
Episode 29 - Dafa Setyawan (Bagian 1)
Kembali ke masa lalu, lebih tepatnya di tahun 2017. Terlihat seorang anak laki-laki sedang bermain di lapangan bersama adiknya perempuan dan ayahnya. Mereka selalu tersenyum bahagia seiring mereka bermain.
Tak lama kemudian, datang seorang wanita mungkin berumur 36 tahun membawa sebuah rantang berisi nasi dan lauk untuk mereka makan. Ayah yang membimbing anak-anaknya bermain kemudian mengajak anak-anaknya untuk makan terlebih dahulu.
Mereka adalah keluarganya Dafa, lebih tepatnya keluarga Kurniawan. Ayah Dafa bernama Iskandar Adi Kurniawan, ia adalah seorang agen mata-mata yang sedang mengambil cuti untuk bisa bersama keluarganya.
Dafa, Angelina dan Ibunya tak pernah diberitahu oleh ayahnya kalau ia adalah seorang mata-mata. Ia selalu membohongi mereka jika ia adalah seorang karyawan kantor yang ditugaskan untuk bekerja di luar negeri.
Ibu Dafa tak merasa curiga sedikitpun dengan suaminya, karena memang sifat suaminya itu adalah seorang yang menepati perkataannya. Itulah mengapa Ibunya Dafa tak sering memikirkan hal-hal aneh pada suaminya itu.
"Ayah!" panggil Dafa. Disini Dafa lebih terlihat imut, memiliki pipi yang bulat, badan yang gemuk, dan penampilan yang bersih. Berbeda jauh dengan penampilannya yang sekarang, meski sudah ada beberapa perubahan sih.
Ayahnya Dafa lalu menoleh ke arah Dafa sambil menyuapkan nasi ke mulutnya sendiri. "Kenapa nak?" tanya Ayahnya yang mendengar panggilan dari Dafa.
"Kapan Ayah kembali ke luar negeri? Soalnya aku mau ikut!" ucap Dafa yang masih polos.
"Uhuk!"
Ayahnya Dafa tersedak mendengar ucapan dari anaknya itu. Sinta atau Ibunya Dafa memberikan sebotol air minum ke sang ayah. Sang ayah lalu meminum air tersebut untuk meredakan tenggorokannya.
"Dafa … makan dulu sampai selesai, baru boleh mengobrol," ucap Ibunya Dafa.
Dafa hanya menganggukkan kepala lalu segera menghabiskan nasi serta lauknya. Lalu ia mencuci tangannya yang tak jauh dari mereka dan kembali lagi ke keluarganya.
Setelah semuanya telah selesai makan dan membersihkan tangannya masing-masing. Mereka semua duduk bersantai sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang sangat tenang dan pohon rindang yang menjadi teduhan bagi mereka.
"Dafa, katanya kamu di sekolah sering dapat juara pertama ya. Apa ayah cuma salah denger aja?" tanya Ayah.
__ADS_1
Dafa menoleh ke arah ayahnya dengan raut wajah cemberut. "Ayah menghinaku ya? Aku aja nggak pernah dapat ranking satu," ucap Dafa dengan nada pelan.
"Kakak kan dulu pernah ranking satu," sambung Angelina.
"Kapan?" tanya Dafa.
"Kemarin tuh, ranking satu dari belakang," jawab Angelina.
"Hmph …." Ayah dan Ibu Dafa menahan tawanya agar tak membuat Dafa berkecil hati.
"Dasar Angelina … kakakmu jadi ngambek tuh," ucap sang Ayah.
Dafa kemudian menghadap ke Angelina lalu mencubit pipinya. "Kamu tuh, mentang-mentang selalu juara. Kakakmu direndahin terus ya, awas aja kalo aku juara satu," ucap Dafa lalu melipat kedua tangannya.
"Hahaha … ada-ada aja anak-anakku ini," ucap Ayahnya "Oh iya, Dafa mau ikut ayah nggak nanti malam?" ajak Ayahnya ke Dafa.
"Katanya mau ikut ke tempat ayah kerja," jawab Sang Ayah lalu meneguk sebotol air minum.
"Baik Yah. Aku mau bantu bantu Ayah kerja," ucap Dafa dengan gigih.
