
Episode 27 - Menolong Seseorang
Terlihat Dafa sedang mengejar kelima anak yang mengejar seseorang yang diduga anak kelas 7 yang bernama Rifki. Sebenarnya Dafa tak tahu alasannya kenapa ia mengejar mereka. Tapi pikirannya selalu dibisiki untuk menolong anak tersebut. Mau tidak mau, Dafa harus mengikuti kelima anak untuk mengetahui hal apa yang akan terjadi nantinya.
Dafa yang ketinggalan jauh meminta tolong kepada sistem untuk mencari jalan alternatif lainnya.
"Sistem, bisakah kau mencari jalan pintas untuk langsung menyusul mereka?" tanya Dafa kepada Sistem.
Sistem melakukan loading kemudian memberikan layar berupa denah jalanan sekitar. Dafa mengamati satu persatu jalan dan langsung mengambil jalan gang kecil untuk menyusul mereka.
Selang beberapa menit, Dafa sampai di hadapan anak kelas 7 yang ternyata benar, ia adalah Rifki. Dafa menyuruh Rifki untuk segera berhenti dengan isyarat tangan yang menghadang.
Namun Rifki tak menghiraukan hal tersebut, justru Rifki menerobos hadangan Dafa. Dafa yang kesal langsung menarik lengan Rifki dan berusaha menjatuhkannya.
Rifki terbaring ke tanah kemudian melihat tatapan Dafa yang sangat menakutkan, seperti ingin menghabisinya.
"Maafkan saya, saya cuma ingin menghindari dari kejaran mereka!" seru Rifki yang berusaha melepaskan genggaman Dafa.
Dafa melirik ke arah belakang dan melihat kelima anak yang mengejar Rifki semakin mendekat. Dafa membantu Rifki berdiri namun tetap diam ditempat, karena Dafa hanya ingin mengetahui permasalahannya.
Kelima anak itu berhenti berlari dan berdiri dengan jarak sejauh lima meter dari Dafa. Mereka lalu saling berbisik ketika melihat Dafa yang menangkap Rifki.
"Eh … dia anak sekolah kita, tapi kelas berapa ya," ucap Rian.
"Lu gak liat apa? Jelas-jelas kelas 9 di bajunya," jawab Rendi.
"Ah iya … gak liat tadi," lanjut Rian.
"Yaudah yuk, kita pulang aja. Bisa mati kan kalo berurusan dengan anak kelas 9," tukas Ari.
__ADS_1
"Ngapain pulang, kita lawan aja. Dia juga cuma sendirian, kita ini berlima lho. Lagian tampilannya juga bukan kayak anggota Harimau Putih dari kelas 9," ucap Danu.
"Ada benernya juga. Mending kita keroyok dia barengan dengan bocah satu itu," ujar Zidan.
"Yaudah, siapa yang mau maju duluan?" tanya Danu ke mereka berempat.
Rian dan Rendi lalu maju ke arah Dafa sembari membunyikan kepala dan jari jemarinya. Dafa yang melihatnya mengangkat alis kanannya merasa heran dan memasang posisi bertarung.
"Mohon bantuannya," ucap Rifki yang ketakutan.
Dafa melirik ke Rifki sambil sedikit tersenyum. "Lihatlah cara aku mengalahkan mereka semua," pinta Dafa ke Rifki.
Rifki menganggukkan kepala lalu berdiri di belakang Dafa. Kemudian datang Dimas dengan nafas yang terengah-engah akibat mencari Dafa yang hilang entah kemana.
"Akhirnya, ketemu juga," kata Dimas lalu tergeletak di jalanan.
Rian dan Rendi melancarkan serangan mereka, mulai dari pukulan dan tendangan. Sebenarnya Dafa mampu menghindari serangan mereka, bahkan mampu melihat arah serangannya. Namun Dafa lebih memilih untuk merasakan sakit dari serangan mereka, namun hasilnya sia-sia. Tak ada sedikit rasa sakit dari pukulan mereka. Ternyata stat dari sistem mempengaruhi tubuhnya.
Rian terpental jauh dari hadapan Dafa dan seketika langsung pingsan. Dafa lalu menatap Rendi dengan tatapan tajam dengan tangan yang menggenggam.
Rendi yang merasakan hawa membunuh dari Dafa langsung merasa ngeri, ia seketika merunduk lalu berjalan mundur secara perlahan ke teman-temannya.
"Woi! Kenapa mundur? Serang!" teriak Danu yang kesal melihat Rendi yang takut melihat Dafa.
Lamunan Rendi menghilang dan tanpa banyak pikir, ia berlari ke arah Dafa dengan perasaan takut tapi juga ada perasaan untuk menunjukkan dirinya jika ia pantas menjadi seorang terkuat di kelas 8.
"Pukulan, pakai tangan apa dia?" gumam Rendi yang sedang membaca serangan Dafa.
Belum sempat terbaca, Dafa menginjak kaki kanan Rendi hingga jatuh tersungkur lalu melepaskan serangan tepat ke hidungnya.
"Argghhh!!!"
__ADS_1
Terdengar erangan kesakitan dari Rendi yang sangat amat keras. Danu, Ari dan Zidan yang melihatnya langsung mengambil tindakan untuk menyerang Dafa secara bersamaan ketika Dafa sedang lengah.
Tentu hal itu tak semudah yang mereka pikirkan. Dafa yang dapat merestorasi staminanya hanya tersenyum ketika melihat mereka bertiga menyerangnya dari belakang.
Dafa menundukkan badannya lalu menendang ke arah belakang dan mengenai wajah Zidan, namun dapat ditangkis olehnya.
"Cukup mengagumkan," ungkap Dafa.
Danu yang melihat Dafa menyerang Zidan, ia lalu mengarahkan serangan ke wajah Dafa dengan tangan kanannya. Begitu juga dengan Ari yang menggunakan tumit kakinya mengarah ke kepala bagian belakang Dafa.
"Sebenarnya aku sudah memperhitungkan semua ini," gumam Dafa. Ia lalu melompat ke depan dengan lompatan harimau kemudian berdiri dengan tegap menghadap ke mereka bertiga.
"Ternyata kalian lebih tangguh dari mereka berdua," ucap Dafa meremehkan Rian dan Rendi.
Danu yang mendengarnya malah terkekeh disambung dengan Ari dan Zidan. Dafa yang melihatnya merasa kesal tapi kekesalan itu masih bisa ditahan dengannya.
"Kenapa kalian tertawa?" tanya Dafa.
"Ti–tidak ada apa-apa. Hanya saja kamu salah perhitungan," ucap Danu.
"Salah perhitungan bagaimana?" tanya Dafa kebingungan.
Tiba-tiba Dimas berteriak memberitahu hal berbahaya yang akan datang ke arah Dafa.
"Dafa! Di belakangmu!" teriak Dimas di belakang Dafa dari jarak 10 meter.
Ketika Dafa menoleh ke belakang, sebuah pukulan melayang ke wajah Dafa dengan sangat keras. Ternyata Rian telah siuman dari pingsannya. Begitu juga dengan Rendi yang mulai kembali ke dalam pertarungan.
Dari hidung Dafa keluar cairan berwarna merah, Dafa mengusap hidungnya sembari tersenyum.
"Akhirnya kalian mulai serius," ucap Dafa.
__ADS_1
...#### Solo Fighter ####...