
Episode 25 - SMP 32 (Bagian 2)
Saat berjalan kembali ke kelas, Dafa dibuat gelisah karena memikirkan nasib anak yang bernama Rifki di kelas tadi. Hanya dengan sebuah pukulan yang berjarak satu inchi, Rifki dibuat terpental hingga muntah darah.
"Ah … sial, sial, sial, sial!" ucap Dafa yang kesal. "Kenapa harus memikirkan hal yang tidak perlu dipikirkan sih," gumamnya sambil menjambak rambutnya.
Saat berada dalam situasi rasa kesal. Tiba-tiba Dimas datang menghampiri Dafa dengan berlari. Saat sudah dekat dengan Dafa, ia berjalan di samping Dafa dan mengikuti Dafa hingga ke kelas.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau terus mengikutiku?" tanya Dafa, ia tak memandang ke arah Dimas melainkan ke arah depan.
"Eee … nggak ada apa-apa. Cuma pingin punya teman aja," jawab Dimas santai.
"Kau bukan berandalan yang menyamar jadi anak culun, kan?" tanya Dafa.
"Ah … tidak, beneran anak biasa kok. Lagian kalo aku berandalan, pasti pas di sana mereka nyapa aku," ujar Dimas.
"Hmm … ada benernya juga," batin Dafa. "Tapi aku harus jaga jarak dengan anak ini. Siapa tau dia ada niat jahat," batinnya lagi.
Sesampainya mereka di kelas, Dafa melirik lagi ke arah anak yang akan ia lindungi. Tapi dari tadi ia tak melihat jika anak itu diganggu dengan para preman sekolah. Dafa sedikit lega karena pekerjaannya agak diringankan, meski hanya sebentar. Tapi karena masih ada rasa penasaran, ia bertanya kepada Dimas.
"Dimas, apa kau tau tentang anak itu?" tanya Dafa sambil menunjuk ke arah anak yang akan ia lindungi.
"Ah itu, sebaiknya jangan berteman dengannya," jawab Dimas dengan wajah yang terkesan serius.
"Kenapa emangnya?" tanya Dafa yang dibuat semakin penasaran.
"Itu karena dia dompet berjalannya pentolan kelas 9. Kalau kau sampai berteman atau mendekati sedikit anak itu, kau bakal dihajar tanpa ampun dengan …." Belum selesai bicara, Dafa berjalan mendekati anak yang akan ia lindungi.
"Eh, Dafa! Nggak gitu juga," teriak Dimas. "Ah sudahlah, semoga kamu mendapat keberuntungan," gumam Dimas yang mengkhawatirkan Dafa.
Dafa yang sudah berdiri di hadapan anak yang akan dilindungi, ia lalu mengulurkan tangan untuk berkenalan dengannya.
"Hai, namaku Dafa," ucap Dafa.
Anak itu tak meraih tangan Dafa dan justru memalingkan pandangannya.
"Kamu tak ingin berteman, ya. Padahal dari tadi aku lihat kamu hanya sendirian," ungkap Dafa.
"Pergilah, pergilah sebelum orang itu datang," jawab anak itu dengan perasaan yang gelisah.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Dafa.
Tak lama kemudian, Dafa merasakan ada seseorang yang berdiri di belakangnya. Hawanya sangat panas, bisa diperkirakan jika orang yang di belakang Dafa memiliki tubuh yang besar.
Dafa merubah posisi berdirinya dengan berbalik menghadap ke seseorang yang berdiri di belakangnya.
"Tamat deh," gumam Dimas yang melihat pentolan kelas 9.
Ketika Dafa memutar badannya, ia melihat anak dengan bet kelas 9 sedang berdiri di belakang Dafa dengan tatapan wajah yang tidak senang. Dafa lalu membalas wajah yang tidak senangnya itu dengan tersenyum.
"Anu, ada apa ya?" tanya Dafa yang bingung dengan suasana kelas menjadi sunyi.
Terdengar bisikan-bisikan anak-anak kelas Dafa yang membicarakan Dafa dan seorang yang berdiri di hadapan Dafa.
"Aduh, dia anak pindahan udah bikin masalah aja."
"Yah, mau bagaimana lagi. Udah takdirnya."
"Habis sudah anak itu."
"Siapa pun, tolong anak pindahan itu."
"Bakalan seru nih. Kayaknya bakal terjadi perkelahian."
"Anak baru itu kayak gak punya rasa takut."
Dafa dan anak itu berhadapan langsung dengan tatapan tajam. Tiba-tiba Dimas datang untuk meleraikan pertarungan.
