
"ada apa dengan Fania?" tanya Sheon panik.
"kau seharusnya menenangkan dia terlebih dahulu bukan langsung bertanya seperti ini" ucap Vino memarahi Sheon.
"cihh merasa paling benar" ucap Sheon kesal.
"aku memang benar kau saja yang tidak mau mengakuinya" ucap Vino percaya diri.
"awas kau ya! jika kau melakukan kesalahan dan aku melihatnya maka aku akan mengingatnya seumur hidupku" ancam Sheon.
"heyy jangan berdebat, tenangkan dirimu Lilia" ucap Zilvina sembari memberi Lilia air minum.
"terima kasih, air ini begitu lezat darimana kau mendapatkannya?" tanya Lilia setelah menghabiskan air minum tersebut.
"aku mendapatkannya dari Andika" jawab Zilvina.
"a-aku mendapatkannya dari perpustakaan dan telah ditinggalkan oleh orang tidak dikenal" ucap Andika membeku.
"i-ini adalah sisa dari orang yang tidak dikenalll" teriak Lilia ingin muntah.
"apa kau baik baik saja Lilia?" tanya Sheon.
"kurasa Andika ingin membunuhku" jawab Lilia mual.
"oh ya ada apa dengan Fania?" tanya Zilvina.
"aaaa aku melupakannya" jawab Lilia santai.
"Fa-fania menghilangg" sambung Lilia tiba tiba panik.
"a-apa maksudmu menghilang? apa kau pikir Fania adalah kucing peliharaan?" ucap Sheon tidak percaya.
"me-mengapa Zilvina memiliki teman yang sangat mudah berubah seperti ini" bisik Vino pada Andika membeku.
"aku juga tidak tau" jawab Andika.
"tadi ia memintaku untuk menemaninya ke kamar mandi namun karena aku ingin menjahilinya aku tidak mengantarnya hingga ke kamar mandi"
"dan saat aku ingin mulai menjahilinya aku mencarinya di semua bilik kamar mandi yang ada dan dia tetap saja tidak dapat ditemukan" ucap Lilia panik.
"HAHAHA kurasa senjata makan tuan Lilia, kau ingin menjahili Fania tapi kau malah dijahili olehnya" Sheon menertawakan.
"ini bukan bercanda kau tau" ucap Lilia berubah ekspresi.
"aku akan mempersiapkan semuanya" ucap Sheon serius.
__ADS_1
"aku akan mengalihkan perhatian Vino" sambung Zilvina.
"aku akan mencari informasi, setelah semuanya siap kita berkumpul di taman belakang sekolah" jawab Lilia.
"Vino dan Andika ikutlah aku kita akan mencari Fania di tempat kejadian" ucap Zilvina sembari bergegas ke tempat kejadian.
"baik" ucap Andika serius.
"mengapa mereka cepat sekali berubah dari yang awalnya bercanda menjadi seserius ini, apakah ini cara mereka bercanda? jika seperti itu aku akan bercanda juga" ucap Vino dalam hati.
"aaah Zilvina apakah Fania benar benar menghilang? bagaimana jika Lilia hanya membohongimu" ucap Vino bercanda.
"apa ku kira ini semua hanya bercanda?" ucap Zilvina tiba tiba berhenti.
"bahkan Lilia memberitahumu dengan tertawa, bukankah itu bercanda?" ucap Vino tidak juga mengerti.
"tidak semua tawa itu bahagia dan tidak semua canda itu main main" ucap Zilvina sembari menatap Vino dengan kejam.
"ba-baiklah maafkan aku, a-ayo kita lanjutkan" ucap Vino ketakutan.
"jangan menganggap dunia ini berisi akan hal hal yang menyenangkan setiap saat, Vino" ucap Zilvina sembari melanjutkan perjalanannya.
"tatapan dan nada bicara nona Zilvina tadi ituu sangat menyeramkan, kurasa masalah ini benar benar serius" ucap Andika dalam hati.
"ada apa dengan Zilvina, aku kira ini hanyalah permainan" bisik Vino pada Andika.
"mengapa semuanya terasa aneh?" ucap Vino bertanya tanya.
