
Karya ini hanyalah imajinasi dari author saja. Jadi semua kejadian waktu, nama orang dan tempat tidak ada dikehidupan nyata.
Episode 24 - SMP 32
Segerombolan anak SMP sedang berkerumun di kelas 7-1, di ruangan itu terdengar suara gaduh dari murid laki-laki. Murid perempuan yang berada di kelas langsung keluar karena tak nyaman dengan suasana tersebut. Suasana itu adalah suasan perkelahian murid laki-laki.
Dafa yang selesai dari toilet iseng untuk melihat sekilas keramaian itu. Dafa mengintip sedikit demi sedikit hingga masuk ke dalam kelas dan berdiri paling depan. Tak lama kemudian, ia disusul dengan Dimas yang tiba-tiba berdiri di samping kanannya.
"Mereka sedang adu kekuatan untuk menguasai kelas 8 nantinya," ucap Dimas berlagak sok tau.
"Hah? Maksudnya?" tanya Dafa yang bingung.
"Huft … ku jelasin sebentar. Jadi setiap tahun ajaran baru akan ada murid yang ingin menjadi pentolan di setiap angkatannya. Di kelas 7 tak ada pentolan, karena mereka diharuskan untuk belajar. Namun ketika akan naik kelas, setiap bulan Januari, kelas 7 akan mencari siapa yang akan menjadi pentolan di angkatannya. Kira-kira begitu," jelas Dimas.
"Hemmm … jadi setiap angkatan ada pentolannya masing-masing?" tanya Dafa yang penasaran.
"Yups … benar sekali," jawab Dimas.
"Tapi, siapa yang membuat sistem peraturan sekolah jadi kayak gini?" tanya Dafa. "Lalu kenapa para guru hanya diam saja?" sambungnya lagi.
Dimas mulai bingung lalu menggaruk kepalanya. Ia bingung harus mulai darimana dulu ia menjelaskan sejarah panjang itu.
"Yang membuat sistem kayak gini sih ada seseorang. Dia udah jadi alumni SMP ini, kalau nggak salah namanya …."
Belum sempat menyebut namanya, beberapa murid sebanyak lima orang masuk ke dalam ruangan. Ada yang duduk di atas meja, ada yang di kursi dan juga ada yang berdiri. Pakaian mereka berbeda dari murid yang lainnya. Pakaian mereka lebih terlihat menonjol layaknya seperti seorang preman sekolah.
"Itu para preman di kelas 8, mereka sedang menyurvei adik-adik kelas mereka yang akan menggantikan posisi mereka," ujar Dimas yang memberitahu Dafa.
"Emang ada ya, sekolah macam gini? Kayak di komik-komik aja," ucap Dafa lalu keluar dari kelas itu karena tak betah dengan suasananya.
Dimas yang melihat Dafa pergi, ia menarik tangan Dafa untuk kembali. "Jangan lewatkan hal menarik," ucap Dimas ke Dafa.
"Hal menarik?" gumam Dafa lalu kembali melihat lagi.
__ADS_1
Yang dilihat oleh Dafa memang hal menarik bagi mereka anak-anak sekolah yang gemar melihat pertarungan. Namun hal itu biasa saja bagi Dafa yang telah melihat pertarungan bawah tanah milik Anton.
Seorang anak yang hanya ingin diakui kekuatannya oleh semua orang, anak yang tak mengerti apa-apa tentang bela diri, anak yang tak mengerti apapun tentang perkelahian. Dafa sedang melihat seorang pecundang yang seperti dirinya sedang mengikuti tradisi itu untuk keluar dari dunia yang menyiksanya, dunia perundungan.
Anak itu berusaha sekuat tenaga semampunya mengalahkan seluruh anak kelas 7 seorang diri dan sekarang berhadapan langsung dengan berandalan kelas 8 dan juga akan melawan mereka untuk menggapai keinginannya untuk keluar dari dunia perundungan.
"Ada ya orang seperti itu. Kenapa nggak pindah sekolah aja, daripada harus masuk ke dalam dunia berandalan," batin Dafa.
"Ah … anu." Dimas ingin berbicara kepada Dafa.
"Apa lagi?" tanya Dafa.
