Sistem : Menjadi Yang Terkuat

Sistem : Menjadi Yang Terkuat
Episode 49 - Solo Fighter


__ADS_3

Episode 49 - Menguasai SMP 32 (Bagian 2)


"Pergi ke belakang sekolah, mengajak bertarung, mengajak bertarung, mengajak bertarung. Sesimpel inikah untuk jadi nomer satu di sekolah ini?" gumam Dafa yang duduk di kloset untuk buang air besar.


"Tapi kayaknya emang mudah sih. Karena namanya juga menguasai sekolah SMP, bukan menguasai dunia," gumam Dafa lalu menekan menyiram.


Setelah membersihkan dirinya, Dafa mencuci tangan sembari menatap dirinya di cermin.


"Kok aku udah nggak kurus kecil lagi. Tapi juga nggak besar kayak yang waktu itu," gumam Dafa.


"Yaudah lah, setelah istirahat kita akan melakukan misi untuk meruntuhkan sekolah ini, hahahaha …," ucap Dafa.


Seseorang yang ada di dalam toilet ketakutan mendengar Dafa berkata seperti itu dan tak berani keluar sebelum Dafa pergi dari sana.


"Di sekolah ini ada psikopat ya. Mending kemarin aku nggak daftar ke sekolah ini," ucap anak kelas tujuh yang masih berada di dalam toilet.


...~...


Bel istirahat pun berbunyi. Dafa dan Dimas pergi ke belakang sekolah untuk bertemu dengan anak-anak nakal. Tak lupa Dafa membawa beberapa susu kotak untuk diberikannya kepada anak-anak nakal tersebut dan juga kepada Dimas.


Sesampainya mereka di sana, ada tujuh anak kelas 8 dan 9 sedang merokok dan menatap ke arah Dafa dan Dimas. Dafa kemudian menyapa mereka dan melemparkan susu kotak ke mereka masing-masing satu.


"Kalian udah pada kenal aku kan?" tanya Dafa sembari melemparkan susu kotak kepada mereka.


"Dafa, anak pindahan yang ternyata adalah ketua geng paling kecil di wilayah ini," sahut seorang anak dengan rambut rapi dan memakai rompi jas berwarna abu-abu, ia bernama Yogi.


"Kira-kira, kalau aku ingin menjadi penguasa di sekolah ini. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Dafa dan membagikan susu terakhir di orang ketujuh.

__ADS_1


Ketujuh anak nakal itu saling menatap antara satu dan yang lain.


"Biasanya sih, kami bakalan menghajar mereka. Kalau mereka menang, kami akan membawa mereka ke nomor dua," ucap laki-laki yang bernama Reza.


"Tapi karena kamu tau kemampuanmu. Kami akan langsung membawamu ke nomor dua. Lagi pula, Harimau Putih dan Harimau Merah aja bisa kalah denganmu, apalagi kami yang geng kecil-kecilan, pasti bakalan koit," lanjut anak laki-laki disebelah Reza yang bernama Andika.


"Ahaha … ada benarnya juga," sahut Dafa lalu mencengkram pipi Reza. "Cepat antar aku ke nomor dua sebelum aku berubah pikiran," ucap lirih Dafa ke mereka semua dengan wajah layaknya seorang yang kejam.


"Baik!" sahut Andika dan langsung menarik lengan Dafa.


Dafa yang berjalan bersama Andika dan Dimas, terkekeh dengan apa yang ia buat. Di dalam hatinya ia sebenarnya tertawa dengan sikapnya tadi. Padahal ia hanya menggertak dan membuat seakan-akan ia menakutkan. Tapi pada hasilnya, ia berhasil menggertak mereka dan membuat mereka tunduk dengan Dafa.


"Keren banget, asli!" gumam Dafa.


[Siapa dulu dong yang ngajarin. ʕ´•ᴥ•`ʔ ]


[Okay!]


Mereka bertiga berhenti di depan kelas 9C, kelas itu terkenal akan anak nakalnya. Tak hanya nakal, mereka juga pandai bertarung dan sebagian mereka dari geng Harimau Putih.


"Disini tempatnya?" tanya Dimas kepada Andika.


"Yups, orang yang memakai bandana hitam, dia nomor dua. Aku mau bicara ke dia dulu, kalian tunggu disini," ucap Andika, lalu ia masuk ke dalam kelas tersebut dan menemui nomor dua.


Selang beberapa waktu kemudian. Tiba-tiba murid yang berada di dalam kelas tersebut langsung meminggirkan meja dan bangku ke pojokan kelas. Mereka membuat sebuah arena kecil sebagai tempat Dafa dan nomor dua bertarung.


Andika lalu keluar dari kelas untuk menemui Dafa.

__ADS_1


"Ayo!" ajak Andika.


Dafa dan Dimas lalu masuk ke dalam kelas dan dipandangi oleh para murid kelas tersebut.


"Dia mau ngelawan Jordi?"


"Anak mana dia?"


"Aku bertaruh, belum sampai satu menit dia akan tumbang."


"Kayaknya aku pernah ngeliat dia di Facebook."


"Hmm … bukannya dia anak yang jatuhin Harimau Putih."


Saat berjalan memasuki kelas tersebut. Dafa mendengar desas-desus dari beberapa murid. Memang tak bisa dipungkiri lagi jika ia akan terkena gosipan dari mereka. Namun daripada itu semua, Dafa harus meyakinkan diri agar tak berbuat semena-mena dalam pertarungan dan harus menjatuhkan lawan dalam sekali serangan.


"Jordi, ini dia orangnya," kata Andika kepada anak laki-laki yang memakai bandana berwarna hitam. Dia bernama Jordi, sang nomor dua di SMP 32.


"Kau yakin ingin bertarung denganku?" tanya Jordi kepada Dafa sembari menatap Dafa sangat-sangat dekat.


Dafa mundur beberapa darinya dan berkata, "Aku tak punya waktu banyak. Kalau mau sekarang, akan ku selesaikan sekarang juga."


"Kemarin ada anak yang berkata sama seperti itu juga. Tapi hasilnya, ia sama saja seperti anak-anak lain yang ingin bertarung denganku," ucap Jordi dengan sombong.


"Tapi yang kali ini akan sangat beda," balas Dafa lalu mendekati Jordi.


Mereka berdua saling bertatapan dan semua murid langsung membuat lingkaran sebagai ring arena bagi mereka bertarung.

__ADS_1


...#### Solo Fighter ####...


__ADS_2