Sistem : Menjadi Yang Terkuat

Sistem : Menjadi Yang Terkuat
Episode 51 - Solo Fighter


__ADS_3

Episode 51 - Menguasai SMP 32 (Bagian 4)


Di sebuah tempat yang terlihat sangat kumuh dan banyak barang rongsokan. Terlihat beberapa orang sedang memukuli anak remaja hingga pingsan. Beberapa orang yang memukuli anak remaja tersebut pergi meninggalkan tempat itu.


Tiba-tiba tempat tersebut terbakar dan meledak setelah mereka keluar dari sana. Anak remaja yang berada di dalam juga ikut terbakar, tubuhnya tertindih dengan beberapa barang yang berjatuhan dan mengakibatkan ia terhimpit dan tak bisa keluar.


Keesokan harinya, berita tentang kebakaran sebuah gudang tua mulai tersebar di berita. Kebakaran gudang tua tersebut memakan satu korban. Identitasnya belum diketahui, yang pasti ia berstatus pelajar dan diperkirakan masih berumur 16 tahun.


...~...


"Dimas, kau ternyata memiliki bakat bertarung, namun tak pernah diasah. Aku mau pulang dulu, capek banget habis ngajarin kamu," ucap Dafa, ia berjalan ke arah tong sampah untuk membuang botol air mineral lalu berjalan pulang ke rumah.


"Apa aku sudah boleh menghajar mereka?" tanya Dimas lalu berlari menjemput Dafa.


"Entahlah, aku juga belum tau lawanmu itu bagaimana," jawab Dafa.


"Besok kau ajari aku lagi ya," pinta Dimas.


"Kalau ada waktu," balas Dafa.


"Thanks Dafa." Dimas pun berpisah dengan Dafa. Dimas melambaikan tangannya dan dibalas dengan Dafa.


"Huft! Makan apa ya hari ini?" gumam Dafa sembari memikirkan makanan yang enak.


Tiba-tiba sebuah mobil van putih melaju dengan cepat di sisi kanan Dafa dan hampir menabraknya. Dafa dengan sigap langsung melompat menghindar ke sisi kiri agar tak terserempet oleh mobil tersebut.


"Gila! Ada-ada aja. Untung gak ketabrak," batin Dafa.


Dafa menatap mobil van tersebut seperti ada sesuatu yang aneh. Ada seorang anak remaja yang berusaha untuk meminta tolong melalui jendela mobil. Namun karena kaca mobil itu terlalu gelap, orang yang berada di luar takkan bisa melihat keadaan di dalam mobil tersebut.

__ADS_1


Karena Dafa memiliki penglihatan yang tajam serta dapat fokus di keadaan apapun, ia dapat melihat keadaan di dalam mobil tersebut meski hanya sekilas.


"Apa aku salah lihat," ucap Dafa.


"Ah, sudahlah!" lanjutnya lalu kembali berjalan.


...~...


Keesokan harinya, di sekolah. Semua murid menundukkan kepala ketika Dafa berjalan di hadapan mereka. Karena Dafa adalah pemimpin baru di SMP 32 setelah nomor satu.


Dimas yang dulunya menjadi siswa rendahan, sekarang juga ikut disegani. Tak seperti siswa rendahan lainnya yang ketika mereka berada di tingkat yang sama dengan pemimpin anak nakal di sekolah, mereka akan menyombongkan diri. Namun sebaliknya, Dimas justru semakin merendah diri ketika disegani dengan murid di sekolah. Dengan semakin ia merendahkan dirinya, ia juga semakin disegani dengan murid-murid.


Dafa juga mulai memiliki banyak pengikut dari kalangan anak nakal. Tak banyak dari mereka yang pintar berkelahi, namun Dafa membiarkan mereka terlebih dahulu untuk dapat mengikuti Dafa. Karena Dafa memiliki alasan tertentu untuk membiarkan mereka.


Geng Harimau Putih yang menjadi musuh Yin dan Yang semakin geram ketika Dafa mampu menjadi nomor dua di sekolah SMP 32. Karena dari mereka tak ada yang pernah berhasil mengalahkan Jordi meskipun bersamaan.


"Setelah istirahat kumpulkan seluruh murid di lapangan," ucap lirih Dafa ke Jordi.


Dafa tersenyum dan menganggukkan kepala. Ia lalu masuk ke dalam kelas dan langsung duduk di bangkunya.


"Dimas, hari ini kita akan ke tempat geng Syndrome. Aku ingin tau kemampuan mereka seperti apa," ucap Dafa me Dimas.


"Hah?! Hari ini!" sahut Dimas yang kaget.


"Yups! Aku juga ingin lihat kemampuan mu sudah sampai mana," ungkap Dafa lalu mengeluarkan isi tasnya.


"Tapi kan, aku baru belajar satu hari," balas Dimas yang ragu.


"Tenang aja, takkan kubiarkan mereka menyentuh dirimu," kata Dafa.

__ADS_1


"Aku ini cowok lho. Aku juga masih waras," sahut Dimas.


"Bukan gitu!" bentak Dafa kemudian memukul Dimas menggunakan buku.


"Aduh!" rintih Dimas. "Mungkin aja kamu belok," ucap Dimas.


"Mau ku tendang sampai ke Mesir?" tawar Dafa.


"Dengan senang hati." Dimas menerima tawaran Dafa.


Dafa berdiri lalu memanaskan badannya. Ia lalu memutar berdiri dengan posisi ingin menendang seseorang. "Sudah siap?" tanya Dafa.


"Tentu saja tidak," jawab Dimas.


Dafa mengambil penghapus di mejanya lalu melemparnya ke arah Dimas.


"Aduh!" rintih Dimas. "Awas aja nanti," gumam Dimas.


"Awas kenapa?" tanya Dafa.


"Awas! Di depanmu ada pak guru," jawab Dimas lalu memalingkan pandangannya.


"Eh!!!" Dafa pun segera duduk ketika melihat guru seni budaya memasuki kelas.


"Ealah, bikin kaget aja," gumam Dafa lalu menatap ke arah luar jendela.


"Kira-kira siapa yang melakukan pembakaran tersebut." Dimas meremas secarik kertas hingga menggumpal.


"Akan ku cari dan ku bunuh dia!"

__ADS_1


...#### Solo Fighter ####...


__ADS_2