"Anu, maaf. Dia ini anak pindahan yang baru datang hari ini. Dia nggak tau peraturannya, jadi mohon untuk …." Belum selesai bicara, wajahnya dihantam dengan pukulan dari anak yang sedang berdiri di hadapan Dafa.
Dimas terpental sejauh dua meter dan terbaring di lantai.
"Dimas lagi, Dimas lagi. Dia itu anak gila atau gimana sih, setiap ada anak pindahan pasti dia datang mendekatinya." Bisik seorang anak.
Dafa yang melihat Dimas terpental dan dibuat tak berdaya dengan pukulan anak yang di hadapannya. Dafa malah tertawa ngakak karena Dimas masih bisa memberikan kode jika anak yang di hadapan Dafa adalah pentolan kelas 9.
"Baiklah kalau begitu. Apa kau yakin ingin berkelahi denganku?" tanya Dafa ke anak yang dianggap pentolan kelas 9.
"Kau nyari mati ya!" bentaknya lalu melayangkan pukulan ke arah Dafa.
Dengan santainya, Dafa menangkis serangan itu sambil melakukan weaving lalu menarik tangan lawannya dan membanting ke lantai.
__ADS_1
Pada dasarnya teknik Hapkido itu tak bisa dipakai untuk lawan dengan tubuh yang lebih besar darinya. Itulah mengapa bantingan Dafa gagal dan malah ia membuat suasana kelas semakin mencengkam.
"Ah sial, seharusnya aku hanya perlu menjaga jarak dan langsung menendangnya," ucap Dafa. "Sistem, apa aku akan dalam bahaya?" batin Dafa yang bertanya kepada sistem.
[ Jika tuan melepaskannya dan segera menghindar. Kemungkinan besar anda dapat selamat dari serangan balasan lawan tuan. ]
[ Ngomong-ngomong tuan, namaku kan Martis, bukan Sistem. ʕ´•ᴥ•`ʔ ]
"Ah iya juga, aku lupa. Tapi kenapa kau bisa pakai emot gitu?" batin Dafa.
[ Karena level tuan sudah meningkat dan ada tambahan fitur emot sistem. ᕦ( ͡° ͜ʖ ͡°)ᕤ ]
"Terserah lah."
Dafa lalu melepaskan genggamannya lalu segera menjauh dari lawannya. Dafa memasang posisi bertarung dan menggunakan teknik bela diri Taekwondo untuk melawan lawannya.
"Sistem, eh, Martis. Bisakah kau menganalisa bela dirinya?" tanya Dafa.
[ Sebentar tuan. ]
[ Menganalisis Lawan. ]
[ Lawan tak memiliki kemampuan bela diri. ]
"Jadi dia hanya memakai kekuatan saja, ya. Baiklah kalau begitu," ucap Dafa.
Anak yang sedang menjadi lawan Dafa saat ini sedang berjalan menuju Dafa. Ia tiba-tiba berlari kencang dan melayangkan pukulan tepat ke wajah Dafa. Nyaris saja kena, jika terlambat sedikit saja, Dafa mungkin akan terpental seperti Dimas.
"Hei, kekuatan mu memang aku akui. Tapi kecepatan mu masih belum mampu menghadapi ku," ucap Dafa lalu melakukan tendangan memutar dengan arah serangan yang menuju ke leher lawannya.
Anak yang terkena serangan dari Dafa langsung terkapar di lantai. Rasa sakit di lehernya semakin terasa. Ia menyerah berhadapan dengan Dafa. Ia mengaku kalah, namun ada perasaan yang janggal terhadap Dafa. Seperti ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
"Aku bukan pentolannya. Aku anggotanya yang disuruh membawa anak itu," ucapnya sembari menunjuk ke arah anak yang akan dilindungi Dafa.
"Heh, gimana-gimana?" tanya Dafa yang dibuat bingung.
Anak itu lalu pingsan karena tak kuasa menahan rasa sakit. Seisi kelas Dafa dibuat tak percaya jika Dafa sebagai anak pindahan mampu mengalahkan anggota pentolan kelas 9. Sebenarnya tak ada siapapun yang mampu mengalahkan anggotanya dari kelas manapun. Dan juga kelas 9 angkatan sekarang juga pernah melawan sekolah lain dan mengambil wilayahnya.
Bisa dibilang Dafa adalah orang pertama yang mampu mengalahkan anggota dari kelas 9 angkatan sekarang. Tapi itu hanya satu anggota, karena masih ada puluhan anggota lagi yang akan datang menghadapi Dafa.
Tentu saja, setelah kejadian yang Dafa alami. Ia membulatkan tekad untuk benar-benar menghabisi para berandalan di sekolah ini.
__ADS_1
...#### Solo Fighter ###...