"semua yang ada di dalam cepat berbaris dan keluarlah!" perintah Zilvina kepada para siswa yang ada di kamar mandi tersebut.
Beberapa siswa pun berbisik atas tindakan Zilvina tersebut. "siapa dia?"
"dia ingin melakukan apa hingga meminta kita untuk berbaris dan keluar?"
"apa yang sebenarnya terjadi?"
"apakah dia merasa bahwa sekolah ini miliknya hingga dapat memerintah kita sesukanya?"
"aku akan mengecek semua klar mandi yang ada di sekolah ini jadi kalian tolong lakukan apa yang ia katakan" ucap Vino.
"aaaaa itu adalah tuan Vino tuan muda kedua dari keluarga Nathael tidak menyangka bertemu dengannya di tempat seperti ini"
"aaa benar sekali dia sangat tampan dan juga berwibawa"
"ini adalah suatu kehormatan bagi kita"
__ADS_1
"tapi siapa gadis itu, tuan Vino terlihat membela dia" bisik beberapa siswa.
"berhenti berbisik dan cepat berbaris!" bentak Zilvina.
"mengapa dia membentak kita, apa dia memiliki hak untuk melakukannya"
"sudahlah lakukan saja, demi terlihat baik di depan tuan Vino"
"benar, ayo lakukan saja" bisik beberapa siswa sembari berbaris dan keluar.
"Andika periksa hal hal yang sekiranya mencurigakan, Vino kau periksa semua bilik kamar mandi yang ada! aku akan memeriksa semua orang ini" ucap Zilvina memberi perintah.
Setelah beberapa lama mereka mencari semua itu tidak membuahkan hasil sama sekali, Vino tidak dapat menemukan Fania di semua bilik kamar mandi yang ada dan semua bilik kamar mandi telah kosong, Zilvina juga tidak dapat menemukan Fania jika saja ia menyamar dan keluar. Namun di depan pintu keluar kamar mandi Andika menemukan sebuah pena yang biasanya Fania bawa, mereka bergegas menemui Lilia dan Sheon yang sedang berada di taman belakang sekolah.
"Lilia.. Lilia.... kami menemukan sesuatu" ucap Zilvina sembari berlari menuju Lilia.
"lihat ini" sambungnya sembari menunjukkan sebuah pena yang mereka temukan.
"i-itu... " ucap Sheon membeku.
"Hmm, ayo lakukan" ucap Lilia serius.
"Vino, tolong perintahkan semua anak buahmu dan pimpin mereka untuk membantu kita mencari di area luar sekolah, Andika selesaikan soal izin dan yang lain lain"
"Aku, Sheon dan Lilia akan mencoba mencari di area rumah" ucap Zilvina serius.
"ba-bagaimana jika aku membantu kalian saja, anak buahku sangat lihai untuk bekerja tanpa aku pimpin" ucap Vino.
"laksanakan apa yang aku katakan! tidak ada negosiasi saat ini" ucap Zilvina tegas.
"baiklah lakukan tugas masing masing" ucap Zilvina.
"baikk" jawab Vino dan Andika sembari meninggalkan tempat tersebut.
"kita melakukannya lagi?" ucap Sheon.
"Hmm sayangnya Fania tidak ikut serta dalam acara bersenang senang tidak terduga kali ini" ucap Zilvina.
"lihatlah aku mendapatkan informasi dimana Fania berada" ucap Lilia sembari menunjukkan sebuah lokasi dimana Fania berada.
"arghh sial! mengapa baru saja beberapa menit ia sudah terlalu jauh dari pusat kota" ucap Zilvina.
"itu dikarenakan mereka mengendarai dengan kecepatan tinggi, hmph mereka terlalu terburu buru" ucap Sheon.
"siapa dalang dibalik semua ini" tanya Zilvina.
__ADS_1
"aku tidak dapat menemukan informasi mengenai hal itu, Fania tanpa sengaja menjatuhkan pena miliknya yang mana itu dapat berubah menjadi kamera pengawas berhuntung sekali ia masih mengenakan jam tangannya jadi aku masih dapat melacak posisi dimana ia berada" jawab Lilia.
"baiklah ayo persiapkan semuanya dan bersenang senang hari ini" ucap Zilvina serius.