! " ucap Zilvina tertawa.
"apa? apa yang kau maksud kurang pintar? aku ini perwakilan olimpiade sekolah ini" ucap Lauren marah.
"kau memang pintar dalam bidang akademik, namun kurasa logikamu tidak dapat berkembang dengan sempurna" ucap Sheon tertawa.
"hahaha dia sangat lucu, bahkan dia tidak sadar bahwa di ruangan ini ada banyak kamera pengawas" sambung Fania.
"Lauren apa yang akan kau lakukan? kita telah dipojokkan" bisik Karina panik.
"tenang saja setelah mereka pergi aku akan meminta ayahku untuk memerintahkan orang untuk menghapus data kamera pengawas hari ini" bisik Lauren.
"heyy! jika kau berfikir untuk menghapus data ini kau kalah satu langkah karena Lilia telah mendapatkannya dan melindungi data itu agar tidak dapat diperas maupun dihapus" ucap Zilvina mendekat sembari berbisik pada Lauren.
"baiklah! sampai jumpa" ucap Zilvina sembari meninggalkan kelas tersebut.
"selamat bersenang senang" ucap Sheon mengejek sembari pergi mengikuti Zilvina.
"sial!! kita terpojokkan lagi! " ucap Lauren kesal.
__ADS_1