
"apa kau tidak berpamitan terlebih dahulu pada Ayahmu, Zilvina? Bagaimanapun ia adalah Ayah kandungmu" ucap Ibu Zilvina.
"Ibu... maafkan aku tapi kedatanganku tidak dianggap tentu saja kepergianku tidak akan dicari bukan? jadi untuk apa aku harus membuang buang waktuku untuk hal yang tidak penting?" ucap Zilvina.
"Zilvina.... " ucap Ibu Zilvina sedih.
"jika kau memiliki banyak waktu luang, bisakah kau mengunjungi Ibu?" sambung Ibu Zilvina.
"mengapa Ibu memihakku kali ini? bukankah sebelumnya ia memihak Ayah?" ucap Zilvina dalam hati.
"pasti Bu, jika aku memiliki banyak waktu luang aku akan mengunjungi Ibu" jawab Zilvina.
"baiklah, hati hati di kota A jangan sampai kau melakukan hal hal ceroboh disana" tutur Ibu Zilvina.
"Ibu.. aku bukan Zilvina kecil itu lagi bu, Zilvina yang ada di hadapanmu ini bukan putri kecilmu yang dulu dapat menghancurkan hal hal berharga dengan kecerobohannya" ucap Zilvina.
"aku harus bergegas kembali ke kota A, sampai jumpa Buu" sambung Zilvina sembari meninggalkan Ibunya dan bergegas untuk bersiap dan pergi ke bandara.
Setelah selesai mempersiapkan semuanya, Zilvina pun bergegas pergi ke bandara karena takut teman temannya menunggu lama. Setelah selesai di bandara Zilvina dan teman temannya bergegas memasuki pesawat yang mereka tumpangi untuk menuju ke kota A dikarenakan mereka di keesokan harinya harus pergi ke sekolah kembali setelah sekian lama berada di kota B. Singkat cerita mereka telah sampai di kota A dan beristirahat dan mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah keesokan harinya.
......................
"itu dia si rakyat jelata, heyy Zilvina si rakyat jelata! mengapa kau berani sekali kau merebut Vino dari nona Lauren" ucap Karina sembari berteriak di depan kelas.
"Fania! mengapa kau belum membereskan hal ini? bukankah kau telah bekerja keras hari itu" ucap Zilvina geram.
"Fania.... bagaimana ini?!!! dari nada biaranya Zilvina sedang tidak senang dan dari pengalaman kita dia tidak segan segan dalam keadaan ini apalagi terhadap orang yang mengganggunya" bisik Sheon pada Fania.
"aku mengira ini telah selesai tapi nyatanya tikus kecil ini masih saja mengangu" jawab Fania berbisik.
__ADS_1
"kami tidak ingin berurusan denganmu, mohon jangan menghalangi jalan kami nona Karina" ucap Lilia.
"lihatlah! karena kelalaianmu Lilia harus melakukan hal yang paling dia benci hanya untuk mencegah amarah Zilvina" bisik Sheon.
"kau tidak perlu menghargai manusia rendahan yang hanya dapat menuduh tanpa bukti seperti ini, Lilia" ucap Zilvina.
"apa kau bilang?!!! manusia rendahan?!! apa yang kau maksud manusia rendahan dasar rakyat jelata?!!" teriak Karina marah.
"haihh gadis ini mencari mati saja" ucap Sheon lirih.
"Zil-zilvina bagaimana jika kita pergi ke kantin saja? aku merasa sangat lapar sekali pagi ini " ucap Sheon mengalihkan suasana.
"hmm aku juga sangat lapar, mari kita pergi ke kantin" sambung Fania.
"hmm tenanglah dirimu" bisik Lilia sembari mengajak pergi Zilvina.
"perkataanmu akan menjadi pedang bermata dua bagimu!" ucap Zilvina menoleh ke arah Karina.
"ta-tatapan apa itu? i-itu sangat mengerikan " ucap Karina dalam hati sembari gemetaran.
"ayo pergi ke kantinnn" ajak Sheon memaksa Zilvina untuk berjalan ke kantin.
......................
"Zilvina.. mengapa dari kau sampai di kota ini hingga sekarang kau tidak bersemangat? apa yang terjadi denganmu?" tanya Sheon.
"apa kau masih saja mengingat kejadian kemarin pagi itu?" sambung Fania.
"aku tidak akan membenci hal yang aku sukai, bukan?" jawab Zilvina.
__ADS_1
"apa kau memiliki masalah dengan kakak perempuanmu itu lagi?" tanya Lilia khawatir.
"tidak, hanya saja.... " jawab Zilvina terhenti.
"apa? apa ada yang melukaimu?" ucap Sheon geram.
"hanya saja Ibuku bertanya tentang apa yang aku lakukan saat ini" jawab Zilvina.
"apa? apakah Ibumu tau semuanya?" tanya Sheon dan Fania serentak.
"tidak, hanya saja ibuku menanyakan apakah jika traumaku datang aku menyakiti diri sendiri dan juga orang lain" jawab Zilvina.
"fyuhhh aku kira Ibumuuu.. " ucap Sheon.
"ba-bagaimana Ibumu bisa mengetahui hal itu? " ucap Lilia memikirkan.
"itulah yang aku pikirkan sejak tadi malam, apakah Evellyn mengetahui sedikit informasi dari mafia yang kita bebaskan itu?" tanya Zilvina.
"aku meletakkan perekam suara pada bajunya dan semua terpantau aman, tidak mungkin itu semua karena Evellyn" jawab Lilia.
"tapi jika bukan karena Evellyn apakah mungkin ada penghianat di kediaman keluarga Evangelion" ucap Sheon.
"sstt! jangan menyebut nama dengan nada bicara tinggi kita tidak tau siapa saja yang mendengar pembicaraan kita!" ucap Fania membentak Sheon.
"hmm Fania benar! bicarakan semua di rumah saja sekarang kita selesaikan masalah Karina saja, aku sudah muak dengan tikus kecil ini!" ucap Zilvina.
"aku mempunyai sebuah ide......." ucap Fania menjelaskan rencananya.
"Hmmm rencana bagus, aku setuju!" ucap Sheon.
__ADS_1