
Episode 45 - Galang dan Harimau Merah
Di sekolah SMP 13 seperti biasanya, Galang duduk di belakang sekolah sembari melihat burung-burung yang berterbangan. Semenjak Dafa pindah sekolah, ia berhenti merokok dan sering masuk pelajaran kelas.
Tak lama kemudian, teman-teman Galang pun datang satu per satu. Juan, Tio, Randi dan Ramdani langsung duduk di bangku yang tersisa. Mereka mengeluarkan sebungkus rokok dan membagikannya masing-masing satu batang rokok. Namun ketika Galang diberikan sebatang rokok oleh Juan, ia langsung menolaknya dan beranjak dari duduknya.
"Bel udah mau bunyi, kalian masih mau ngerokok!" seru Galang lalu meninggalkan mereka berempat.
Saat Galang tak terlihat lagi dari pandangan mereka, mereka pun mulai membicarakan Galang.
"Ada apa dengan dirinya? Kenapa akhir-akhir ini sering berubah?" tanya Randi yang heran dengan sikap Galang tiba-tiba berubah begitu saja.
"Kayaknya dia punya pikiran atau gara-gara anak cupu itu udah gak ada lagi," sahut Tio.
"Hei! Jangan ngomong yang aneh-aneh. Kalian nggak tau, Dafa itu orang yang ngejatuhin Harimau Putih!" seru Juan yang mendengarkan pembicaraan mereka dari tadi.
"Hah! Bukannya Yin dan Yang," jawab Ramdani.
"Emang Yin dan Yang. Yin itu Galang dan Yang itu Dafa!" jelas Juan lalu menunjukkan logo Yin dan Yang.
"Galang mendominasi Yin karena dia terlihat seperti preman, namun memiliki hati yang baik, buktinya dia adalah teman Dafa sejak kecil. Dafa lebih mendominasi Yang, meski dia terlihat cupu, polos dan terlihat seperti anak baik-baik, ternyata dia itu menguasai beberapa bela diri," jelas Juan.
"Darimana kau tau semua hal ini?" tanya Tio.
"Webnya informasi para gangster," jawab Juan lalu memperlihatkan mereka web tersebut.
Web itu adalah web yang sebelumnya dibicarakan Edric dengan Dafa. Semakin hari, informasi Dafa semakin bertambah dan menjadi trending topik di semua sosial media tentang kenakalan remaja.
Dan karena web tersebut, masalah yang akan dihadapi Dafa akan semakin bertambah sebelum Dafa mampu dijatuhkan dengan satu kelompok geng.
...~...
Singkat cerita, saat jam istirahat. Terlihat Galang sedang duduk menyendiri di sudut kantin sembari memakan kripik kentang pedas. Ia memandangi Angelina yang sedang duduk sembari memakan bakso. Karena saking fokusnya ia memandangi Angelina, Galang terlena dalam khayalan dan mengakibatkan ia tertidur.
Namun tiba-tiba seseorang membangunkan Galang. Suara tersebut sangat dikenali oleh Galang. Dia adalah Nanda yang pernah membantu Galang menuju rumah sakit akibat cedera.
"Galang, Galang! Bangunlah! Sekolah kita dalam bahaya!" seru Nanda sembari menggoyangkan badan Galang.
Mendengar hal itu, Galang langsung terbangun dengan mata yang menatap Nanda dengan tatapan kebingungan.
"Bahaya kenapa? Apa ada kebakaran?" tanya Galang sembari mengusap kedua matanya.
"Harimau Merah datang ke sekolah kita," ucap lirih Nanda di dekat telinga kanan Galang.
"Apa?! Yang benar!" sahut Galang yang kaget mendengarnya.
"Iya, kami sedang menunggumu. Para guru juga acuh tak acuh melihat geng-geng itu kesini," ucap Nanda.
"Anj**g! Sekolah macam apa yang membiarkan para geng masuk," jawab Galang lalu segera berlari ke arah gerbang sekolah.
Tiba-tiba terdengar bel dari sekolah.
Semua siswa diharapkan pulang lebih awal, bagi yang masih berada di dalam kelas diharuskan untuk segera pulang, karena para guru-guru akan mengadakan rapat. Sekian Terima Kasih.
__ADS_1
Galang menghentikan langkahnya dan bergumam, "Para guru tak ada yang berguna sama sekali. Apa mereka takut, sampai-sampai harus memulangkan murid dengan cepat."
Galang segera mengambil tasnya di kelas dan langsung menuju ke gerbang sekolah. Namun tiba-tiba terdengar teriakan panggilan dari belakangnya.
