Sistem : Menjadi Yang Terkuat

Sistem : Menjadi Yang Terkuat
Episode 50 - Solo Fighter


__ADS_3

Episode 50 - Menguasai SMP 32 (Bagian 3)


Sorakan dari para murid menggema di seisi ruangan kelas. Kelas menjadi sangat panas akibat padatnya para murid yang ingin melihat pertarungan antara Dafa dan nomor dua. Anak-anak lain yang awalnya hanya berjalan di koridor sekolah, mereka langsung menuju dan mengerumuni kelas 9C untuk melihat pertarungan tersebut.


Tanpa berselang waktu lama, Jordi mencengkram kerah baju Dafa dan langsung mengangkat ke atas kemudian membanting nya. Tentu saja hal itu membuat Dafa sesak nafas, ia juga tak tahu jika Jordi akan menyerangnya menggunakan bantingan.


Bisa dilihat dengan pasti, jika Jordi adalah seorang atlit Judo profesional. Dilihat dari postur tubuhnya, ia berbadan lebar dan tinggi. Sedangkan Dafa, ia tinggi sepundak Jordi.


Ketika Jordi hendak menendang Dafa menggunakan tumit. Dafa langsung menendang kaki Jordi dan membuat Jordi terpleset terjatuh ke lantai.


Kesempatan itu langsung diambil oleh Dafa untuk berdiri dan langsung menyerang Jordi menggunakan tendangan. Jordi kemudian menepis tendangan dari Dafa menggunakan sebuah tas yang tak jauh dari tempat ia terjatuh.


Karena tendangan Dafa ditepis oleh Jordi, Dafa langsung menarik kakinya dan menjaga jarak dari Jordi beberapa langkah.


"Nampaknya dia cukup tangguh. Menurutmu, bagaimana sistem?" gumam Dafa sembari mengusap dahi akibat keringat.


[Dia bukan lawan yang mudah dikalahkan. Setelah diamati berkali-kali, dia cukup kuat dibandingkan dengan tuan. Saya punya cara untuk membuat seorang atlit Judo kewalahan menghadapi musuhnya.]


"Apa itu?" tanya Dafa ke Sistem.


[Jangan biarkan ia mendapatkan bagian tubuh tuan. Jika bisa, tuan dapat melepaskan seragam tuan agar tak dapat ditarik olehnya.]


"Baiklah!" ucap Dafa, ia lalu melepaskan seragamnya dan berdiri tanpa menggunakan pakaian atas.

__ADS_1


Semua murid sontak terkejut ketika melihat tubuh Dafa yang sangat berisi dan padat. Terlihat juga otot perut serta dada yang terbentuk sempurna. Di bagian lengan tak cukup besar, namun mampu membuat gradasi antara lengan dan dada. Itu semua berkat ia sering berolahraga ekstrim dan melampaui batas olahraga yang diberikan oleh Sistem.


"Wah! Aku gak nyangka kalau tubuhnya seperti itu. Padahal dari luar nampak biasa aja, tapi pas dibuka seperti itu rupanya," ucap lirih Dimas yang baru pertama kali melihat tubuh Dafa.


Dafa memasang kuda-kuda Taekwondo dengan kaki yang bersiap untuk melakukan tendangan berputar. Jordi mulai berdiri dan juga bersiap untuk menyerang Dafa. Mereka berdua langsung menyerang dan membalas serangan.


Dafa dan Jordi saling jual beli pukulan dan tendangan. Yang awalnya Dafa ingin memakai tendangan putar agar dapat menyerang Jordi dalam sekali serangan. Ia terpaksa untuk mengulur waktu, karena Jordi sangat lincah dalam hal menghindar.


Jika Dafa salah dalam menempatkan posisi pertarungan. Mungkin ia sudah kalah telak, karena Jordi selalu menyerang Dafa melalui titik buta yang tak bisa dihindari oleh Dafa.


"Hei! Kau ternyata hebat juga dalam hal bertarung," ucap Jordi yang terlihat lelah akibat bertarung terus-terusan dengan Dafa.


"Kau juga sangat lincah dalam menghindari serangan ku," balas Dafa yang menjaga jarak dari Jordi.


Dafa menatap curiga ke Jordi. "Jika aku tak mau bagaimana?" tanya Dafa.


"Aku penasaran, kenapa kau tak merasa kelelahan sekalipun. Apa kau memakai doping?" tanya balik Jordi.


Semua murid yang mendengarnya langsung mengarahkan pandangannya ke Dafa. Sorotan mata dari para murid membuat Dafa jadi tak fokus dan kehilangan kepercayaan diri.


"Aku tak pernah memakai hal yang begituan. Karena aku selalu menjaga stamina agar tak mudah lelah seperti dirimu. Dan satu lagi, aku bukanlah perokok."


Jawaban dari Dafa membuat para murid langsung memalingkan pandangan ke arah Jordi. Jawaban dari Dafa sangat logis dan terbukti fakta jika Dafa tak pernah merokok sedikitpun. Bahkan seseorang yang baru mengenal Dafa akan tahu jika Dafa bukanlah seorang perokok. Karena dilihat dari wajahnya yang masih mulus dan bibirnya yang tak hitam serta nafasnya yang tak terengah-engah.

__ADS_1


"Aku ingin memberimu satu hal. Aku ini adalah ketua dari Yin dan Yang," ucap Dafa lalu melompat kemudian memutar badannya dan melakukan tendangan ke leher Jordi.


Bugh!!!


Murid yang menonton dibuat tercengang oleh aksi Dafa. Tendangan itu sangatlah cepat dan mampu menjatuhkan Jordi dalam sekali serangan.


"Oh yeah, sekali serangan!" teriak Dimas. "Kalian lihat kan, Dafa resmi menjadi nomor dua di sekolah ini," lanjut Dimas kemudian ia menghampiri Dafa dan memberikan seragamnya.


"Sekarang kita kembali ke kelas dan melanjutkan pelajaran. Kelas sudah dimulai dari tadi," ajak Dimas.


"Tidak, aku harus mengalahkan nomor satu sekarang juga. Atau aku akan gagal selamanya," sahut Dafa sembari mengenakan seragamnya.


"Kau ingin melawannya sekarang juga?" tanya Dimas.


"Yups, supaya aku bisa tenang mengajarimu bertarung," jawab Dafa lalu mengelus rambut Dimas.


"Ayo, kita pergi ke nomor satu!" ajak Dafa yang bersemangat.


"Tapi apa kau belum tau jika nomor satu sudah menjadi alumni," kata Dimas lalu Dafa menghentikan langkahnya.


Dafa teringat jika Reno pernah berkata jika sang nomor satu adalah seorang alumni. Meskipun ia alumni, ia tak pernah memberikan jabatan nomor satunya kepada sang penerus. Itulah mengapa Jordi menjadi nomor dua dan tetap menjadi nomor dua, namun semua murid di sekolah menganggap ia adalah nomor satu.


"Huft, benar-benar menyusahkan," gumam Dafa. "Yaudah, kita kembali ke kelas," lanjut Dafa lalu berjalan bersama Dimas menuju ke kelas.

__ADS_1


...#### Solo Fighter ####...


__ADS_2