
Pada keesokan harinya di depan kelas mereka melihat keramaian lalu Sheon berpura pura tidak tau dan bertanya kepada salah satu siswa yang ada di tempat kejadian. "apa yang terjadi? mengapa ramai sekali di sini" tanya Sheon.
"aku dengar dengar putri keluarga Gabriella, Lauren Gabriella memakai costum badut karena di perintahkan oleh seseorang, tapi siapa yang berani memerintah putri Lauren" jawab siswa tersebut. .
"haihhh ternyata dia masih saja berdrama" ucap Fania.
"hemph! ayo kita hampiri dia dan lihat apakah dia masih memiliki kesenangan untuk menyambut kita pagi ini" ajak Zilvina sambil berjalan mendekati Lauren.
"dia..!! dia yang memerintahkanku dan memaksaku memakai costum ini" ucap Lauren sambil menunjuk Zilvina dan teman temannya.
"haihh... kami hanya ingin melihat saja tapi mengapa kami mendapatkan tuduhan dari seorang putri keluarga ternama" ucap Fania mempermainkan.
"bukankah kau putri keluarga ternama di kota A? apakah mungkin kami berani memerintahkanmu untuk memakainya?" sambung Zilvina.
"benar sekali, kami hanya rakyat jelata bagaimana mungkin berani memerintah tuan putri" saut Sheon.
"apakah kau swdang mengigau tuan putri?" tanya Fania.
"kalian!!!! akan kubuat kalian menyesal karena telah memperlakukanku seperti ini" ucap Lauren kesal.
"sudah sudah.. ayo kita pergi ke kantin" ajak Lilia.
Dengan perasaan malu Lauren pun berlari mengejar Zilvina dan teman temannya.
"hey! mengapa kalian terus berdrama?" teriak Lauren.
"apa yang kau sebut berdrama? apakah kau pikir kau tidak berdrama selama ini?" jawab Fania sembari menoleh ke arah Lauren dengan perasaan marah.
"jika dia belum berubah maka ayo kita beri dia sedikit pelajaran, bawa saja dia ke gudang!" bisik Zilvina pada Fania. Mereka pun membawa Lauren ke gudang untuk memberinya pelajaran.
"heyy!kalian ingin membawaku kemana? jika kalian tidak melepaskan aku maka aku akan berteriak" ancam Lauren.
"berteriak? HAHAHA berteriaklah sepuasmu! di sini akan ada orang yang dapat mendengar teriakanmu itu!" ucap Sheon.
"kami telah memperingatkanmu bukan? jangan pernah kau mengatakan kejadian itu tapi kau sangat keras kepala, jadi inilah hukumanmu!" ucap Fania marah sembari menatap Lauren dengan kejam.
"a-apa? a-apa yang akan kalian lakukan kepadaku? ja-jangan sakiti aku!! aku akan memberikan semua apa yang kalian inginkan...ta-tapi jangan sakiti aku" ucap Lauren gemetaran.
__ADS_1
"hemph! apakah kau mengira jika kita dapat kau bujuk dengan barang? kami hanya akan memberimu pelajaran bahwa janji tidak bisa di langgar!" ucap Lilia nada marah.
Zilvina mengeluarkan sebuah senapan lalu mendekati Lauren sembari berkata "apakah kau siap, Lauren Gabriella" ucapnya lalu mengacungkan pistol itu ke kepala Lauren.
"a-apa kau akan membunuhku? bukankah kalian mengetahui hukuman membunuh tuan putri keluarga ternama?" teriak Lauren panik.
"yaaa kami mengetahuinya, tapi siapa yang akan berani menghukum putri 4 Keluarga Bangsawan" jawab Zilvina sembari mengarahkan pistol itu ke arah kepala Lauren.
"ka-kau pembunuhh" teriak Lauren histeris.
"ya aku adalah pembunuh dan bagaimana jika aku membunuhmu?" tanya Zilvina sembari menatap Lauren dengan kejam.
"a-aura pembunuh itu lagi" ucap Lauren dalam hati. Ketika Zilvina hendak menembakkan pistolmu mereka mendengar langkah kaki mendekat.
"Lauren....Lauren.... apa kau berada di dalam?" teriak Vino.
"itu suara Vino" ucap Zilvina dalam hati terkejut.
"haihhhh sayang sekali ada yang mengetahuinya, padahal aku masih ingin bersenang senang hari ini, sampai jumpa di lain waktu nona Lauren Gabriella" ucap Zilvina.
"ayo pergi" ajak Lilia.
"Vino..Vino... aku ada disinii" teriak Lauren.
"Lauren... apa kau baik baik saja? siapa yang berani membawamu kesini?" tanya Vino khawatir.
"Vino....syukurlah kau datang menolongku, mer-" ucapan Lauren terhenti karena ada sebuah pisau jatuh yang sudah di rancang Sheon tadi.
"mereka benar benar meletakkan pisau sisiku" ucap Lauren dalam hati.
"pi-pisau, apakah penculik yang menculikmu ada disini?" tanya Vino panik.
"ini pisau milikku, maaf mengagetkatmu" jawab Lauren menenangkan Vino.
"u-untuk apa kau membawa pisau ke sekolah?" tanya Vino curiga.
"Emmm i-itu untuk... " jawab Lauren mencari alasan.
__ADS_1
"sudah lupakan tentang pisau itu, apa kau terluka?" tanya Vino.
"tidak, kau bantu aku ke kelas saja" jawab Lauren.
Vino membantu Lauren menuju kelas dengan cara memapahnya, ketika di depan gudang Zilvina dan teman temannya berpura pura sedang panik mencari Lauren.
"heyy Lauren apa yang terjadi kepadamu?" tanya Fania pura pura panik.
"beberapa siswa berkata kau menghilang jadi kami bergegas mencarimu" sambung Sheon.
"kauu!!!" ucapan Lauren terhenti karena teringat kata kata Zilvina.
"eeeemm... aku ingin ke kamar mandi tapi aku salah memilih jalan" sambung Lauren.
"Lauren....Lauren..... apakah kau baik baik saja?" tanya Karina sembari berlari menghampiri Lauren.
"aku tidak apa apa hanya saja Vino bersikeras membantuku" jawab Lauren.
"ini tidak ada hubungannya dengan mereka kan?" tanya Karina sambil menunjuk Zilvina dan teman temannya
"ti-tidak bahkan mereka baru saja tiba disini beberapa detik yang lalu" jawab Lauren sembari tersenyum.
"eeehh... Zilvina aku ada sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu" ucap Vino.
"bicarakan saja disini! aku sedang malas untuk bergerak" jawab Zilvina ketus.
"bisakah kita berbicara berdua saja?" tanya Vino ragu ragu.
"baiklah, tapi kita tidak bisa berlama lama... bel masuk berbunyi 10 menit lagi" jawab Zilvina dingin.
"baiklah" ujar Vino sambil pergi bersama Zilvina dan menyerahkan Lauren kepada Karina.
"sudahlah Sheon ayo kembali ke kelas, sepertinya nona Lauren yang terhormat ini baik baik saja" ajak Fania sambil beranjak pergi.
"hemph! ternyata kau mengetahui bagaimana cara untuk menaati peraturan sekarang" ucap Sheon lirih sembari berjalan melewati Lauren.
"apakah kau terluka? siapa yang berani membuatmu seperti ini, Lauren?" ucap Karina panik.
__ADS_1
"hmph! mereka terlalu kuat untuk keluarga Gabriella" ucap Lauren sembari meninggalkan Karina.
"tu-tunggu aku, Lauren! apa maksudmu?" ucap Karina mengejar Lauren.