"Galang!"
Nanda berlari kencang mendekati Galang. "Kenapa buru-buru? Harimau Merah memang akan kesini, tapi mungkin sekitar sepuluh menit lagi," ucap Nanda yang membuntuti Galang.
"Aku tau, tapi aku harus menghentikan mereka. Mereka pasti ingin membalaskan dendam mereka," ucap Galang sembari mengepal kedua tangannya dengan sangat keras.
"Ah, Hah! Kau Yin dan Yang yang itu di video itukan. Dimana orang satu lagi, siapa dia?" tanya Nanda yang penasaran dicampur senang.
Galang menghentikan langkahnya ketika melihat geng Harimau Merah telah berdiri di depan gerbang sekolah mereka. Penjaga sekolah yang biasanya menjaga gerbang tak nampak sedikitpun disana. Gerbang juga dibiarkan terbuka dan para murid juga tak bisa pulang karena gerbang yang akan mereka lewati dihadang oleh Harimau Merah.
"Kau bilang sekitar sepuluh menit lagi. Kenapa mereka sudah ada disini?" tanya Galang lalu menatap Nanda dengan tatapan tajam.
"Eh, aku tak tau. Aku kira mereka sedang berada di perjalanan. Karena tadi kata–" Galang menutup mulut Nanda menggunakan jari telunjuknya.
"Apa kau punya kontaknya Dafa?" tanya Galang sembari melepaskan kancing bajunya satu persatu.
"Ti–tidak, aku tak pernah meminta nomernya," jawab Nanda.
Galang memberikan ponselnya kepada Nanda. "Jika aku terlihat kesusahan menghadapi mereka–" Tatapan Galang tiba-tiba mengarah ke Angelina yang dirayu oleh seorang anggota Harimau Merah.
"Tolong segera hubungi Dafa jika aku terlihat kesulitan menghadapi mereka!" seru Galang lalu perlahan berjalan mendekati mereka.
"Da–Dafa? Kenapa harus Dafa?" gumam Nanda yang kebingungan. "Meski Dafa terlihat kuat, apa dia bisa menghadapi mereka sekaligus?" gumam Nanda yang ragu dengan kemampuan Dafa.
Terlihat Galang perlahan mendekati geng Harimau Merah dan berhenti sekitar tiga meter dari jarak seorang anggota yang mengganggu Angelina.
"Jangan ganggu dia!" ucap tegas Galang dengan tatapan tajam.
"Hah! Ada apa? Aku kesini hanya ingin mencari Yin dan adiknya Yang. Katanya mereka sekolah disini," ucapnya dengan ekspresi wajah yang tak bisa dijelaskan.
"Kau berdiri di hadapan orang yang benar. Yang kau cari itu adalah aku, Yin!" jawab Galang lalu menyiapkan kuda-kuda seorang petinju.
"Wah, wajahmu kelihatan ingin ku hempaskan ke tanah saja," ucap orang itu, tiba-tiba ia berlari ke arah Galang dengan sangat cepat.
"Eh, dia kan Maximus si Sonic. Sang tercepat di geng Harimau Merah," bisik seorang murid sekolah SMP 13.
"Hah! Maximus kan dari divisi dua," sahut murid yang lain.
Orang yang bernama Maximus itu langsung menyerang Galang begitu saja. Awalnya Galang mampu menangkis serangan tersebut, namun secara bertahap serangan itu mampu meruntuhkan pertahanan Galang dan mengakibatkan Galang terhempas ke tanah.
"Sudah kubilang, wajahmu akan ku hempaskan ke tanah," ucap Maximus sambil terkekeh.
"Hahaha …." Terdengar tawa dari Galang yang masih terbaring di tanah.
"Mulai sekarang, aku takkan takut dengan para gangster lagi!" seru Galang kemudian bangkit dan langsung menyerang Maximus.
Pertarungan kedua orang itu disaksikan oleh para murid dan juga para geng Harimau Merah. Nanda yang menyaksikan pertarungan mereka dan melihat jika Galang kesulitan menghadapi lawannya, ia mengirim pesan lewat ponsel Galang yang diberikan tadi.
Galang diserang habis-habisan dengan Maximus hingga babak belur. Pandangan Galang telah samar-samar, tubuhnya juga tak kuat lagi berdiri dan berjalannya mulai sempoyongan.
"Ternyata Yin dan Yang tak sekuat yang aku kira," ucap Maximus lalu melakukan serangan terakhir dengan menendang ke arah wajah Galang.