"Kau benar-benar ingin menghajar para berandalan sekolah ini, kan?" tanya Dimas dengan tatapan yang mengharapkan sesuatu.
Dafa menghela nafas beratnya. "Apa kau tau informasi para berandalan?" tanya Dafa.
"Tentu saja! Aku adalah seorang informan yang terkenal di sekolah ini," jawab Dimas dengan percaya diri.
"Baiklah, sepulang sekolah mampir ke rumahku dulu," ucap Dafa.
"Huft … ada-ada aja," batin Dafa.
Namanya Rifki, anak yang sedang melawan lima orang preman kelas 8 seorang diri. Meski jatuh berkali-kali, ia selalu bangkit dan menyerang mereka kembali. Wajahnya telah dipenuhi luka lebam, seragamnya dilumuri darah, hidungnya mengalir darah, bibirnya pecah akibat pukulan dari seorang preman kelas 8. Tapi ia masih sanggup untuk bangkit kembali dan menyerang mereka lagi.
"Hei! Kau ini zombie atau apa?" tanya seorang preman kelas 8 berambut coklat keemasan yang bernama Danu.
Rifki tak menjawab dan menyerang mereka tanpa ada rasa kelelahan sedikitpun.
"Sial! Rian, apa bisa kau lakukan serangan itu?" tanya Danu ke anak bernama Rian.
"Beneran nih nggak ada masalah," ucap seorang anak berambut panjang yang diikat dengan ikat rambut bermotif hello kitty, dia bernama Rian.
"Nggak! Buruan dah, ini bocah soalnya nggak mau ngalah," pinta Danu yang sudah terdesak.
"Baiklah," sahut Rian.
__ADS_1
Rian lalu memperagakan sebuah gerakan yang sangat tersusun rapi. Dafa yang melihatnya dibuat terpesona dengan gerakan itu.
[ Tuan, dia akan melakukan pukulan satu inchi. Apakah kita tidak menghentikannya? ]
Sistem bertanya kepada Dafa, padahal sebelum-sebelumnya sistem tak pernah bertanya kepada Dafa sebelum Dafa mengajaknya berbicara.
"Tumben kau bisa bertindak sendiri. Tapi kenapa aku harus menghentikannya?" batin Dafa.
[ Anak yang bernama Rifki yang sedang berkelahi itu akan terkena pukulan satu inchi. Kerusakannya sangat fatal, apa anda tak ingin menghentikan mereka? ]
"Huft … apa gunanya aku menghentikan mereka," gumam Dafa yang didengar oleh Dimas.
[ Bukankah tuan ingin menghabisi para berandalan yang disana. Ini langkah awal yang bagus lho. ]
Sistem merayu Dafa.
"Nggak! Aku nggak ada urusan dengan mereka, yang jelas aku datang kesini hanya karena pak tua itu memperkerjakan aku untuk menjaga anaknya, bukan untuk menghabisi para berandalan seenaknya," ucap Dafa lirih.
"Kamu berbicara dengan siapa?" tanya Dimas yang heran dengan Dafa yang berbicara sendiri dari tadi.
Dafa mulai keringat dingin karena dianggap jadi orang yang gak waras karena berbicara sendiri. "Ah anu, aku hanya bergumam. Iya, hanya bergumam. Itu kebiasaan burukku," ucap Dafa sambil terkekeh.
"Owhhh …." Dimas hanya meng-oh kan.
[ Tapi beneran nih, tuan nggak nyesal kan kalo exp levelnya hilang sia-sia. ]
Sistem mulai merayu sembari mengancam Dafa.
"Nggak ya nggak, lagian nanti juga bakal sering berkelahi," gumam Dafa.
Tiba-tiba terdengar suara dentuman keras. Itu berasal dari suara pukulan dari anak yang bernama Rian. Ia telah menggunakan pukulan one inch untuk menjatuhkan lawan dengan mudah. Kini Rifki tergeletak di lantai dengan darah yang keluar dari mulutnya.
"Ah, darah lagi … darah lagi," gumam Dafa lalu keluar dari kerumunan karena sudah puas dengan tontonannya.
...### Solo Fighter ###...
__ADS_1