
"kami memang teman yang sangat diinginkan banyak orang jadi kau tidak perlu menyanjungku seperti itu HAHAHA" ucap Sheon.
"aku tidak sedang menyanjungmu tapi ini adalah salah satu perintah dari Tuan Devano juga, yaitu untuk menjaga anda dan yang lainnya nona" jawab Andika.
Di tenggah tenggah pembicaraan Andika dan Sheon tiba tiba saja Fania dan Lilia keluar dan menyatakan bahwa mereka ingin pergi ke kamar mandi serta meminta Sheon dan Andika untuk menggantikan mereka menjaga Zilvina.
Karena sudah merasa sedikit lebih tenang Zilvina pun akhirnya dapat tertidur di ruang uks tersebut. Sembari melihat Zilvina yang tertidur pulas Sheon pun berkata "jika melihat Zilvina dapat tertidur dengan tenang setelah mengalami trauma yang seperti tadi, terkadang aku merasa sedih sekaligus tidak percaya, bukankah kau juga begitu?" ucap Sheon.
"Ketika pertama kali saya melihat nona ketika diberikan tugas oleh tuan Devano, saya merasa kebingungan. Saya berfikir mengapa saya harus ditugaskan untuk secara berhati hati menjaga seorang remaja yang sudah berumur belasan seperti menjaga anak kecil.... namun sekarang setelah saya mengetahui semuanya, saya akhirnya mengerti" jawab Andika.
"hemph! terlihat sempurna tapi ternyata semua yang ada di dalamnya hancur seperti debu, terlihat berdiri tegak namun sebenarnya goyah, semua yang ia rasakan dapat ia sembunyikan dengan sangat sempurna itulah Zilvina" ucap Sheon sembari menatap Zilvina dengan tatapan sedih.
Sementara itu Fania dan Lilia yang sedang menuju ke kamar mandi merasa ada sesuatu yang buruk akan menimpa mereka, di tenggah perjalanan Fania berkata "Lilia... apakah kau merasakan hal sama seperti yang aku rasakan?" ucap Fania sembari gelisah melihat sekitar.
"tidak, mengapa kau bertanya demikian? apakah kau merasa takut?!!" jawab Lilia mempermainkan Fania.
"Tidak! aku tidak takut, aku hanya merasakan hal aneh saja" jawab Fania sembari terus gelisah melihat sekitar.
"jangan dipikirkan itu hanya karena kau tidak pernah melewati jalan ini saja, cepatlah atau aku akan meninggalkanmu sendiri" ucap Lilia.
Melihat Fania yang gelisah dan sedikit ketakutan tersebut, terpikirkanlah oleh Lilia sebuah ide untuk menjahili Fania. Sesampainya di depan kamar mandi Lilia berkata "cepatlah! aku akan menunggumu disini, jika tidak cepat maka jangan salahkan aku jika aku tidak menunggumu!"ucap Lilia.
"aku akan cepat tapi tunggulah aku disini dan jangan bergerak selangkahpun" ucap Fania.
Karena memiliki ide jahil, Lilia pun pergi dari depan kamar mandi tersebut dan duduk di sebuah kursi yang tidak terlalu jauh dari kamar mandi tersebut namun sulit untuk dilihat dari depan pintu kamar mandi. Tujuannya ketika Fania menyalahkan dirinya karena meninggalkannya maka ia dapat beralasan dengan mudah.
__ADS_1
Setelah menunggu cukup lama dan tidak ada sedikitpun suara dari Fania, Lilia pun pergi memeriksa kamar mandi tersebut. Namun betapa terkejutnya ia ketika menelusuri semua bilik kamar mandi perempuan namun tidak dapat menemukan Fania di semua bilik kamar mandi tersebut.
Dengan sekuat tenaga ia berlari menuju uks yang jaraknya lumayan jauh dari kamar mandi tersebut.
Sementara itu di ruang uks, akhirnya Zilvina terbangun dari tidurnya. Dengan tanpa aba aba Zilvina membuka mata dan terduduk di atas kasur uks tersebut. Zilvina merasa agak kebingungan mengapa ia dapat tertidur.
"Zilvina apa kau baik baik saja?" ucap Sheon yang panik melihat Zilvina tiba tiba terbangun.
"aku baik baik saja, terima kasih" ucap Zilvina sembari beranjak ingin menuruni ranjang tersebut.
"a-aku akan membantumu nona" ucap Andika dengan sigap membantu Zilvina.
"i-itu tidak perlu!! li-lihat aku sangat sehat bukan?" ucap Zilvina sembari bangun dari tempat tidur.
"aku hanya kurang tidur saja, setelah tidur beberapa saat tadi tubuhku rasanya segar lagi jadi untuk apa aku tidur" jawab Zilvina.
"nona Zilvina sebaiknya anda berbaring jika tidak anda akan kehilangan keseimbangan karena anda baru saja bangun tidur" tutur Andika.
Tanpa aba aba Vino membuka pintu uks sembari berkata "nona? mengapa dia memanggil Zilvina nona?" tanya Vino kebingungan.
"a-anu ka-karena.... " jawab Sheon gugup.
"Andika adalah adik tiriku dari desa, nona di desa kami memiliki arti kakak jadi dia memanggilku nona" jawab Zilvina sembari melirik Andika penuh amarah.
"a-apakah aku salah menyebut? ta-tatapan nona Zilvina sangat mengerikan" ucap Andika dalam hati ketakutan.
__ADS_1
"i-itu benar nona artinya kakak perempuan" ucap Andika gemetaran.
"oh apakah kau adalah siswa baru di sekolah ini? perkenalkan namaku Vino Nathael aku adalah teman dari kakakmu" ucap Vino.
"haii namaku Andika salam kenal" jawab Andika.
"oh ya aku sudah merasa lebih baik, bisakah kita kembali ke kelas saja? rasanya ruangan ini terlalu sempit untuk kita ber empat" ajak Zilvina.
"apa maksudmu berkata seperti itu?" ucap Sheon geram.
"bu-bukan seperti itu, ta-tapi" ucap Zilvina panik.
"hmph! kau menyakiti hatiku Zilvina, aku kecewa padamu" ucap Sheon berdrama.
"apakah kau perlu aku bantu,nona?" tanya Andika.
"biarkan aku saja yang membantu Zilvina" ucap Vino dengan cepat berpindah ke sisi Zilvina.
"tidak perlu aku bisa melakukannya sendiri bukankah aku telah berkata bahwa aku baik baik saja" bentak Zilvina.
"tapi aku hanya ingin membantumu" ucap Vino dan Andika bersamaan.
"berhenti mengangguku, aku bisa melakukannya sendiri" ucap Zilvina sembari berjalan keluar.
"gawattttt.... Fa-fania dia....." ucap Lilia sembari membuka pintu secara tiba tiba.
__ADS_1