Sipembunuh Bayaran Menemukan Cinta

Sipembunuh Bayaran Menemukan Cinta
episode 40


__ADS_3

"hahaha lihatlah wajah ketakutan itu? itu sungguh konyol sekali" ucap Fania tertawa.


"bukankah kau tadi sangat terlihat mengerikan dan dengan sangat berani mengancam kami, mengapa kau sangat ketakutan saat ini?" ucap Fania sembari memainkan bolpoin di tangannya.


"da-darimana dia mendapatkan buku dan bolpoin itu? dan bu-buku itu berisi seperti sebuah strategi yang di siapkan untuk mengalahkan nona Zeline" bisik Karina.


"hmph! apakah kau penasaran dengan buku yang aku bawa ini, Karina?" ucap Fania sembari menunjukkan isi dari buku yang ia bawa.


"ini adalah bagian pembuluh darah penting dari seseorang, jika kau menusuknya maka akan keluar banyak darah dan korban akan kekurangan darah dan akhirnya...... kurasa kau tau yang terjadi selanjutnya" sambung Fania.


"Hmmm kau tidak memiliki kemampuan bela diri atau semacamnya jadi sangatlah mudah bagi Sheon untuk mengincar pembuluh darahmu" ucap Lilia sembari menunjukkan layar laptop miliknya.


"ba-bagaimana dia bisa menemukan laptop secepat itu? d-dan dia juga mengetahui informasi tentang nona Zeline dengan cepat" ucap Karina terkejut.


"heii apa kau terkejut? aku punya banyak sekali hal semacam ini apa kau tertarik untuk melihatnya?" ucap Lilia sembari menunjukkan semua informasi mengenai Zeline yang ia ketahui.


"si-siapa kalian sebenarnya? mengapa kalian sangat berbeda dengan tadi? padahal ini baru beberapa menit yang lalu" ucap Zeline ketakutan.


"hmph! bukankah aku tadi berkata bahwa tidak ada yang tidak mungkin dan kamu memilih untuk tidak percaya" ucap Zilvina sembari memasukkan beberapa peluru ke pistol kecil yang ia bawa.


"apakah sekarang kau dapat mempercayai hal yang aku katakan beberapa menit yang lalu, nona Zeline?" tanya Zilvina sembari memainkan pistol tersebut.


"Hahahaha apakah kalian bercanda? diruangan ini ada banyak kamera pengawas jadi jika pun kalian membunuhku maka kalian akan diberi balasan yang setimpal oleh keluarga Arcenlion" ucap Zeline bangga.


"ups! aku telah meretas datanya dan aku telah mematikan semua kamera pengawas yang ada di ruangan ini" ucap Lilia sembari menunjukkan laptopnya bahwa kamera pengawas telah ia matikan.

__ADS_1


"sial! sebenarnya siapa mereka?!" ucap Zeline dalam hati.


"ji-jika pun kalian membunuhku hari ini, mereka berdua akan menyampaikan berita ini kepada keluarga Arcenlion dan kalian masih akan mendapatkan balasannya" ucap Zeline merasa aman.


"hmph! jika seperti itu maka akan kubuat semuanya tutup mulut dan tidak akan ada pembalasan yang kau katakan itu" ucap Sheon.


"Sheon, biarkan aku saja yang melakukannya" ucap Zilvina sembari berjalan ke arah Zeline.


"a-apa yang kau maksud melakukan? jangan harap kau dapat melakukan sesuatu padaku" ucap Zeline sembari mundur ketakutan.


"Zilvina! aku peringatkan dirimu agar tidak mendekat!" teriak Zeline ketakutan.


"apa kau merasa takut kali ini? Hahahaha ternyata kau bisa merasa takut" ucap Zilvina sembari semakin mendekati Zeline.


"aku hanya ingin melakukan ini padamu, karena kau melakukannya pada Lilia juga maka aku akan mewakilinya membalaskan dendam" ucap Zilvina sembari menampar Zeline.


"berani sekali mencampuri urusanku!" ucap Zilvina geram.


"jika kau tidak ingin terluka maka jangan mencampuri urusannya paman" ucap Sheon.


"jangan mencampuri urusan anak kecil, lawanmu adalah aku" ucap Andika keluar dari tempat persembunyiannya.


"hmph! menarik, mari pergi dari tempat ini"


"aku tidak ingin membiarkan nona terluka" ucap pengawal Zeline.

__ADS_1


"hmph! siapa takut" ucap Andika sembari pergi bersama pengawal Zeline tersebut.


"mengapa kalian tidak mengeluarkan semua siswa? mengapa kalian sangat ceroboh" ucap Zeline memarahi Lauren dan Karina.


"nona Zeline? jangan lupakan urusanmu dengan kami, kau belum selesai" ucap Fania.


"apa kau bodoh? dia telah datang maka pasukannya juga datang, kalian telah dikepung" ucap Zeline.


"dan lihatlah para siswa itu juga memanggil guru untuk datang dan para guru telah berusaha membuka pintu itu" sambung Zeline.


"hmph! keberuntungan ada padamu nona Zeline" ucap Zilvina memberi isyarat pada temannya untuk meninggalkan tempat itu.


Mereka pun meninggalkan sekolah tersebut sebelum jam pulang dengan melewati jendela agar tidak terjadi hal hal yang rumit dan mengangu berjalannya misi mereka. Walaupun Zeline membuat masalah dengan menceritakan semuanya kepada guru namun Lilia telah menghapus semua data yang terekam di kamera pengawas serta telah mematikan kamera pengawas di sekitar ruangan tersebut. Mereka meninggalkan sekolahan tersebut dan bergegas menuju ke tempat Andika dan pengawal Zeline berada, setelah beberapa waktu mencari dimana Andika berada akhirnya mereka menemukannya di sebuah gedung tua waktu itu. Mereka segera menuju ke lantai atas untuk mencari Andika namun ketika Zilvina datang Andika sudah dalam keadaan kalah dan terluka parah, dengan sigap Zilvina dan teman temannya melindungi Andika yang sedang terluka parah tersebut.


"jangan mendekatinya! " ucap Sheon sembari melemparkan sebuah pisau dari kejauhan.


"hahaha ternyata cepat juga pergerakan kalian, aku tidak menyangka kalian akan menemukan gedung terbengkalai terpencil secepat ini" ucap pengawal Zeline.


"berhubung ini adalah ajal kalian maka aku akan memberitahu kalian siapa diriku terlebih dahulu sebagai salam perpisahan"


"aku adalah salah satu anggota geng phoenix dan sangatlah mustahil bocah seperti kalian akan selamat dariku" sambung pengawal Zeline tersebut.


"haihh anggota geng phoenix ya? tapi dari yang aku lihat kau hanyalah kelas menengah, apa kau yakin bisa melakukannya?" ucap Lilia.


"tak kusangka ternyata kau sangat pandai menebak, aku memang hanya kelas menengah di geng phoenix namun bukanlah hal sulit untukku dapat menghabisi kalian" jawab pengawal Zeline.

__ADS_1


"jangan terlalu menyombongkan diri di awal, apa kau mengetahui tentang benda ini?" ucap Zilvina sembari menunjukkan sebuah kartu anggota geng Dandelion miliknya.


"ka-kau ternyata adalah.." ucap pengawal Zeline tersebut terkejut


__ADS_2