"Yaudah, kalau gitu kita beres-beres dulu yuk," potong Ibunya Dafa yang dari tadi mendengar percakapan mereka.
"Siap!" sahut Dafa dan Angelina dengan bersamaan.
...~~...
Waktu pun berlalu dengan sangat cepat. Di malam hari, Dafa dan Ayahnya pergi ke suatu tempat menggunakan mobil berwarna putih. Mereka berhenti di sebuah tempat proyek kontruksi yang masih belum terselesaikan, mungkin juga sudah terlantarkan karena si pemilik tak memiliki dana untuk melanjutkan proyek tersebut.
Dafa yang merasakan ada yang sesuatu yang berbahaya di dalam proyek tersebut meminta ayahnya untuk pulang.
__ADS_1
"Ayah, aku ingin kembali pulang. Kayaknya ada orang jahat disana," ucap Dafa yang merinding.
Sang Ayah menatap wajah Dafa yang ketakutan. Lalu ia memberikan permen coklat dan memutar balikkan mobilnya.
"Sebenarnya Ayah mau mengecek tempat itu. Tapi karena kamu takut dan kayaknya tempat itu telalu bahaya bagi kamu, Ayah jadi merasa bersalah bawa kamu kesini," ucap Ayahnya dengan rasa penyesalan.
"Eh … nggak kok Yah. Aku cuma takut aja sama tempat itu, gelap, sepi, nggak ada orang yang lalu lalang di jalan itu. Jadinya aku merinding deh," ucap Dafa lalu mengekspresikan wajahnya dengan tersenyum.
"Yaudah, Ayah antar kamu pulang dulu ya. Soalnya kerja Ayah itu mengecek tempat-tempat yang kosong seperti tadi," sahut Ayah.
"Baik Yah!" sahut Dafa.
Ayah Dafa melajukan mobilnya untuk segera mengantarkan Dafa pulang ke rumah. Namun hal yang tak diingatkan terjadi. Sebuah truk besar yang bermuatan tiba-tiba menabrak mobil mereka dengan sangat keras hingga menyebabkan mobil mereka terbalik dan meledak.
Untung saja, Dafa segera diselamatkan oleh Ayahnya dengan cara melompat keluar sebelum truk itu menabrak mereka. Karena sebelumnya Ayah Dafa sudah mengantisipasi keadaan sekitar dan selalu waspada dengan bahaya yang akan datang. Itulah mengapa Ayah Dafa bisa menyelamatkan dirinya dan anaknya tepat waktu sebelum keadaan yang tak diinginkan terjadi.
Namun dibalik keselamatan mereka, ada sisi buruknya juga. Dafa mengalami pendarahan akibat terkena serpihan pecahan kaca mobil dari ledakan yang terjadi barusan. Dan mereka dikepung oleh beberapa preman yang mungkin berurusan dengan Ayah Dafa.
Antara ia ingin segera membawa Dafa ke rumah sakit atau melawan para preman tersebut, ia masih mengambil keputusan sebelum memilih salah satunya. Karena jika ia mengambil keputusan yang salah, pasti akan ada sesuatu yang tidak diinginkan selanjutnya akan menimpa mereka lagi.
"Sepertinya aku harus memakai plan C," gumam Ayah Dafa lalu mengeluarkan sebuah Handie Talkie lalu berkata, "Misi dimulai."
Tiba-tiba ada dua mobil dan lima sepeda motor datang menghampiri Ayah Dafa dari beberapa arah yang berbeda. Mereka adalah tim yang dibentuk oleh Ayah Dafa sebagai bala bantuan dengan codename, Wind. Karena kedatangan mereka layaknya seperti angin yang menghembus kencang dan tak terlihat dengan orang.
Mereka lalu turun dari kendaraan mereka masing-masing dan jumlah total dari mereka semua adalah tujuh belas orang. Ayah Dafa meminjam mobil dari mereka untuk mengantarkan Dafa ke rumah sakit. Lalu mereka tim dari Ayah Dafa menyerang para preman dengan sangat sadis tanpa memberikan rasa ampun sedikitpun.
Ayah Dafa sedikit mengkhawatirkan keadaan Dafa dan segera melajukan mobilnya untuk segera sampai ke rumah sakit.
...#### Solo Fighter ####...
__ADS_1