Sipembunuh Bayaran Menemukan Cinta

Sipembunuh Bayaran Menemukan Cinta
episode 27


__ADS_3

"bukankah kurang menyenangkan jika hanya memberinya sedikit pelajaran?" ucap Sheon kesal.


"dia tidak bersalah! aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran tentang etika" jawab Zilvina.


"tapi dia hampir saja menusukmu jika kau tidak tepat waktu menghentikannya" ucap Sheon.


"sudah sudah, aku mengambil pisau kecil yang dia jatuhkan tadi, sepertinya ada sebuah ukiran di ujungnya" ucap Fania sembari memberikan pisau tersebut.


"apakah kau mengetahui ukiran di ujung pisau ini, Lilia?" tanya Zilvina.


"ukiran ini? jika aku tidak salah mengingat itu adalah ukiran khas dari geng mafia yaitu geng Phoenix" jawab Lilia.


"Hah? geng Phoenix? aku tidak pernah mendengar nama itu" ucap Sheon kebingungan.


"wajar saja bila kau tidak pernah mendengarnya, geng itu terdapat dan beroperasi di kota Y saja dan tidak terkenal di kota B, namun dari informasi yang aku ketahui geng tersebut dulunya adalah geng mafia terkenal namun semenjak bos mereka, tuan Steven meninggalkan dunia mafia geng itu hancur dan tidak berjalan lagi" jawab Lilia.


"tuan Steven sendiri adalah ayah dari Rose mungkin saja Rose mengambil pisau milik Ayahnya" sambung Lilia.


"namun dari cara dia menodongkan pisau kearah Zilvina, itu terlihat sudah terbiasa dan itu adalah salah satu teknik awal dalam mengunakan pisau" ucap Sheon.


"iya aku setuju dengan Sheon, bahkan caranya mengeluarkan pisau dari dalam tasnya itu juga terlihat rapi, tidak mungkin seorang pemula bisa melakukannya dengan serapi itu" sambung Zilvina.


"mungkin saja dia belajar ilmu mengunakan pisau dari Ayahnya" ucap Fania.


"kalian semua ada benarnya" ucap Lilia memikirkan.


"sudah lupakan hal itu, oh ya mengapa kalian bisa datang secepat itu ke perusahaan Ayahku? bukankah aku tidak memerintahkan kalian untuk datang?" tanya Zilvina.


"kau berada di depan lift beberapa menit jadi kami menunggu di ruang pribadimu tadi, itu melelahkan kau tau" ucap Sheon kesal.


"maafkan aku hhe, oh ya aku tidak bisa berlama lama disini aku harus menemui kakak keduaku, terima kasih bantuan kaliam hari ini" pamit Zilvina.


"baru saja aku akan mengajakmu ke restoran untuk makan" ucap Sheon kecewa.


"lain kali saja jika sudah kembali ke kota A aku akan mentraktirmu sampai kau puas" ucap Zilvina sembari meninggalkan mereka.


"wahhh... benarkah?" ucap Sheon girang.


"iya benar, sampai jumpa" jawab Zilvina.

__ADS_1


"aku juga memiliki urusan untuk di selesaikan aku akan pergi, sampai jumpa" ucap Fania meninggalkan tempat itu.


"aku tidak suka makan, jangan mengajakku!" ucap Lilia dingin.


"kalian semua kejam!!" ucap Sheon marah.


......................


"selamat datang kembali, nona ketiga" sambut para pelayan.


"bukankah sudah aku katakan sebelumnya? jika aku tiba disini tidak perlu kalian sambut, apa kalian tidak mendengarnya?" bentak Zilvina.


"dimana Kepala Pelayan?" tanya Zilvina.


"saya berada disini nona ketiga, ada yang bisa saya lakukan untuk anda nona?" jawab Kepala Pelayan.


"kakak kedua dimana?" tanya Zilvina.