__ADS_1
Ketika hendak melancarkan tendangan ke wajah Galang. Tiba-tiba sebuah bola kasti melesat ke arah wajah Maximus.
Semua pandangan tertuju ke arah orang yang melemparkan bola kasti tersebut. Dan semua orang terkejut ketika melihat orang yang melempar bola kasti itu adalah Dafa.
Dafa berjalan perlahan-lahan ke arah Galang. "Sudah cukup perkelahian nya, aku kesini hanya ingin melihat situasi yang ada. Tapi ketika melihat keadaan sahabatku yang seperti ini, aku jadi merasa tak bisa menahan diri lagi," ucap Dafa sembari berjalan ke arah Galang.
"Kata-kataku udah keren belum Martis?" batin Dafa.
[Kelihatannya udah keren tuan. Tapi jika dilihat-lihat dari pandangan mereka, kayaknya tuan bakalan dikeroyok dengan mereka deh (O_O) ]
"Benar juga, aku kira menggertak mereka bisa membuat mereka semua pergi," batin Dafa lalu memeluk Galang dan membawanya ke arah para murid SMP 13.
"Tolong jaga dia sebentar," ucap Dafa kepada murid yang di hadapan Dafa.
"Dafa!"
Terdengar teriakan panggilan dari arah murid perempuan. Suara itu sudah sangat dikenali oleh Dafa, suara itu adalah suara dari Melisa.
Dafa menghiraukan panggilan tersebut lalu menatap tajam ke arah Maximus.
"Aku ketua dari geng Yin dan Yang. Apa yang kau inginkan dari kami?" tanya Dafa, sebenarnya ia masih menahan rasa takutnya.
Maximus berjalan mendekati Dafa. "Tak seperti orang itu. Ternyata kau lebih berwibawa," ucap Maximus sembari menunjuk ke arah Galang.
"Aku tanya sekali lagi! Apa yang kau inginkan dari kami?" tanya Galang yang mengulangi pertanyaannya.
Jarak antara Maximus dan Dafa sekitar dua meter.
"Itu karena tujuan kami adalah menghabisi geng yang mengganggu peringkat kami!" teriak Maximus dan tiba-tiba dia menyerang Dafa menggunakan tendangan.
Tentu saja itu tak semudah yang ia lakukan ketika menghadapi Galang. Dafa yang sudah bersiap dari awal langsung mengelak dan juga melakukan serangan balasan.
Maximus juga mampu menghindari serangan tendangan yang dilancarkan oleh Dafa. Namun wajahnya tiba-tiba merasakan perih dan Maximus segera mengusap wajahnya. Ketika dilihat, pipinya terluka akibat goresan, entah goresan dari benda apa, yang pasti itu dari tendangan Dafa barusan.
"Apa tendangannya tadi tak meleset?" batin Maximus yang melihat wajah Dafa sangat datar.
Maximus lalu berlari ke arah Dafa dan mengeluarkan teknik andalannya yaitu sang tercepat. Ia menyerang Dafa dengan sangat cepat dengan melakukan combo pukulan dan tendangan. Namun semua itu mampu dihindari oleh Dafa dan tiba-tiba mata Dafa menjadi berwarna biru.
"Hah! Aku dimana?" ucap Dafa yang melihat dirinya tiba-tiba berada di ruangan yang sangat gelap.
[Tuan, anda insting bertahan hidup anda sangatlah kuat. Jadi mode blue eye mencoba melindungi anda dari ancaman dan bahaya. ]
"Mode blue eye, apa itu?" tanya Dafa yang penasaran.
[Mode blue eye adalah mode yang dimana tubuh tuan akan dikendalikan oleh insting tuan. Namun itu juga dibantu dengan sistem agar tubuh tuan tak mengalami cedera.]
"Apakah ketika mode blue eye aktif, aku akan selalu berada di ruangan gelap seperti ini?" tanya Dafa.
[Tidak, tuan bisa mengendalikan mode blue eye dengan cara tuan mampu mengembangkan bela diri tuan dan memperbanyak kemampuan bela diri tuan.]
Dafa mulai berpikir jika ia hanya menguasai beberapa bela diri saja. Dan itu juga hanya teknik dasar dari masing-masing bela diri yang dikuasai Dafa kecuali, Taekwondo.
"Baiklah, mulai saat ini aku akan mengembangkan kemampuan ku!" ucap Dafa yang semangat.
"Ta–tapi, sampai kapan aku berada disini?" tanya Dafa lalu duduk dengan manis.
__ADS_1
[Sampai insting bertahan hidup tuan mulai memudar ಠ_ಠ ]
...#### Solo Fighter ####...