"tuan muda kedua sedang berada di taman belakang nona" jawab kepala pelayan.


"heyyy Zilvina!" teriak Evellyn.


"terima kasih kepala pelayan" Zilvina bergegas pergi dan tidak mempedulikan Evellyn.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Zilvina pergi meninggalkan Evellyn dan menemui Devano.


...****************...


"kakak... kak.. " Zilvina memanggil Devano.


"hey Zilvina! apa ini caramu menjawab panggilan seseorang!" ucap Evellyn kesal, mengikuti Zilvina hingga sampai di taman belakang rumah.


"apa kau tidak lelah membuat ulah aku saja lelah melihat ulahmu setiap hari" jawab Zilvina.


"beraninya kau!" ucap Evellyn kesal dan hendak memukul Zilvina.


"hentikan itu!" teriak Devano sambil memegang tangan Evellyn yang hendak memukul Zilvina.


"maaf kak.. bukan maksud kami lancang kepada kakak namun jika kakak terus mengangu kami, kami kurang nyaman akan hal itu" sambung Devano dengan lembut.

__ADS_1


"apa maksudmu aku mengangu kalian?" ucap Evellyn kesal.


"apakah kau mengira membuat ulah setiap hari itu tidak mengangu?" tanya Zilvina.


"sudah Zilvina, bukankah kau berkata ingin melatih kemampuan tembakanmu, maka ayo berlatih" ucap Devano sambil mengajak Zilvina pergi.


"haha benar, kak sekarang aku sudah dapat membidik sasaran yang bergerak" ucap Zilvina.


"wahhh itu hebat Zilvina" ucap Devano sambil mengelus kepala Zilvina.


"apa hebatnya dengan itu? bahkan pelayan di rumah dapat melakukannya" bisik Evellyn kesal.


Tanpa menghiraukan Evellyn mereka pergi begitu saja meninggalkan Evellyn semdirian. Zilvina dan Devano pun saling menunjukkan kemampuan menggunakan senjata api mereka hingga tanpa disadari mereka bersenang senang dan hari sudah mulai gelap.


"kak sudah mulai gelap, sebaiknya kita kembali atau Ibu akan memarahi kakak" ucap Zilvina.


"baiklah, kau benar juga" jawab Devano.


"jika bukan karnamu kak, mungkin aku akan merasakan trauma itu seumur hidupku" ucap Zilvina dalam hati, terdiam dan melihat Devano dengan tatapan kosong.


"kauu berkata untuk cepat kembali tapi kau malah melamun seperti itu" ucap Devano.


"H-hah? maafkan aku" Zilvina terkejut.


"maaf Zilvina, aku belum bisa melindungimu sepenuhnya tapi setidaknya ini membuat traumamu itu sedikit mereda" ucap Devano dalam hati.


"apakah kakak juga akan kembali ke kota Y besok?" tanya Zilvina.


"mungkin, ada hal apa?" ucap Devano.


"haihhhh mengapa aku tidak bisa selalu bermain bersama kakak setiap hari" ucap Zilvina sedih.


"haha kita kan mempunyai kesibukan masing masing jadi itu tidak mungkin, sebagai gantinya kita dapat bermain jika ada kesempatan bukan" jawab Devano.


"iya, tapi bukankah menyenangkan jika dapat bermain setiap hari" ucap Zilvina sedih.


"sudahlah, terkadang dunia ini tidak seperti yang kau inginkan namun bersyukurlah untuk apa yang kau miliki sekarang" tutur Devano.


"sebenarnya aku juga ingin menjagamu dengan dekat Zilvina, tapi apa boleh buat aku hanya bisa mengawasimu dan menjagamu dari jauh" ucap Devano dalam hati.

__ADS_1


"Hemmm baiklah kakak" ucap Zilvina sembari tersenyum kearah Devano.


"kau memang adik yang baik,Zilvina" ucap Devano sambil mengelus kepala Zilvina dengan lembut.


__ADS_2